Percaya Hoaks Alkohol Bisa Cegah Corona, 44 Orang Tewas karena Miras Oplosan

Ilustrasi Miras (JIBI)
11 Maret 2020 17:57 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA--Informasi bohong alias hoaks tentang virus corona belakangan ini bertebaran. Salah satunya tentang alkohol.

Bahaya hoaks bukan sekadar disinformasi. Adanya hoaks di tengah wabah virus Corona Covid-19 juga bisa menyebabkan kepanikan dan berujung pada hilangnya nyawa.

Baru-baru ini, media Iran melaporkan ada 44 orang meninggal dunia karena keracunan alkohol. Diyakini, para korban tertipu oleh hoaks yang menyebut konsumsi alkohol oplosan bisa mencegah diri dari infeksi virus Corona Covid-19.

Dikutip dari USA Today, ratusan orang dirawat di rumah sakit setelah alkohol yang diminum ternyata mengandung metanol.

Berdasarkan keterangan dari Kementerian Kesehatan Iran, alkohol oplosan tersebut mengganti etanol dengan metanol dan mencampurnya dengan cairan pemutih untuk menyamarkan warnanya.

Atas kejadian ini, tujuh orang sudah ditangkap oleh otoritas Iran. Pemerintah juga mengingatkan warga untuk tidak mudah percaya dengan mitos dan rumor yang menyebutkan hal-hal tertentu bisa menangkal virus Corona Covid-19.

Mitos minum alkohol untuk menangkal virus Corona Covid-19 sudah dibantah secara ilmiah. Hoaks virus Corona ini meleset dari pesan utama, yakni alkohol dengan kandungan etanol di atas 60 persen bisa membunuh virus Corona Covid-19.

Suara.com-jaringan Harianjogja.com mengonfirmasi kepada seorang pakar penyakit dalam dari Rumah Sakit Universitas Indonesia, Dr. dr. Sukamto Sp.PD, KAI mengenai apakah betul bahwa mengonsumsi alkohol dapat mengobati virus corona? Jawabannya jelas tidak, tapi warganet mungkin butuh penjelasan ilmiah yang sederhana mengapa minum alkohol bukan solusi bijak mengatasi wabah virus corona.

Pertama-tama, kata dr. Sukamto, setiap makanan dan minuman yang masuk ke mulut akan langsung bertemu dengan kelenjar liur. Kelenjar liur tersebut akan mengubah kandungan zat pada makanan.

"Belum lagi nanti masuk ke lambung, di lambung dan usus 12 jari itu ada keluar yang disebut insulin. Jadi begitu dia (makanan atau minuman) masuk ke mulut kemudian ke lambung, si alkohol tadi diubah menjadi gula atau glukosa dan sebagain di metabolisme berakhir di hati yang namanya detoksifikasi," kata dr. Sukamto di Depok, Selasa, (4/2/2020).

Detoksifikasi pada fisiologi sendiri merupakan lintasan metabolisme yang bekerja mengurangi kadar racun dalam tubuh lewat metode penyerapan, distribusi, biotransformasi dan eksresi molekul toksin. Karena itu juga, lanjut dr. Sukamto, orang yang kecanduan alkohol memiliki risiko penyakit hati yang lebih tinggi.

"Orang kecanduan alkohol pada dosis tertentu hatinya rusak. Bisa menjadi fatty liver atau pelemakan hati. Itu yang banyak terjadi di Eropa dan Amerika," lanjutnya.

Kedua, semua proses dalam tubuh tersebut pada akhirnya tidak membuat alkohol bekerja menjadi penyelamat seseorang yang terkena infeksi virus corona. Sebaliknya, alkohol dengan kadar tak seberapa yang telah dikonsumsi malah berubah menjadi gula atau glukosa.

"Artinya, komponen utama dari alkohol itu ya dia akan menjadi gula dan tidak akan bisa membunuh (virus corona) kalau beredar dalam darah. Alkohol juga tidak masuk dalam bagian saluran nafas atas yang terinfeksi corona, yang ada malah merusak hati, sebagai salah satu produsen utama (kekebalan) daya tahan tubuh," terangnya.

Jadi, sudah bisa dipastikan hoaks virus Corona Covid-19 bisa disembuhkan dengan minum alkohol adalah tidak benar.

Sumber : Suara.com