PKS Khawatir jika Pilkada Dilakukan melalui DPRD

Sekjen PKS Mustafa Kamal, Presiden PKS Sohibul Iman, Ketua Umum Partai Berkarya Hutomo Mandala Putra (Tommy Soeharto), dan Sekjen Partai Berkarya Priyo Budi Santoso menyampaikan konferensi pers usai pertemuan di DPP PKS, Jakarta, Selasa (19/11/2019) - Bisnis/Denis Riantiza M
20 November 2019 06:17 WIB Denis Riantiza Meilanova News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA -  Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menilai pemilihan kepala daerah (pilkada) mesti dipilih secara langsung. Presiden PKS Sohibul Iman khawatir sistem oligarki kekuasaan semakin kuat bila pilkada dilakukan melalui DPRD.

"Kalau pilkada dilakukan oleh DPRD maka kemungkinan oligarki berkuasa itu luar biasa karena ruang eksploitasinya semakin menyempit, semakin memudahkan mereka mengelola oligarki," kata Sohibul di Kantor DPP PKS, Jakarta, Selasa (19/11/2019).

Dia mencontohkan, bila jumlah anggota DPRD suatu daerah hanya 50 orang maka bisa dengan mudah dikuasai oligarki. Oleh karena itu, PKS berpendapat pilkada langsung masih lebih baik.

"Bayangkan kalau sebuah daerah anggota DPRD cuma 50 orang, berarti oligarki cukup mengendalikan 50 orang itu. Sementara kalau itu dibuka sebagai pilkada langsung, mereka tentu tidak akan semudah itu melakukan penguasaan politik seperti itu," ujarnya.

Selain itu, dia juga menilai jika pilkada melalui DPRD, kesempatan orang-orang yang memiliki kapabilitas dan integritas untuk masuk ke dalam sirkulasi kekuasaan akan semakin kecil.

"Tetapi kalau dipilih oleh rakyat, orang-orang yang berintegritas masih punya peluang untuk masuk di dalam sirkulasi kekuasaan," katanya.

"Jadi kami memandang, pemilihan langsung masih lebih baik. Bahwa ada masalah selama ini tentu itu menjadi PR kita bersama," katanya menambahkan.

Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengatakan perlu ada kajian akademis secara mendalam terkait pelaksanaan pilkada langsung.

Dia mengatakan bahwa semua kebijakan publik apalagi menyangkut masyarakat banyak, menyangkut sistem pemilihan, perlu dilakukan evaluasi setelah beberapa lama berlaku.

"Bisa saja temuannya nanti [menyatakan] bahwa publik lebih sepakat dengan Pilkada langsung terus dilanjutkan, kita otomatis why not [kenapa tidak], ini adalah suara rakyat. Tapi kalau nanti kajian akademiknya kita tidak perlu Pilkada langsung tapi Pilkada Asimetris itu juga jadi pertimbangan," jelasnya.

Tito mengatakan bahwa Kemendagri tidak pada posisi dalam mengambil keputusan memilih sistem Pilkada langsung, tidak langsung, atau asimetris. Namun, ujarnya, diperlukan kajian akademis dalam menganalisis dan mengevaluasi pelaksanaan Pilkada secara langsung yang telah berlangsung dalam kurun waktu 15 tahun terakhir.

Sumber : bisnis.com