Studi Medsos: #GejayanMemanggil Tak Terkait dengan Pengusung Khilafah

Demonstrasi di Pertigaan Colombo, Gejayan, Senin (23/9/2019). - Harian Jogja/Budi Cahyana
23 September 2019 19:47 WIB MG Noviarizal Fernandez News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Unjuk rasa yang dimotori gabungan mahasiswa dari berbagai kampus di DIY dalam wadah Aliansi Rakyat Bergerak yang mengusung tagar #GejayanMemanggil dinilai tidak berkaitan dengan agenda khilafah.

Kesimpulan itu terekam dari pengamatan lembaga survei digital Drone Emprit yang memantau percakapan media sosial khususnya Twitter mengenai isu-isu politik dan sosial yang menjadi trending topic warganet.

Ismail Fakhmi, dari Drone Emprit mengatakan sudah memonitor kata kunci 'khilafah' sejak lama dan sudah beberapa kali membuat analisis. Dengan melihat data sepekan terakhir, Drone Emprit kemudian membandingkan percakapan tentang 'khilafah' dengan tagar #GejayanMemanggil. Tampak tren khilafah sudah tinggi sebelum munculnya tagar #GejayanMemanggil yang baru naik beberapa hari belakangan ini.

“Meski isu khilafah sudah lama, tetapi dari volume sepekan terakhir cukup tinggi percakapannya. Tagar #GejayanMemanggil lebih tinggi, karena memang sedang ada gerakan dan trending. Namun biasanya tagar seperti ini tidak lama. Selain itu, cluster Gejayan muncul di luar pola percakapan pro dan antikhilafah,” tuturnya melalui akun Twitter @ismailfahmi, Senin (23/9/2019).

Olej karena itu, lanjutnya, dari peta yang dianalisis, dapat dilihat dengan jelas, bahwa tagar #GejayanMemanggil ini tidak ada hubungannya dengan mereka yang selama ini memperjuangkan khilafah, yang sering bikin trending topik, dan yang antikhilafah, yang biasanya dari kelompok pro Pemerintah. Tagar ini menurutnya murni sebagai cluster baru.

“Mereka yang pro dan antikhilafah malah tampak sibuk sendiri dengan isu tersebut dan tidak berkaitan dengan tagar Gejayan. Dari data Drone Emprit, dapat disimpulkan bahwa gerakan #GejayanMemanggil ini dimotori oleh cluster baru dari mahasiswa, yang jauh dari core cluster baik yang pro apalagi yang kontra khilafah. ,” pungkasnya.

Ribuan mahasiswa di DIY turun ke jalan memenuhi Pertigaan Colombo, Senin (23/9/2019). Mereka menyuarakan tujuh tuntutan, tak ada satu pun tuntutan tentang khilafah maupun menggulingkan pemerintahan yang sah. Demonstran juga menegaskan aksi tersebut murni berasal dari keresahan akan terancamnya nilai demokrasi dan tak ditungganggi kepentingan lain.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia