Ikan Paus Lebih Ampuh Mengurangi Pemanasan Global Daripada Ribuan Pohon

Ilustrasi perubahan iklim. - JIBI
01 Desember 2019 22:57 WIB Salsabila Annisa Azmi News Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Para peneliti telah menemukan fakta baru. Menyelamatkan paus dianggap lebih penting daripada menanam pohon untuk mengatasi perubahan iklim. Peneliti menemukan beberapa kandungan karbon di dalam tubuh paus sebelum satwa itu kembali menyelam ke samudra.

Selama ini peneliti lingkungan telah mengusahakan cara terbaik untuk mengurangi emisi karbon dengan memperbanyak ruang hijau. Tujuannya agar daun-daun tanaman dapat menyerap karbon dioksida dan menghasilkan lebih banyak oksigen.

Sementara itu dilansir dari telegraph.co.uk, riset terbaru yang dilakukan oleh International Monetary Fund (IMF) menemukan fakta bahwa memelihara kelestarian paus, dalam hal pengurangan emisi, jauh lebih efektif daripada menumbuhkan ribuan pohon. Kesimpulan ini diambil sebab para peneliti menemukan kandungan karbon di dalam tubuh paus sebelum mereka kembali menyelam ke samudra.

Pada dasarnya mamalia satu ini memiliki kemampuan mengumpulkan karbon dalam tubuh mereka sepanjang umur satwa tersebut. Bahkan beberapa spesies paus hidup hingga 90 tahun lamanya. Ketika mamalia ini mati, paus membawa karbon itu ke dasar lautan. Karbon itu akan disimpan di dasar lautan selama berabad-abad.

Setiap paus dapat menyimpan hampir 30.000 kilogram karbon dioksida. Sementara itu, sebatang pohon hanya menyerap karbon dioksida hingga 21 kilogram per tahun. Selain itu, paus juga mendukung produksi fitoplankton, yang memberikan kontribusi setidaknya 50% dari semua oksigen ke atmosfer Bumi dan menangkap karbon dioksida sebanyak 1,7 triliun pohon atau setara dengan empat hutan Amazon.

Menurut penelitian peningkatan produktivitas fitoplankton pada paus, meski hanya 1%, akan memiliki efek yang sama dengan kemunculan dua miliar pohon tua. Oleh sebab itu, bagian Pengembangan Kapasitas IMF, Ralph Chami dan Sena Oztosun, bekerja sama dengan profesor dari Universitas Duke dan Universitas Notre Dame mengatakan peningkatan populasi ikan paus dapat menjadi terobosan dalam perang melawan perubahan iklim.

"Mengkoordinasikan ekonomi perlindungan paus harus menjadi puncak agenda iklim komunitas global. Karena peran paus tidak tergantikan dalam mitigasi dan pembangunan ketahanan terhadap perubahan iklim. Kelangsungan hidup mereka harus diintegrasikan ke dalam tujuan 190 negara yang pada tahun 2015 menandatangani perjanjian Paris untuk memerangi risiko iklim,” catat mereka.

Para peneliti itu menaksir nilai satu paus bisa mencapai lebih dari 2 juta USD atau setara Rp28,1 miliar. Nilai tersebut didapat dari pertimbangan nilai karbon yang diserap selama masa hidup paus serta kontribusi ekonomi lainnya seperti peningkatan perikanan dan ekowisata. Para peneliti pun merekomendasikan pemerintah untuk memberi sanksi kepada kelompok atau entitas bisnis yang mengancam populasi paus.

Sayangnya saat ini paus berada di bawah ancaman manusia yang signifikan. Misalnya karena lalu lintas kapal, tidak sengaja terbelit jaring ikan, limbah plastik yang menggunung di air dan polusi suara. Akibat semua itu, populasi paus telah dihancurkan selama abad terakhir dari yang tadinya berjumlah lima juta ekor menjadi hanya 1,5 juta ekor.

Para peneliti memprediksi apabila kondisi tersebut terus menerus dibiarkan, maka perlu waktu lebih dari 30 tahun untuk memulihkan populasi paus. Apalagi paus masih dikepung oleh pemburu paus dan berhadapan dengan polusi plastik setiap harinya. Diperkirakan, tanpa tindakan perlu waktu lebih dari 30 tahun untuk memulihkan populasi paus karena satwa ini masih dikepung oleh pemburu paus dan tersedak sampah plastik.

Menyerap Karbon
Menurut perhitungan para ekonom, satu ekor paus besar dapat menyerap sekitar 1,7 miliar ton karbon dioksida setiap tahun. Artinya lebih besar daripada emisi di Brazil. Sedangkan karbon dioksida yang diembuskan manusia ke udara setiap tahunnya hanya 40 miliar ton saja. Padahal menurut estimasi pengamat, jumlah paus besar maksimal dapat mencapai lima juta ekor di dunia ini.

Dilansir dari nationalgeographic.com, para peneliti menjabarkan beberapa jenis paus besar yang menyerap banyak karbon emisi. Paus besar termasuk baleen filter dan paus sperma, membantu menyerap karbon dalam beberapa cara.

Sebuah penelitian yang diterbitkan pada 2010 memperkirakan delapan jenis paus balin, termasuk paus biru, humpback, dan minke, secara kolektif memindahkan hampir 30.000 ton karbon ke laut setiap tahunnya ketika bangkai mereka tenggelam. Jika populasi paus besar pulih kembali, para peneliti memperkirakan penurunan karbon ini akan meningkat 160.000 ton per tahun.

Sementara itu Fabio Berzaghi, seorang peneliti di Laboratorium Ilmu Iklim dan Lingkungan di Prancis dan penulis utama studi itu, mengatakan analisis IMF dinilai sangat penting. Jasa ekosistem dari paus besar, menguntungkan semua orang.