Angin Kencang Melanda Lereng Merapi, Kerusakan Terparah di Tlogolele

Ilustrasi angin kencang. - JIBI
21 Oktober 2019 20:17 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, BOYOLALI-- Angin kencang yang menyapu lereng Merbabu dan Merapi sejak Senin (21/10/2019) dini hari, menimbulkan kerusakan di wilayah Boyolali, Jawa Tengah.

Data yang dihimpun Solopos.com-jaringan Harianjogja.com, hingga Senin siang angin kencang terjadi di Kecamatan Selo dan Kecamatan Musuk. Di Kecamatan Selo, salah satu desa paling parah terdampak adalah Tlogolele.

Tlogolele merupakan desa terdekat dari puncak Merapi. Sebanyak 43 rumah dan satu warung rusak ringan di bagian atap. Di Dusun Stabelan, Tlogolele yang berjarak 3,5 km dari puncak Merapi sedikitnya 22 rumah rusak akibat angin kencang.

Kepala Dusun Stabelan, Maryanto, kepada Solopos.com, menyebutkan 22 rumah rusak akibat angin kencang sejak Senin dini hari. Kerusakan rumah juga terjadi di Dusun Takeran dan dusun-dusun lain.

Sukarelawan Jalin Merapi, Mujianto, menambahkan dampak angin kencang di lereng Merapi dan Merbabu juga dirasakan warga Desa Jrakah, Lencoh, dan Samiran. Sedikitnya 20 bangunan rusak ringan.

Terakhir, angin kencang terjadi di Dukuh Mlambong, Desa Sruni, Kecamatan Musuk. Satu rumah milik Darsono rusak sebagian gentingnya karena tertimpa pohon durian yang tumbang akibat angin kencang.

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Hanik Humaida menyebutkan dari pantauan stasiun Pasarbubrah, Jogja, wilayah sekitar Gunung Merapi diterpa angin dengan kecepatan angin tinggi mulai Sabtu (19/10/2019) hingga Senin (21/10/2019).

Angin kencang terjadi di wilayah Jogja, Magelang, dan Boyolali. Kecepatan maksimum tercatat hingga 85,5 km/jam namun sejauh ini menunjukkan tren menurun hingga 44 km/jam. “Penyebab utamanya karena pancaroba,” ujar Hanik ketika dihubungi Solopos.com, sore.

Imbauan waspada terhadap angin kencang saat pancaroba juga disampaikan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Iklim Kelas I Semarang, Iis Widya Harmoko, angin kencang secara umum disebabkan angin muson dari Australia.

Tekanan yang tinggi mengakibatkan suplai energi massa udara yang besar menuju wilayah Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Imbasnya wilayah Jawa Tengah bagian tengah dan selatan diterpa angin kencang.

Faktor adanya lereng dan puncak gunung seperti Merapi dan Merbabu turut membawa pengaruh terhadap kecepatan angin. Iis menambahkan angin kencang bisa terjadi di semua tempat. Namun kecepatan angin dipengaruhi topografi wilayah.

“Angin kencang waktunya bisa 2-3 hari, bahkan kalau waktu puncak kemarau atau penghujan bisa satu pekan,” imbuh Iis.

Ditambah lagi kini kondisi suhu yang hangat membuat angin kencang juga berpotensi puting beliung. Namun puting beliung lebih sering terjadi di wilayah terbuka dengan vegetasi yang kurang.

Kendati demikian, imbuh Iis, ada sejumlah perbedaan antara angin kencang dan puting beliung. “Puting beliung waktunya sangat pendek, hanya 1-2 menit dengan jangkauan area yang sempit,” ujarnya.

Puting beliung memiliki ciri bentuk berupa corong angin yang berputar kencang dari awan yang menjuntai ke tanah. Ciri inilah yang membedakannya dengan angin kencang.

Sumber : Solopos.com