Keberhasilan Korea Kendalikan Covid-19 Digagalkan Klub Malam

Polisi militer Angkatan Darat AS berpatroli di jalan di Itaewon, Seoul, Korea Selatan, pada Sabtu (9/5/2020) malam, ketika gelombang kedua infeksi virus corona berpotensi muncul, terkait dengan aktivitas kelab malam malam. - Bloomberg
12 Mei 2020 23:27 WIB Aprianto Cahyo Nugroho News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Strategi Korea Selatan menekan penyebaran virus Corona di negaranya mengalami hambatan dari sentimen anti-gay yang sudah berlangsung lama di negara itu.

Infeksi yang terkait dengan klub malam ditumukan dalam beberapa hari terakhir. Beberapa klub malam sering dikunjungi oleh pelanggan homoseksua sehingga pejabat kesehatan berusaha melacak lebih dari 5.500 orang yang mengunjungi bar antara 24 April dan 6 Mei.

Namun, pemerintah hanya mampu menjangkau kurang dari setengah jumlah tersebut. Lebih dari setengahnya tetap di luar jangkauan, sedangkan infeksi yang berhubungan dengan klub malam terus meningkat.

Selasa (12/5/2020) pagi, Wali Kota Seoul mengatakan 101 kasus yang dikonfirmasi terkait dengan klaster tersebut, meningkat dari 86 kemarin.

Penyebaran ini merupakan ancaman terbesar bagi keberhasilan Korsel dalam mengekang pandemi Covid-19 melalui pengujian cepat dan luas. Alih-alih memberlakukan pembatasan ketat pada pergerakan masyarakat dan aktivitas bisnis, Korsel mengandalkan program pengujiannya, yang dapat mengidentifkasi orang yang terinfeksi dan mengisolasi mereka sebelum dapat menyebarkan virus kepada orang lain.

Strategi ini bergantung pada kesediaan orang untuk diuji dan memberikan informasi pribadi secara sukarela, dan selama berbulan-bulan, upaya ini berhasil. Dari akhir April hingga wabah terbaru, Seoul melihat jumlah kasus harian baru turun menjadi satu atau dua, dan kadang-kadang nol kasus.

Ada tanda-tanda bahwa infeksi yang terkait dengan klub telah menyebar luas sehingga mungkin lebih sulit untuk dihilangkan. Dari 101 orang yang terinfeksi yang dikonfirmasi sejauh ini, 64 tinggal di Seoul sementara yang lain tinggal di kota terdekat seperti Gyeonggi dan Incheon.

"Sistem karantina Korsel sekarang menghadapi tantangan setelah infeksi di klaster klub Itaewon," ungkap Yoon Tae-ho, direktur jenderal untuk kebijakan kesehatan masyarakat di kementerian kesehatan, seperti dikutip Bloomberg.

Tae-ho mengatakan Korsel menguji 12.000 orang pada hari Senin, naik dari rata-rata harian sekitar 5.000.

Gejolak terbaru telah muncul di antara kelompok homoseksual yang mungkin tidak ingin diidentifikasi karena mereka memiliki perlindungan hukum yang rendah di Korsel.

Menurut jajak pendapat Gallup 2017, sekitar 58 persen warga Korsel menentang pernikahan sesama jenis, termasuk Presiden Moon Jae-in yang menjadikan penentangannya sebagai bagian dari kampanyenya.

Setelah pemerintah Korsel mengungkapkan nama-nama bar yang dikunjungi oleh pasien yang positif terkena virus corona, komentar anti-gay terakumulasi di halaman Facebook King Club yang berbasis di Seoul.

"Ada tingkat diskriminasi dan permusuhan yang cukup besar terhadap homoseksualitas," kata Kwak Hye-weon, seorang profesor di Universitas Daekyeung dan rekan penulis studi tahun 2019 tentang efek homofobia pada sistem kesehatan negara.

"Itu (anti-gay) membuat orang yang mungkin terinfeksi kemungkinan besar tetap tetap diam dan tidak melapor daripada secara sukarela melakukan tes," lanjutnya.

Kwak juga menduga bahwa pengunjung klub melakukan transaksi dengan uang tunai, sehingga sulit untuk melacak mereka melalui transaksi keuangan.

"Minoritas seksual di Korsel berisiko kehilangan keluarga, teman, pekerjaan, karier, dan kehidupan mereka jika terekspos," ungkap seorang aktivis gay, Heezy Yang, di Twitter.

"Ketika tidak ada stigmatisasi dan kebencian terhadap pasien yang juga menjadi korban virus, mereka akan melangkah maju, mau diuji, dan pada akhirnya mencegah penularan lebih lanjut,” lanjutnya.

Sistem pengujian dengan drive-thru dapat membantu. Ahli epidemologi di National Cancer Centre, Ki Moran, mengatakan ketika wabah pecah di Kota Daegu yang terkait dengan klaster sekte keagamaan, pejabat kesehatan mendorong orang-orang khawatir tentang stigma negatif untuk diuji dengan cara itu.

“Saya pikir mereka harus melakukan hal yang sama kali ini untuk menghindari yang terburuk dan membantu pasien diuji tanpa harus terekspos,” katanya.

Pejabat kesehatan telah berjanji mereka tidak akan meminta atau mengungkapkan terlalu banyak informasi pribadi jika orang dari klaster klub malam melakukan pengujian

“Korban tidak perlu mengatakan klub mana yang mereka kunjungi. Katakan saja kamu berada di distrik yang sama dan ingin diuji, gratis," ungkap Yoon, salah seorang petugas kesehatan.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia