Surya Paloh Bicara Kebangsaan di Kampus UI Salemba

Surya Paloh menyampaikan kuliah umum bertajuk, Indonesia Kini dan Masa Depan di Kampus Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta Pusat, Rabu (14/8/2019). - Antara Foto/Syaiful Hakim
15 Agustus 2019 00:17 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA--Ketua umum partai Nasdem, Surya Paloh menyebut radikalisme merupakan tantangan masyarakat Indonesia secara menyeluruh. Ia berharap NKRI tidak akan pecah karena aliran radikalisme dan tidak ikut terpengaruh dalam godaan negara manapun.

"Ini adalah masalah kita bersama. Saya adalah bagian daripada anak-anak bangsa yang masih punya harapan dan doa. Dengan seluruh pengorbanan para syuhada bangsa," kata Paloh di Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta Pusat, Kamis (14/8/2019).

Ia menambahkan pendidikan menjadi aspek penting dalam usaha memajukan suatu bangsa di dunia. Dengan desain kurikulum yang bagus, akan dihasilkan sumber daya manusia yang hebat dan berkualitas tinggi pada masyarakat suatu negara, sehingga mampu bekerja secara baik untuk menghasilkan berbagai produk bermutu tinggi yang mampu memiliki daya saing di pasar global.

Selain itu harus ada internalisasi dan penguatan nilai luhur Pancasila. Ideologi Pancasila harus dapat dijadikan rujukan utama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pancasila harus direaktualisasikan, sebagai sumber inspirasi yang implementatif bagi pembangunan dan proses demokrasi bangsa.

"Saya masih berharap untuk berjuang agar NKRI tidak boleh berubah, nggak boleh beda dalam hal apa pun juga, tapi dalam satu hal komitmen, kita Indonesia. Kita bukan Amerika, Eropa, Arab, kita Indonesia," katanya.

Ia mengatakan tantangan Indonesia di masa kini dan masa depan yang paling utama adalah globalisasi dan persaingan. Dia mengimbau masyarakat hati-hati terhadap tantangan globalisasi karena kerap memberikan dampak negatif bagi Indonesia.

"Jadi kalau ditanya tantangan kita ke depan apa, bagaimana, jawaban yang normatif, saya sebutkan tantangan kita hidup bersaing dan berkompetensi dengan globalisasi. Maka teknologi, informasi, modernisasi, kita bikin. Salahkah itu? Tidak salah," ujarnya.

Paloh menilai sebenarnya Indonesia malu-malu kucing untuk mendeklarasikan sebagai negara kapitalis yang liberal. "Kita ini malu-malu kucing untuk mendeklarasikan Indonesia hari ini adalah negara kapitalis, yang liberal, itulah Indonesia hari ini," jelasnya.

Tokoh nasional ini pun menyayangkan sistem politik yang cenderung kapitalis dan liberal di Indonesia, dimana tidak mendapat perhatian oleh para akademisi. Padahal, realitas di Indonesia saat ini bertentangan dengan pancasila.

"Tidak ada pengamat, lembaga penelitian dan lembaga ilmiah tidak memperhatikan. You tahu enggak bangsa kita ini adalah bangsa yang kapitalis hari ini. You tahu enggak bangsa kita ini bangsa yang sangat liberal hari ini. Ngomong Pancasila, mana itu Pancasila. Tanpa kita sadari juga, kalau ini memang kita masuk dalam tahapan apa yang dikategorikan negara kapitalis," ucapnya.

Menurut dia, saat ini Indonesia terlalu bersahabat dengan pragmatisme transaksional. Kemudian, knowledge skills melalui proses achievement yang tepat, apa salahnya, tetapi apa yang terjadi kemiskinan, kebodohan masih tetap.

"Kita bertikai satu sama lain. Kita dekat dengan materialistik, kita bersahabat dengan pragmatisme transaksional, kita pakai jubah nilai-nilai religi, tapi kita sebenarnya penuh hipokrisi [munafik]," tuturnya.

Di hadapan civitas akademi UI, Surya juga mempertanyakan apakah masyarakat Indonesia mampu mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini karena sistem yang tumbuh dan berkembang adalah non-Pancasila. "Ada ideologi baru yang ditawarkan, entah apa bentuknya, saya minta penelitian dari UI," ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Surya Paloh ditemani oleh elite-elite NasDem, di antaranya, Sekjen NasDem Johnny G Plate, Ketua DPP NasDem Syahrul Yasin Limpo, Rachmat Gobel, Martin Manurung, Ketum Garda Pemuda NasDem Prananda Surya Paloh.

Sumber : Suara.com/Antara