Bus yang Bisa Berjalan di Rel Akan Hubungkan Bandara Kulonprogo dengan Candi Borobudur

PT Angkasa Pura I menghabiskan dana sebesar Rp10,5 triliun untuk pembangunan Bandara Internasional Yogyakarta yang berada di Kulonprogo. - JIBI/Bisnis Indonesia/Rinaldi M. Azka
07 Oktober 2019 19:27 WIB Rinaldi Mohammad Azka News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) berencana menerapkan teknologi bus rapid transit (BRT) O-Bahn untuk melayani transportasi umum penghubung Candi Borobudur dengan Bandara Internasional Yogyakarta atau Yogyakarta Internasional Airport (YIA) di Kulonprogo.

O-Bahn memadukan bus rapid transit (BRT) dengan light rapid transit (LRT) yaitu kendaraan angkutan massal yang dapat melalui jalan raya seperti bus, tetapi di daerah tertentu menggunakan rel yang dapat mempercepat perjalanan.

Direktur Angkutan Jalan, Ditjen Perhubungan Darat, Kemenhub, Ahmad Yani mengkonfirmasi rencana tersebut. Menurutnya, Kemenhub fokus membangun detail engineering design (DED) pada 2020 mendatang.

“Rencananya begitu tapi jalannya mau diperlebar dahulu, setelah diperlebar kita sudah diisyaratkan membangun di situ, kita coba 2020 akan kajian DED,” katanya kepada Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI), Senin (7/10/2019).

Sementara itu, untuk rute Bandara YIA—Borobudur, Kemenhub sudah melayani menggunakan bus umum yang biasa digunakannya. Dia menuturkan rute yang akan digunakan yakni melalui Jogja Outer Ring Road.

Dia menegaskan jalur yang akan digunakan tengah dilebarkan oleh Kementerian PUPR. Setelah jalannya diperlebar, Kemenhub akan menjalakan BRT O-Bahn tersebut.

Berdasarkan data yang JIBI terima, O-Bahn rencananya akan dibangun sepanjang 53,9 Km dengan komposisi jalan 11,4 Km jalan nasional dan 42,5 Km jalan provinsi dan kota.

Biaya yang dibutuhkan berdasarkan simulasi perhitungan Kemenhub mencapai Rp1,88 triliun, biaya ini belum termasuk pengadaan bus dengan guided track di rodanya. Belanja modal ini mengacu pada pembentukan BRT Semarang yang sepanjang 16 Km dan menghabiskan Rp465,9 miliar.

Menurutnya, O-Bahn dapat merevolusi transportasi umum yang membuat perjalanan dari satu tempat ke tempat yang lain lebih mudah dan lebih banyak penumpang yang dapat diangkut dengan menekankan konsep smart city.

Dalam kajian Kemenhub, O-Bahn biayanya 20% lebih mahal dibandingkan membangun BRT dan 30% lebih murah dibandingkan membangun LRT. Kelebihan teknologi ini adalah bus dapat berjalan di dua konstruksi baik tanah maupun rel.

Dari sisi kapasitas jumlah penumpang yang dibawanya sama dengan penumpang BRT hingga 300 penumpang tetapi dengan waktu tempuh yang lebih cepat. Artinya, dalam jangka waktu yang sama dapat membawa penumpang lebih banyak dari BRT, sementara penggunaan LRT dapat menampung hingga 600 penumpang.

Dari sisi kelebihan, O-Bahn dapat lebih baik dari sisi pertimbangan lingkungan yaitu kebisingan rendah, intrusi fisik rendah, potensial untuk elektrifikasi.

Kualitas pelayanan tidak membutuhkan banyak perpindahan moda dimana lebih fleksibel untuk mengakses pusat kota dan feeder untuk sub kota, moda dengan kecepatan tinggi serta kualitas tinggi.

Bus dapat meninggalkan jalur panduan untuk menyediakan door to door services yang terintegrasi penuh; Biaya konstruksi rendah sehingga dapat menghemat biaya infrastruktur (lebih murah dibandingkan rel kereta api, Iebih premium dibandingkan bus).

Kendaraan berbobot lebih ringan yang dapat menggunakan berbagai sumber energi alternatif (listrik, bio diesel, gas). Dari sisi kekurangannya, kapasitas tidak besar, masih memungkinkan mix traffic dan jalur tidak steril terdampak kemacetan.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia