Titik Temu Pendidikan Farmasi dan Kepuasan Pasien: Menakar Ulang Ukuran Keberhasilan
Pendidikan farmasi perlu mengintegrasikan pengalaman dan ulasan pasien dalam pembelajaran untuk meningkatkan empati, komunikasi apoteker, dan mutu pelayanan
Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus (WHO)
Harianjogja.com, JAKARTA--Badan organisasi kesehatan dunia WHO memperingatkan sejumlah negara yang kini mulai melonggarkan pembatasan sosial.
Di Indonesia, pemerintah mulai melonggarkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dengan mengizinkan beberapa maskapai penerbangan beroperasi. Bahkan, Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo pun mengizinkan mereka yang berusia di bawah 45 tahun untuk keluar rumah.
Meski demikian, kasus COVID-19 di Indonesia nampak belum menunjukkan tanda-tanda pelambatan. Korban yang terkena virus corona ini masih mencapai ratusan setiap harinya, dengan puluhan orang meninggal.
Karenanya, World Health Organization (WHO) memperingatkan beberapa negara yang mulai melonggarkan lockdown dan membuka kembali bisnis dan tempat usaha di tengah pandemi COVID-19, agar bersiap akan terjadi kasus baru virus corona di masa depan.
“Di Wuhan, China kasus pertama telah muncul sejak status lockdown dilepas. Jerman juga melaporkan peningkatan kasus sejak adanya pelonggaran pembatasan,” ujar Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, melansir dari CNBC.
Tedros meminta setiap negara untuk berhati-hati dengan kebijakan pelonggaran pembatasan, alih-alih ingin memulihkan ekonomi dengan cepat. Ia menyarankan kepada setiap negara, agar sebelum mencabut pembatasan sosial, mereka harus mampu mengendalikan epidemi.
Selain itu, setiap negara juga harus bisa memastikan sistem kesehatannya mampu mengatasi potensi penularan kembali. Ditambah, setiap negara memiliki infrastruktur pengujian yang diperlukan untuk melacak serta mengisolasi para penderita COVID-19.
Di sisi lain, Dr Takeshi Kasai, direktur regional WHO untuk Pasifik Barat, mencatat di World Economic Forum (WEF) dan WHO ada perdebatan tentang apakah langkah-langkah yang diambil untuk menghentikan penyebaran virus malah mengorbankan ekonomi?
Pemerintah, perusahaan dan individu harus menemukan cara untuk memungkinkan menahan penyebaran virus, di sisi lain juga harus menjaga agar kegiatan ekonomi bisa berjalan kembali. Menurut Dr Takeshi Kasai, sebelum vaksin COVID-19 ditemukan, maka virus ini akan terus beredar di bagian dunia manapun, dan semua orang tetap berisiko terinfeksi.
"Jadi itu sebabnya saya benar-benar ingin menekankan bahwa inilah saatnya untuk berpikir tentang bagaimana kita hidup dengan virus ini dan menghasilkan hidup normal baru (new normal)," katanya.
Senada, Direktur Kedaruratan WHO, Michael Ryan, mengatakan kemungkinan virus COVID-19 tidak akan pernah hilang dan akan ada dalam waktu lama. "Virus ini kemungkinan hanya menjadi endemi virus pada komunitas kita, dan virus ini kemungkinan tidak akan pernah hilang," ujar Ryan.
Ketika kebanyakan warga dunia mengharap agar virus ini segera menghilang, Ryan mengatakan bahwa dunia perlu mempersiapkan diri dalam pertempuran jangka panjang.
"Saya pikir menjadi penting agar kita realistis dan saya tidak berpikir siapa pun dapat memprediksi kapan penyakit ini akan hilang," katanya.
Kelak, apabila vaksin ditemukan, maka penerapan secara global akan membutuhkan upaya besar-besaran. Tapi, tanpa vaksin, kemungkinan perlu bertahun-tahun bagi manusia untuk membangun tingkat kekebalan yang cukup terhadap virus.
Dia mencontohkan penyakit campak, yang tidak kunjung punah walau terdapat vaksin untuk mencegah manusia tertular dari penyakit tersebut.
Karena itu, Dr Tedros pun kembali memperingatkan, tidak ada jaminan bahwa pelonggaran pembatasan sosial tidak akan memicu gelombang kedua penyebaran COVID-19.
"Banyak negara ingin keluar (dari pandemi) dengan beragam langkah. Namun rekomendasi kami masih berupa peringatan setiap negara harus berada pada tingkat (kewaspadaan) tertinggi," katanya.
Artikel ini telah tayang di Okezone.com dengn judul "New Normal Kita Harus Hidup Bersama Virus COVID-19 Sampai Kapan?".
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Okezone.com
Pendidikan farmasi perlu mengintegrasikan pengalaman dan ulasan pasien dalam pembelajaran untuk meningkatkan empati, komunikasi apoteker, dan mutu pelayanan
SIM Keliling Jogja Jumat 23 Oktober 2026 melayani malam hari di Alun-Alun Kidul. Simak jadwal, lokasi, jam layanan, dan syarat perpanjangan SIM.
Cek jadwal KRL Palur-Jogja Jumat 23 Oktober 2026. Tersedia 12 jadwal keberangkatan dari Palur hingga Stasiun Yogyakarta.
Hardjuno Wiwoho menilai batas risiko bisnis dan korupsi perlu diperjelas agar kepastian hukum terjaga tanpa melemahkan pemberantasan korupsi.
Rencana penghentian ekspor gas perlu diimbangi kesiapan pembeli domestik, infrastruktur penyaluran, dan kepastian harga bagi kontraktor migas.
BMKG menyebut sejumlah daerah di Jawa Tengah masih waspada kekeringan pada akhir Oktober 2026. Purworejo mencatat 172 hari tanpa hujan.