Nuklir Bisa Tingkatkan Kualitas Varietas Padi

Panen perdana varietas Rojolele Srinuk dan Rojolele Srinar di Kawasan Agro Techno Park (ATP), Klaten, Jawa Tengah, Selasa (22/10/2019). - Ist/Batan.
22 Oktober 2019 15:37 WIB Sunartono News Share :

Harianjogja.com, JOGJATeknologi nuklir tidak hanya dikenal sebagai senjata pemusnah massal. Namun nuklir untuk tujuan damai bisa bermanfaat untuk masyarakat, seperti bisa meningkatkan kualitas varietas padi.

Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) melalui teknologi nuklir yang dimiliki berhasil memperbaiki varietas padi Rojolele Srinar dan Rojolele Srinuk di Kawasan Agro Techno Park (ATP), di Klaten, Jawa Tengah.

Kepala Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi, Badan Tenaga Nuklir Nasional, Totti Tjiptosumirat menjelaskan, pihaknya mempunyai peran penting di bidang pertanian guna menghasilkan varietas unggul dengan memanfaatkan nuklir. Meski pun banyak varietas padi lain, namun varietas padi hasil penelitian nuklir diharapkan banyak disukai masyarakat sehingga dapat mendukung program ketahanan pangan nasional.

Keberhasilan memperbaiki kualitas varietas ini, kata dia, merupakan komitmen Batan dalam memanfaatkan nuklir untuk tujuan damai, khususnya di bidang pertanian. Selain itu, dapat menunjukkan kepada masyarakat bahwa pemanfaatan teknologi nuklir tidak hanya untuk senjata dan energi saja, melainkan dapat dimanfaatkan untuk berbagai bidang.

“Kami ingin membuktikan bahwa nuklir bukan hanya dikenal sebagai pemusnah massal dan hingga saat ini banyak masyarakat yang mempunyai persepsi negatif pada energi nuklir, namun teknologi nuklir dapat dimanfaatkan di bidang lain, seperti pangan,” terang dia dalam rilis yang diterima Harianjogja.com, Selasa (22/10/2019)

Ia berharap, varietas padi Rojolele Srinar dan Rojolele Srinuk dapat mendukung produksi padi di Klaten, yang tentunya bisa memberikan dampak terhadap produksi padi di Jawa Tengah.

Peneliti Batan, Sobrizal menambahkan riset varietas Rojolele ini dimulai sejak 2013, sesuai permintaan masyarakat agar Batan memperbaiki varietas tersebut. Perbaikan dilakukan dengan radiasi sinar gamma pada dosis 200 Gy. Kemudian dihasilkan varietas baru yakni Rojolele Srinuk dan Rojolele Srinar yang lebih unggul. “Keunggulan dua varietas ini dibandingkan dengan induknya antara lain mempunyai umur lebih pendek kurang dari 120 hari sedangkan umur induknya mencapai 155 hari,” ucapnya.

Keunggulan lain, lanjutnya, tinggi tanaman sekitar 105 sentimeter sehingga tidak mudah roboh serta memiliki ketahanan hama penyakit lebih baik. Produksinya pun lebih tinggi mencapai sembilan ton per hektare, padahal induknya hanya mencapai tujuh ton hektare.

“Mutu fisik beras dan mutu organoleptik [rasa nasi, aroma] setidaknya sama dan bahkan cenderung lebih baik dibandingkan induknya,”ujarnya.