Luas Kebakaran Hutan dan Lahan Meningkat160 Persen

Relawan memadamkan titik api yang membakar hutan tropis kawasan Taman Wisata Alam Kawah Putih Gunung Patuha, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Selasa (8/10/2019). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat menyatakan luas kebakaran lahan di Kabupaten Bandung mencapai 241 hektar yang tersebar di beberapa titik antara lain Gunung Malabar, Gunung Patuha, Gunung Hawu dan kawasan Taman Wisata Alam Kawah Putih. - ANTARA/Novrian Arbi
21 Oktober 2019 17:37 WIB Desyinta Nuraini News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA — Total luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meningkat tajam hingga 160% dalam kurun waktu waktu satu bulan. 

Plt. Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Raffles B. Panjaitan mengatakan hingga akhir September 2019, luas indikatif karhutla tercatat 857.756 hektare (ha). 

"Ada kenaikan di sana sampai 160% dibanding bulan lalu, 328.724 ha," ujarnya saat memaparkan laporan kinerja pengendalian karhutla di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, Senin (21/10/2019).

Berdasarkan citra satelit landsat, kebakaran di lahan gambut hingga September 2019 seluas 227.304 ha, sementara di lahan mineral mencapai 630.451 ha. Luasan tersebut melonjak dibandingkan dengan Agustus 2019 dengan kebakaran di lahan gambut seluas 89.563 ha dan di lahan mineral 239.161 ha. 

Adapun hingga September 2019, tiga daerah yang paling banyak luas karhutlanya adalah Kalimantan Tengah dengan 134.227 ha, Kalimantan Barat 127.462 ha, dan Nusa Tenggara Timur 119.459 ha. 

Total karhutla seluas 857.756 hektare ini terjadi di lahan konsesi dan masyarakat. Sekitar 66.000 ha berada di areal Hutan Tanaman Industri (HTI), 18.465 ha di Hutan Alam (HA), 7.545 ha di lahan restorasi ekosistem, dan 7.312 ha di areal pelepasan kawasan hutan. 

"Di izin yang dikeluarkan BPN paling banyak, bukan kawasan hutan. Lahan-lahan yang sudah disertifikatkan itu sampai 110.476 ha," ungkap Raffles.

Raffles mengatakan peningkatan luas karhutla ini karena masih dipengaruhi El Nino dan pergerakan arus panas dari Australia di samping pola pembukaan lahan dengan membakar. Untuk itu, pihaknya terus melakukan sosialisasi hingga ke tingkat tapak guna mengubah perilaku masyarakat. 

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia