Dihantam Corona, Industri Penerbangan Diprediksi Baru Pulih 5 Tahun Lagi

Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Irfan Setiaputra menjadi narasumber diskusi bertema Semangat Baru Garuda di Kementerian BUMN, Jakarta, Jumat (24/1/2020). - Antara
05 Mei 2020 22:27 WIB Anitana Widya Puspa News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - PT Garuda Indonesia Tbk. (GIAA) memproyeksikan pemulihan industri penerbangan yang lesu karena dihantam Covid-19 bergantung seberapa jauh maskapai dapat membaca paradigma perubahan tren dan memberikan penawaran yang menarik.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra memproyeksikan masa pemulihan yang berlangsung selama 1 tahun hingga 5 tahun akan menjadi terlalu lama. Namun, tidak dipungkiri perilaku masyarakat akan banyak berubah terhadap industri aviasi.

Menurutnya masyarakat akan mulai berpikir apakah untuk tetap dapat terbang kembali merupakan hal yang aman atas resiko penularan. Selain itu juga apakah perusahaan penerbangan serius untuk menanggapi soal penularan.

Hal-hal tersebut akan menjadi pertimbangan maskapai pelat merah tersebut untuk  memikirkan kenyamanan, keamanan, dan terobosan bagi masyarakat yang menghendaki penerbangan berbeda dibandingkan dengan sebelumnya.

"Paradigma ini sedang kami pelajari. Kira-kira ke depan apa yang dibutuhkan dan perubahan ke depan pasca Covid-19. Terbang itu soal behavior. Ketika tak bisa mencapaikan situasi itu maka ya 5 tahun mungkin recovery," jelasnya, Selasa (5/5/2020).

Tentunya maskapai dengan jenis layanan penuh ini mengharapkan agar secepatnya pandemi ini dapat berlalu dengan baik. Di sisi lain Garuda memang telah memperhitungkan skenario terburuk yang mungkin terjadi.

"Saya mengajak teman-teman berpikir positif terus, setelah lebaran mudah-mudahan membaik. Kami enggak mau orang terbang dalam kondisi dengan was-was nanti," imbuhnya.

Sejauh ini, kata dia, sepanjang kuartal I/2020, kinerja GIAA memang masih relatif naik-turun. Kinerja pada kuartal pertama sangat dipengaruhi oleh penutupan penghentian sementara penerbangan ke China.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia