Kisah Pendiri Minyak Kutus-Kutus: Sempat Dikhianati, Kini Beromzet Rp570 Miliar Per tahun

Kutus-Kutus - Istimewa/Bisnis Indonesia
09 Maret 2020 05:27 WIB Dewi Andriani News Share :

Harianjogja.com, BALI - Servarius Bambang Pranoto tak pernah menyangka bahwa musibah yang sempat menimpa dirinya pada 2011 lalu, justru membuatnya menjadi seorang pengusaha sukses yang berhasil membesarkan dan menjual sekitar 5,7 juta botol Minyak Kutus-Kutus per tahun.

 Pria kelahiran 13 Mei 1955 ini mengisahkan awal mulanya menciptakan Minyak Kutus-Kutus ketika dirinya sudah hampir putus asa menyembuhkan kedua kakinya yang sempat lumpuh karena terpeleset. Sempat dibawa ke tukang pijat dan dokter, tetapi tetap saja tak kunjung sembuh.

Di tengah keputusasaannya tersebut, dia mencoba merenung dan bermeditasi hingga muncul ide membuat minyak yang berasal dari berbagai jenis tanaman herbal dan rempah-rempah.

“Saya menyebutnya sebagai konsep pohon kehidupan yang terdiri atas tujuh unsur dari tujuh tanaman sehingga totalnya ada 49 bahan bumbu masak yang hampir semuanya saya temui di bukit belakang rumah saya, di sebuah desa di Kabupaten Gianyar Bali. Bahan-bahan tersebut kemudian saya racik sendiri dari rumah,” ujarnya kepada Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Bambang mengaku tidak memiliki keahlian khusus meracik minyak. Dia belajar secara autodidak dengan mengikuti proses pembuatan dari warisan kebudayaan beberapa daerah serta pengalamannya mempelajari penyembuhan tradisional dari alam. Apalagi, pria yang menetap di Bali ini sudah akrab dengan herbal dan jamu-jamuan sejak 1988.

Dia kemudian membalur minyak tersebut, ternyata dalam waktu tiga bulan pemakaian, kakinya mulai sembuh. Dari situ mulai banyak teman dan keluarga yang merasakan manfaat dari minyak tersebut.

“Lalu teman-teman menganjurkan saya menjual minyak itu, tapi karena baunya enggak enak, akhirnya saya bereksperimen sehingga menghasilkan aroma yang pas dan gampang meresap. Riset tersebut saya lakukan sekitar satu tahun dari 2012 hingga 2013,” katanya.

Mulai lah Bambang menjual produknya dengan nama Minyak Kutus-Kutus yang dalam bahasa Bali berarti 88, sebuah angka sakral dengan bentuk tidak putus yang melambangkan penyembuhan tanpa batas. 

Pada awal usaha, Alumnus SMA Kolese De Britto Jogja ini memulai dengan memproduksi sekitar 500 botol. Namun sayang tidak ada yang laku. Sebab, dia sendiri mengaku tidak siap untuk berjualan minyak apalagi di usianya yang sudah memasuki masa pensiun. Apalagi, konotasi berjualan minyak dan obat pada masyarakat Jawa dinilai jelek.

“Sejak usia 25 tahun saya bekerja sebagai marketing di perusahaan internasional yang terkenal dan saya memang terbilang sukses, tapi masak sudah pensiun tetap jualan, yang dijual minyak pula sehingga mental saya tidak siap. Akhirnya ya tidak ada yang laku produk awal saya,” katanya.

Dari situ dia kemudian mulai menunjuk seorang distributor yang membantunya memasarkan produk tersebut. Bambang hanya fokus untuk meracik dan memproduksi, sedangkan urusan jualan diserahkan kepada distributor yang semuanya dilakukan melalui media sosial.

Perlahan tapi pasti jumlah pembeli terus bertambah dan mulai memiliki jaringan. Hal ini tentu saja berdampak pada penjualan yang kian meningkat dari ratusan menjadi ribuan botol per bulan.

“Oktober 2014 kami mengadakan pertemuan pertama dengan semua reseller Kutus-Kutus karena selama ini kami hanya bertemu melalui Facebook. Pertemuan itu kami anggap sebagai ulang tahun pertama sekaligus menjadi tempat kami untuk membuat strategi baru untuk semakin berkembang,” ujarnya.

