Waspada Corona, Rumah Pemudik di Satu Desa di Sragen Dipasangi Stiker Khusus

Kades Bedoro, Sambungmacan, Sragen, Pri Hartono (kiri), bersama Koordinator Sukarelawan Tukiman memasang stiker di rumah salah satu warganya, Minggu (12/4/2020). - JIBI/Solopos/Tri Rahayu
13 April 2020 15:47 WIB Tri Rahayu News Share :

Harianjogja.com, SRAGEN - Pemerintah Desa Bedoro, Kecamatan Sambungmacan, Sragen, menggunakan stiker untuk memudahkan pemantauan para pemudik.

Rumah para perantau yang pulang ke kampung selama wabah Covid-19 dipasangi stiker sebagai tanda bahwa penghuni rumah itu dalam pemantauan terkait waspada Covid-19.

Tak hanya itu, warga Desa Bedoro juga diajak untuk bersama-sama melawan corona dengan membentuk Posko Satgas Pencegahan Covid-19 di Balai Desa.

Posko itu dijaga warga secara sukarela selama 24 jam setiap hari dengan sistem sif. Sukarelawan itu berasal dari kalangan perangkat desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), lembaga desa, dan karangtaruna.

Posko yang juga untuk pemantauan pemudik di Desa Bedoro, Sragen, itu dibentuk sekitar sebulan lalu. Aktivitas posko yang dikoordinasi Kepala Desa (Kades) Bedoro Pri Hartono itu tak monoton.

Seluruh elemen desa dan warganya bersatu dan guyup rukun melawan virus corona dengan inovasi tersendiri. Pri Hartono menginisiasi stikerisasi rumah pemudik itu untuk memudahkan pengawasan selama 14 hari masa karantina.

“Kalau ada PP [pelaku perjalanan] kok keluyuran ke warung pasti diingatkan warga setempat atau tetangganya agar pulang. Warga memiliki komitmen yang sama supaya para PP ini tetap berdiam di rumah selama 14 hari,” ujar Pri saat berbincang dengan JIBI, Minggu (12/4/2020).

Di posko saat itu juga ada Koordinator Sukarelawan Satgas Lawan Covid-19 Desa Bedoro Tukiman.

Pri menjelaskan program pemasangan stiker di rumah pemudik untuk memudahkan pemantauan di Desa Bedoro Sragen dilakukan Satgas Lawan Covid-19 sejak dua pekan yang lalu.

Pemasangan stiker itu ternyata efektif membuat para pemudik tetap tinggal di rumah selama 14 hari. Program itu pun dilirik sejumlah desa lainnya.

Beberapa desa mencontoh program yang diinisiasi Desa Bedoro tersebut. “Sudah banyak desa yang studi banding ke Bedoro. Sabtu [11/4/2020] lalu ada tim dari Kecamatan Sukodono yang studi banding ke Bedoro,” kata Pri.

Selain itu ada Desa Glonggong di Gondang, Desa Toyogo di Sambungmacan, dan Desa Gemantar di Mondokan yang ikut membuat stiker rumah pemudik di wilayah masing-masing.

"Seorang anggota DPR RI pun sempat berkunjung ke Bedoro untuk melihat langsung inovasi kami," kata Pri.

Di Bedoro ada 100 orang pemudik yang tercatat dalam buku kerja bidan desa. Seluruh rumah 100 pemudik itu sudah terpasang stiker itu. Pri juga menyiapkan 20 paket sembako bagi para PP yang tidak mampu.

Namun, sampai sekarang belum ada PP yang masuk keluarga miskin. Adanya stiker itu memudahkan pula untuk pemantauan saat ada pemudik di wilayah timur Sragen itu yang mengalami gejala sakit.

"Beberapa waktu lalu ada dua orang PP yang panasnya sampai 39 derajat Celcius setelah diberi obat ternyata panasnya menurun sampai sekarang sehingga statusnya tidak jadi dinaikkan,” ujar Pri.

Bila ada gejala di stiker akan dilingkari sesuai gejalanya karena dalam stiker ada kolom empat gejala, yakni demam/panas, batuk/flu, sakit tenggorokan, dan sesak napas.

Salah satu pemudik, Puspita, tidak keberatan rumahnya dipasangi stiker. Ia baru pulang dari Jakarta Selatan pada Sabtu lalu dan ia sanggup karantina mandiri sampai 25 April.

“Saya pulang karena orang tua meminta pulang. Kebetulan kuliah sudah selesai dan tinggal menyelesaikan skripsi,” ujar mahasiswa itu.

Seorang pemudik lainnya, Rinda, baru pulang dari Pontianak beberapa hari lalu. Rinda pun tidak keberatan rumahnya dipasangi stiker. Ia pulang karena kontrak kerjanya habis.

Ia pulang dengan teman-temannya sebanyak 28 orang dari satu tempat kerja yang sama. “Yang pulang ke Sragen ada tiga orang, salah satunya saya. Saya pulang naik pesawat dan sempat dicek kesehatannya di Bandara Adi Sumarmo Solo,” katanya.

Inovasi Bedoro diapresiasi Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati. Bupati menyampaikan tidak hanya Bedoro yang siap dengan Satgas Lawan Covid-19, tetapi juga ada desa lain, seperti Desa Sambungmacan, Gawan di Tanon, dan Sepat di Masaran.

Sumber : JIBI/Solopos