Kapal Migran Dikabarkan Terbalik di Lepas Pantai Suriah, 61 Orang Tewas
Kapal terbalik di lepas pantai Suriah menewaskan sedikitnya 61 orang yang merupakan migran dan pengungsi.
Penampakan peluncuran rudal Korea Utara pada hari Kamis, dalam gambar tak bertanggal rilis oleh Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) pada tanggal 26 Juli 2019./KCNA melalui Reuters
Harianjogja.com, JAKARTA - Korea Utara (Korut) dilaporkan kembali menembakkan dua rudal tak dikenal dari wilayah Hwanghae bagian timur pada hari ini, Selasa (6/8/2019).
Kepala Staf Gabungan Korea Selatan melaporkan bahwa kedua proyektil itu ditembakkan ke arah laut pada pagi hari. Peluru kendali tersebut bukan amunisi canggih pertama yang diluncurkan Korut dalam beberapa bulan belakangan.
Sebelumnya, Korut juga menembakkan sejumlah peluru kendali yang memicu peningkatan ketegangan di kawasan. Hal itu membuat sejumlah pihak khawatir akan kelanjutan negosiasi denuklirisasi.

Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un menyaksikan uji coba dua rudal balistik jarak pendek pada hari Kamis, dalam gambar tak bertanggal ini dirilis oleh Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) pada 26 Juli 2019./kCNA melalui Reuters
Korut sendiri tetap membuka pintu negosiasi perlucutan senjata nuklir dengan Amerika Serikat yang sampai saat ini masih mandek. Namun, negara itu mengancam bakal terus melakukan uji coba nuklir jika AS dan Korsel tak menghentikan latihan militer gabungan.
Tekad mereka kian kuat setelah melihat perkembangan belakangan ini, mulai dari pengiriman jet tempur F-35A ke Korsel, kunjungan kapal perang bersenjata nuklir ke pelabuhan Seoul, hingga uji coba rudal balistik oleh Washington.
"AS dan Korsel terus membahas soal dialog. Aan tetapi ketika mereka tak membicarakannya, mereka meruncingkan pedang untuk melukai kami," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Korut kepada kantor berita KCNA seperti dikutip CNN.com, Selasa (6/8/2019).
Menurut Korut, perundingan denuklirisasi tidak dapat berjalan beriringan dengan latihan militer. Selama ini, Korut menganggap latihan gabungan AS-Korsel sebagai upaya untuk menginvasi negaranya.
Setelah pertemuan pertama Kim Jong-un dan Presiden Donald Trump di Singapura tahun lalu, AS sempat menghentikan latihan militer dengan Korsel agar perundingan berjalan mulus.

Orang-orang menonton TV yang memperlihatkan file gambar rudal Korea Utara untuk laporan berita tentang Korea Utara yang menembakkan rudal balistik jarak pendek, di Seoul, Korea Selatan, 2 Agustus 2019./Reuters
Meski demikian, sejak pertemuan pertama itu, hubungan AS dan Korut terus mengalami pasang surut. Hubungan kedua negara kian memburuk setelah pertemuan kedua Kim dan Trump di Hanoi berakhir tanpa kesepakatan apa pun.
Di tengah ketidakpastian tersebut, Trump tetap ingin menghidupkan perundingan. Dia pun mengajak Kim bertemu di perbatasan Korsel dan Korut pada akhir Juni lalu
Dalam pertemuan tersebut, kedua pemimpin sepakat melanjutkan perundingan denuklirisasi. Hanya saja AS tetap menggelar latihan gabungan dengan Korsel.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Kapal terbalik di lepas pantai Suriah menewaskan sedikitnya 61 orang yang merupakan migran dan pengungsi.
DPRD DIY menyoroti indikator kinerja daerah yang baru 40 persen meski ekonomi DIY tumbuh dan angka kemiskinan menurun.
Maskapai penerbangan Eropa mulai memangkas penerbangan akibat lonjakan harga bahan bakar jet yang membuat sejumlah rute tidak lagi menguntungkan.
Meta menghadirkan fitur Incognito Chat AI di WhatsApp dengan teknologi Pemrosesan Privat untuk menjaga kerahasiaan percakapan pengguna.
KPK memperpanjang penahanan Bupati nonaktif Tulungagung Gatut Sunu Wibowo terkait dugaan korupsi pemerasan OPD.
Mendag Budi Santoso memastikan impor bahan baku plastik berupa nafta dari AS mulai masuk Indonesia pada pertengahan Mei 2026.