PLN Akui Pemulihan Berjalan Lambat, Ini Penyebabnya..

Presiden Joko Widodo (kedua kanan) melakukan kunjungan ke kantor pusat PT PLN (persero), Senin (5/8/2019). Kedatangannya untuk meminta penjelasan pascapemadaman listrik massal di sebagian Pulau Jawa pada Minggu (4/8). - Bisnis/Amanda Kusumawardhani
05 Agustus 2019 14:27 WIB Ni Putu Eka Wiratmini News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA--PT PLN (Persero) mengakui proses pemulihan padamnya listrik yang terjadi sejak Minggu (4/8/2019) siang di wilayah Jabodetabek berjalan lambat. 

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama PLN Sripeni Inten Cahyani menjelaskan mesin pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Suralaya yang sudah telanjur dingin cukup menyulitkan masuknya listrik ke dalam sistem. PLN awalnya memprediksi pemulihan akan berlangsung selama empat jam, namun pasokan listrik dari PLTU Suralaya berkapasitas 2.800 MW yang seharusnya masuk ke sistem justru berjalan lambat. 

Pada Senin (5/8/2019) dini hari, sekitar pukul 03.00 WIB, kapasitas listrik yang masuk ke sistem adalah sebesar 400 MW dari PLTU Suralaya Unit 3. Pasokan listrik tersebut kemudian masuk ke unit pusat pengaturan beban (UP2B) Gandul. 

Pasokan listrik ke Gandul juga didukung oleh pembangkit listrik tenaga mesin gas (PLTMG) Muara Karang PLTU Priok. Sejumlah pembangkit yang beroperasi ini yang mendukung kelistrikan di DKI Jakarta. 

"Kami akui prosesnya memang lambat, masuk ke Suralaya masih bertegangan sedikit," katanya, Senin (5/8/2019). 

Menurutnya, untuk menghidupkan pembangkit memang memerlukan tegangan yang menjadi pemicu proses produksi listrik. Hanya ada beberapa pebangkit yang memiliki kemampuan cepat dalam menghidupkan mesin. 

Sementara itu, gangguan yang dialami sejumlah pembangkit di Jawa bagian barat sebelumnya diawali adanya tegangan turun akibat gangguan atau trip pad transmisi Ungaran-Pemalang. Gangguan transmisi bermula dari ketidakseimbangan sistem antara jawa bagian barat dengan timur. 

"Sistem harus dijaga tegangan maupun frekuensi, jadi memang ini salah satu yang sangat hati-hati," katanya. 

Biasanya, dalam melakukan proses distribusi listrik sampai ke pelanggan, PLN harus memulai dari jaringan transmisi bertegangan 500 kilovolt (kV), kemudian ke transmisi 150 kV dan masuk ke 20 kV. Dalam kondisi ini, PLN melakukan pemangkasan distribusi dan menyatukannya dalam advance integrated control center

"Ini kami pangkas dan kami satukan dan jadi advance integrated control center antara penyaluran dan kontribusi antara 150 dan 20 [transmisi bertegangan 150 kV dan 20 kV]," katanya. 

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia