Perolehan Suara Terus Tergerus, Partai Golkar Disarankan Rangkul Pemilih Milenial

Seorang anak memegang bendera partai Golar saat apel siaga partai berlambang pohon beringin tersebut di Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (25/4). - Bisnis/Paulus Tandi Bone
08 Agustus 2019 06:17 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA-- Perolehan suara Partai Golkar terus menurun dalam setiap Pemilu. Lembaga riset politik IndexPolitica mengingatkan partai ini untuk mulai merangkul kalangan pemilih milenial jika tidak ingin perolehan suaranya kian tergerus pada pemilu-pemilu mendatang.

"Dari tren suara dan perolehan kursi Golkar di setiap pemilu, sejak masa reformasi 2004 itu terus menurun," kata Direktur Eksekutif IndexPolitica Denny Charter, di Jakarta, Rabu (7/8/2019).

Hal tersebut diungkapkannya saat seminar dan diskusi "Kupas Tuntas Persoalan Kepemimpinan Partai Golkar" yang diselenggarakan Barisan Pemuda Partai Golkar (BPPG).

Denny menyebutkan perolehan suara Golkar pada Pemilu 2004 sebesar 21,58 persen, Pemilu 2009 (20,85 persen), Pemilu 2014 (18,95 persen), dan Pemilu 2019 hanya 12,31 persen.

"Trennya turun terus, dari 21 persen, 20 persen, 18 persen, dan 12 persen. Tren ini normal. Artinya, kalau tidak ada perubahan ini akan terus turun," katanya.

Jika dibiarkan terus, ia mengkhawatirkan Golkar akan berada di zona degradasi pada 10 tahun ke depan.

Penurunan itu, kata dia, salah satunya disebabkan semakin berkurangnya pangsa pemilih, sebab pemilih Golkar selama ini didominasi kalangan tua.

"Dari survei kami, pemilih Golkar sebesar 56,31 persen bukan pemilih milenial, pemilih tua. Yang milenial hanya 43,69 persen. Ya, tren menurun tadi ada hubungannya," katanya.

Dilihat dari komposisi pemilih berdasarkan kelompok umur, kata dia, 57,15 persen pemilih di Indonesia adalah kalangan milenial atau anak-anak muda dengan rentang usia 17-40 tahun.

Artinya, kata Denny, kepemimpinan Golkar ke depan harus mampu merangkul kalangan milenial agar perolehan suara Golkar tidak terus-menerus tergerus.

"'Mindset'-nya, kalau mau berubah, ya, harus diubah. Tidak kemudian pemimpin dari milenial. Tetapi, pemimpin yang mengerti bagaimana mengondisikan kalangan milenial," katanya.

Sumber : Antara