Advertisement
Catat! Pengganggu Pelantikan Presiden Bakal Dipidanakan
Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto (kedua kiri) bersama Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian (kedua kanan) meninjau lokasi kericuhan aksi massa di perempatan Slipi, Jakarta, Kamis (26/9/2019). - ANTARA / Indrianto Eko Suwarso
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA - Pihak kepolisian akan bertindak tegas terhadap perusuh anarkis.
Kapolri Jenderal Pol. Muhammad Tito Karnavian mengancam akan mempidanakan para perusuh yang berencana mengganggu pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih pada 20 Oktober 2019.
Advertisement
Menurut Tito, Kepolisian telah memberi batasan waktu bagi masyarakat yang akan menyampaikan aspirasi di depan umum pada pelantikan Presiden dan Wakil Presiden sesuai UU No.9/1998.
Tito berpandangan bahwa UU No.9/1998 itu tidak bersifat absolut dan bebas, tetapi tetap ada aturan yang mengikat, seperti batasan waktu bagi masyarakat menyampaikan pendapat yaitu hingga pukul 18.00 WIB dan tidak mengganggu ketertiban umum serta tidak merusak fasilitas umum.
BACA JUGA
"Selama ini banyak yang salah kaprah, soal UU Nomor 9 Tahun 1998 itu, tolong baca lagi yang betul. Batasannya itu ada di Pasal 6 UU Nomor 9 Tahun 1998, jadi menyampaikan aspirasi itu tidak bersifat absolut, tetap ada batasannya," tutur Tito, Kamis (17/10/2019).
Menurut Tito, jika ada masyarakat yang melewati batas saat menyampaikan aspirasi di muka umum, UU tersebut juga mengatur sanksi yang dapat dikenakan kepada para pendemo seperti tertuang pada Pasal 15, Pasal 16, Pasal 17, dan Pasal 18 UU No.9/1998.
"Polisi memiliki kewajiban untuk membubarkan massa jika penyampaian aspirasi di muka umum itu melewati batasan yang diatur Undang-Undang itu," kata Tito.
Tito menjelaskan sesuai aturan UU, Polisi akan memberikan peringatan sebanyak tiga kali ke para pendemo. Jika demonstran tidak membubarkan diri setelah diperingatkan, akan dilakukan pembubaran paksa.
Kemudian, menurut Tito, UU juga mengatur ihwal hukuman bagi para pendemo yang tidak patuh, melakukan perlawanan hingga mengakibatkan orang lain maupun petugas terluka akibat aksi tersebut.
Ada beberapa Pasal yang bisa dijeratkan kepada para demonstran yaitu Pasal 211 dan Pasal 212 KUHP. Selain itu, lanjut Tito, bisa juga ditambah Pasal 216 dan Pasal 218 KUHP.
"Meskipun ringan ancaman hukumannya, tetapi itu tetap ada proses hukumnya," ujar Tito.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Skandal Haji Eks Menag Yaqut: Kode T0, Bayar Rp84 Juta Bisa Berangkat
- Gugatan Kalah, KPK Jebloskan Mantan Menag Yaqut ke Rutan Merah Putih
- Hashim Djojohadikusumo Akan Pimpin Satgas Pembiayaan Taman Nasional
- Kapal Thailand Diserang di Selat Hormuz hingga Terbakar
- Friderica Widyasari Sari Terpilih Ketua OJK 2026-2031
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Apple Rilis Update Keamanan untuk iPhone 6s hingga iPhone X
- F4 Gelar Konser Reuni di Indonesia Arena Jakarta 30 Mei 2026
- Sembilan Kepala Daerah Terjaring OTT, Ini Pesan KPK ke Masyarakat
- WhatsApp Hadirkan Akun Anak Usia 9-12 Tahun, Orang Tua Bisa Kendalikan
- Kombes Adhitya Panji Anom Resmi Dilantik sebagai Kapolresta Sleman
- Messi Gagal Cetak Gol ke-900, Inter Miami Ditahan Nashville
- Ekonom UMY: Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen Harus Tekan Kemiskinan
Advertisement
Advertisement