 

//Sempat Dikhianati

Di tengah pertumbuhan bisnis yang semakin pesat, Bambang harus menelan pil pahit karena distributor yang telah dipercayanya sejak pertama merintis usaha ternyata berkhianat dan diam-diam membuat  brand sendiri minyak balur yang mirip dengan Kutus-Kutus.

Bahkan yang membuat Bambang semakin kecewa karena distributor tersebut mengambil jaringan reseller Kutus-Kutus untuk menjual minyak hasil produksinya. Dengan berat hati Bambang pun memecat orang kepercayaannya tersebut. “Saat itu saya sangat kecewa berat, saya merasa bingung karena memang selama ini penjualan melalui dia. Tapi saya tidak ingin terus berlarut, akhirnya saya kembali mengumpulkan semua reseller untuk membuat strategi dan peluang usaha baru bagi mereka,” ujarnya. 

Ternyata, sejak proses pemasarannya dipegang langsung oleh Bambang, penjualan Minyak Kutus-Kutus yang berada di bawah bendera usaha PT Tamba Waras ini melonjak signifikan, bahkan untuk pertama kalinya menembus angka 10.000 botol per bulan. Hal itu membuatnya semakin percaya diri dan terus bergerak bersama para reseller hingga akhirnya Kutus-Kutus semakin dikenal dan dipercaya oleh masyarakat.

Penjualannya pun terus melonjak setiap bulan hingga Kutus-Kutus berhasil terjual 5,7 juta botol dalam satu tahun sepanjang 2019. Lantas apa yang membuat penjualan Minyak Kutus-Kutus melompat signifikan?

Menurut Bambang, selain produknya yang bagus dan memiliki khasiat secara langsung, pihaknya juga memberikan margin yang besar kepada para reseller dan distributor. Sebagai produsen, Bambang menjual produknya seharga Rp100.000 untuk setiap distributor dengan harga jual sebesar Rp230.000, tidak boleh di bawah harga tersebut.

Artinya, setiap distributor mendapatkan keuntungan yang lebih besar dibandingkan Bambang. Yakni sebesar Rp130.000 per botol. Namun, distributor disyaratkan untuk mengambil sekitar 20.000 botol per bulan untuk kemudian dijual kepada para reseller.

Nantinya, para reseller akan mendapatkan keuntungan minimal 20% dengan pembelian awal sebanyak lima botol, semakin banyak produk yang dibeli, akan semakin besar pula keuntunganya.

“Saya tidak menerima langsung pembelian ritel karena mereka harus melalui reseller. Saya sebagai produsen hanya berhubungan dengan distributor yang saat ini totalnya sekitar 20-an, masing-masing distributor harus mengambil 20.000 Minyak Kutus-Kutus setiap bulan.”

Tidak hanya di luar negeri, popularitas Minyak Kutus-Kutus juga telah sampai ke lebih dari 10 kota di dunia. Bahkan Bambang telah membeli sebuah Kastil di Belanda untuk menjual Minyak Kutus-Kutus. Sayangnya, dia enggan menyebutkan nilai investasi.

“Saya yakin prospek penjualan Minyak Kutus-Kutus di luar negeri akan besar, apalagi dengan merebaknya virus Corona ini membuat banyak orang yang ingin meningkatkan daya tahan tubuh, salah satunya dengan membalurkan Minyak Kutus-Kutus,” ujar pria berusia 65 tahun ini.

Minyak Balur asli Bali ini memiliki berbagai manfaat untuk kesehatan karena dapat mengatasi berbagai penyakit dan dapat digunakan mulai dari bayi hingga orang tua. Minyak Kutus-Kutus dibuat dengan cara tradisional menggunakan racikan 69 jenis tanaman herbal dan rempah yang diekstrak dengan minyak kelapa dan minyak essential.

Kutus-Kutus juga telah mendapatkan sertifikasi halal dari MUI. Selain Minyak Kutus-Kutus, Tamba Waras juga memiliki berbagai produk herbal lainnya seperti Kutus-Kutus Tanamu Tanami, Sabun Mandi Kesehatan Kalila Kalila, dan Sabun Mandi Kesehatan Tanamu Tanami.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia