Indonesia Bisa Produksi Alat Tes Virus Corona

Penumpang menggunakan antiseptik atau hand sanitizer di Halte Harmoni, Jakarta, Selasa (3/3/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
19 Maret 2020 23:57 WIB Andi M. Arief News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Pemerintah diminta memberikan insentif istimewa intuk mempercepat pabrik dalam negeri mengembangkan alat tes virus Corona.

Asosiasi Produsen Alat Kesehatan (Aspaki) mendata pengembangan alat tes Covid-19 dilakukan di sejumlah perguruan tinggi nasional seperti Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gajah Mada, dan Universitas Airlangga. Namun demikian, pengembangan tersebut diramalkan baru akan rampung paling cepat pada akhir kuartal I/2021.

"Saya pikir ada dua yang dapat mempercepat komersialisasi alat tes tersebut yakni pendanaan pada uji klinis dan pengadaan laboratorium komersial pada uji produk. Kedua tahapan itu yang akan jadi tantangan terbesar dalam mempercepat keluarnya alat tes di lapangan," ujar Manajer Eksekutif Aspaki Ahyahudin Sodri kepada Jaringan Informasi Bisnis Indonesia, Kamis (19/3/2020).

Selain kedua tahapan tersebut, lanjutnya, tidak ada tahapan lain yang dapat disederhanakan. Berdasarkan ketentuan, tahapan produksi alat kesehatan (alkes) secara umum dibagi menjadi empat tahapan yakni pengembangan riset, prototyping, uji klinis, dan uji produk.

Sampai saat ini, Ahyahudin menyampaikan pabrik maupun perguruan tinggi memiliki sumber daya yang minim untuk melakukan uji klinis. Di samping itu, menurutnya, pemerintah perlu membangun fasilitas laboratorium produk komersial untuk menguji alat tes tersebut secara masal.

"Ini yang jadi masalah bahwa uji produk itu bukan di laboratorium penelitian. Untuk uji produk harus di laboratorium uji produk, itu yang jadi challange [ke depan]" ucapnya.

Adapun, alat tes yang dimaksud merupakan cairan kimia yang biasanya digunakan dalam laboratorium dengan peralatan yang canggih. Selain itu, alat tes tersebut hanya dapat digunakan oleh personil yang memiliki kualifikasi tertentu.

Dilansir dari WIRED, Orgaisasi Kesehatan Dunia atau WHO telah menunjuk 16 laboratorium untuk mengkonfirmasi kasus virus corona baru pada pertengahan Februari 2020. Adapun, 16 laboratorium tersebut berada di China, Jepang, Singapura, Australia, Thailand, India, Amerika Serikat, Afrika Selatan, Senegal, Rusia, Jerman, Belanda, Inggris, dan Perancis.

Sementara itu, sampai saat ini baru ada 150 laboratorium yang memiliki teknologi pengidentifikasi Covid-19 di seluruh dunia yang rutin berkomunikasi secara daring. Adapun, labortorium tersebut tersebar di China, Jerman, Hong Kong, Jepang, Thailand, dan Amerika Serikat.

Salah satu pengembang alat tes di Jepang menyatakan bahwa pendistribusian alat tes secara masal baru dapat dilakukan setidaknya pada akhir semester I/2020. Hal tersebut merujuk pada kejadian cacatnya alat tes yang dikembangkan di Amerika Serikat.

Di sisi lain, Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Olefin, Aromatik, dan Plastik (Inaplas) Fajar Budiyono menyampaikan pihaknya akan berusaha menjaga ketersediaan bahan baku bagi industri alkes lokal. Pasalnya, sebagian besar bahan baku produk alkes merupakan polipropilena.

"Itu harus kami jaga stoknya, cuma kuantitas dan kualitasnya untuk beberapa spesifikasi produk masih kurang," katanya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia