Ajakan untuk Kuliah di Depan Gedung DPRD Kota Malang adalah Hoaks

Ilustrasi hoaks. - JIBI
28 September 2019 08:07 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, MALANG - Sebelum aksi mahasiswa pada 23 September 2019, beredar pesan hoaks yang menyatakan bahwa salah satu pimpinan universitas negeri di Kota Malang, menyatakan, perkuliahan dipindah ke depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Malang. Hal tersebut disampaikan Wali Kota Malang Sutiaji. 

"Dinamika demokrasi terus berkembang, namun, ketika ditunggangi hoaks, itu yang berbahaya," kata Sutiaji, saat melakukan silaturahim bersama para rektor perguruan tinggi yang ada di Kota Malang, Jawa Timur, Jumat (27/9/2019). 

Ia meminta kepada para mahasiswa khususnya yang berada di Kota Malang, Jawa Timur, untuk berhati-hati atas beredarnya kabar bohong (hoaks) pada saat melakukan aksi unjuk rasa untuk menyampaikan pendapat.

Menurut Sutiaji, saat itu pihaknya telah melakukan konfirmasi kepada beberapa pimpinan universitas di Kota Malang, dan mendapati bahwa pesan yang beredar tersebut merupakan kabar bohong.

"Karena itu, para mahasiswa, pada saat menyuarakan sesuatu harus tetap menjaga kedamaian. Karena kondisi di lapangan mudah ditunggangi dengan isu-isu liar," ujar Sutiaji.

Para rektor perguruan tinggi termasuk kepala sekolah SMA dan SMK di Kota Malang, diharapkan bisa memberikan pembekalan kepada anak didik mereka, khususnya untuk menghindari terjadinya kericuhan pada saat proses penyampaian pendapat di muka umum, ujarnya.

Sebagai catatan, aksi mahasiswa pada 24 September 2019 sempat diwarnai kericuhan antara para pedemo dengan aparat keamanan. Dalam kejadian tersebut, beberapa mahasiswa dan aparat keamanan termasuk wartawan mengalami luka-luka.

Sementara itu, Wakil Rektor III Universitas Muhammadiyah Malang Sidik Sunaryo mengatakan bahwa, pihaknya tidak pernah mengeluarkan instruksi kepada para mahasiswanya untuk melakukan aksi di depan Gedung DPRD Kota Malang.

"Di kampus tidak ada instruksi untuk demo. Anak-anak itu ingin menyuarakan kepentingan rakyat dan bangsanya, itu saja," kata Sidik.

Pada saat ribuan mahasiswa UMM melakukan aksi unjuk rasa beberapa waktu lalu itu, Sidik juga berada di lokasi. Ia menemukan fakta bahwa ada beberapa anak yang bukan mahasiswa UMM, menggunakan jaket almamater UMM.

"Ada yang mengaku dipinjami, pada saat ditanya kartu mahasiswa, yang bersangkutan tidak bisa menunjukkan. Termasuk yang mengalami luka dan dirawat di rumah sakit," ujar Sidik.

Sidik menambahkan, pihaknya telah memberikan pesan kepada seluruh mahasiswa UMM, jika melakukan aksi unjuk rasa untuk menyampaikan pendapat, diharapkan bisa dilakukan dengan tertib dan damai.

"Kami berpesan, kalau itu [demontrasi] pilihan untuk menyampaikan aspirasi, dijaga yang tertib, dan santun," ujar Sidik.

Sumber : antara