Masjid Al Mahdi, Wujud Akulturasi Budaya

Masjid Al Mahdi yang bergaya arsitektur Tionghoa di Perumahan Armada Estate Jl Delima Raya, Kota Magelang, Jawa Tengah, Selasa (9/7)./ Harian Jogja - Kusnul Isti Qomah
12 Juli 2019 05:27 WIB Kusnul Isti Qomah News Share :

Harianjogja.com, MAGELANG—Akulturasi budaya bisa tampak dalam bentuk bangunan termasuk tempat ibadah. Wujud akulturasi itu bisa dilihat di sebuah masjid yang terletak di Perumahan Armada Estate Jl Delima Raya, Kota Magelang, Jawa Tengah.

Masjid Al Mahdi namanya. Masjid ini dibangun dengan gaya arsitektur khas Tiongkok dengan warna dominan merah, bentuk atap, tiang yang khas Tiongkok, dan ornamen khas Tiongkok seperti lampion, jendela, ukiran, dan bentuk ventilasi udara yang khas.

Masjid ini dibangun oleh warga kompleks perubahan Budi Suroso (Kwee Giok Yong) atau yang juga dikenal dengan nama Mahdi. Ia juga merupakan ketua takmir masjid.

Anak Mahdi, Kelvin Muhammad Suroso mengatakan awal mula pembangunan masjid yakni keinginan penghuni kompleks yang beragama Islam untuk memiliki masjid sendiri yang dekat. Sebelum masjid ini dibangun, warga harus menempuh jarak sekitar 400 hingga 500 meter untuk menuju masjid terdekat.

Sebelum menjadi masjid, dahulunya bangunan tersebut merupakan rumah. Ketika penghuni rumah yang terletak di sudut itu pindah ke lokasi di seberang jalan, Mahdi pun membeli rumah tersebut. "Kemudian rumahnya dibongkar dan dibangun menjadi masjid. Ini statusnya wakaf," kata Kelvin kepada Harian Jogja ketika ditemui di Masjid Al Mahdi, Kota Magelang, Jateng, Selasa (9/7). Adapun saat Harian Jogja berkunjung ke Masjid Al Mahdi, Mahdi masih berada di luar negeri.

Pembangunan pun dimulai pada 1 Agustus 2016. Proses pembangunan kurang lebih menghabiskan waktu sembilan bulan dan masjid diresmikan oleh Wali Kota Magelang Sigit Widyonindito pada 9 April 2017. "Arsitektur memang sengaja dipilih gaya Tiongkok karena bapak juga keturunan Tionghoa. Dan mayoritas warga di kompleks ini Tionghoa. Semua setuju mau pakai arsitektur itu. Selain itu, seperti kata bapak, ingin menunjukkan bahwa Islam ada di mana-mana," jelas dia.

 

Kerukunan Warga

Kelvin mengatakan arsitektur masjid tersebut juga wujud akulturasi budaya dan wujud kerukunan warga. Meskipun memiliki latar belakang dan keyakinan yang berbeda, warga bisa menjaga kerukunan dan keharmonisan hidup bermasyarakat

"Masjid ini selalu dijaga kebersihannya agar jemaah nyaman. Asisten rumah tangga kami yang mengerjakan itu setiap hari. Dia memang ditugasi bapak untuk menjaga kebersihan masjid," kata dia.

Loso, salah satu pengurus masjid mengungkapkan keberadaan masjid tersebut memudahkan warga kompleks untuk beribadah sehingga tak perlu jauh-jauh lagi. Masjid tersebut juga dimanfaatkan untuk salat tarawih saat Ramadan, salat Idulfitri, dan Iduladha.

Tak jarang pula warga daerah lain yang kebetulan melintas sengaja mampir untuk salat ataupun foto-foto. Masjid ini juga kerap digunakan untuk akad nikah dan proses menjadi mualaf. "Pejabat juga banyak yang ke sini. Dahulu itu pernah Pak Ganjar [Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo] salat di sini. Enggak ada yang tahu kalau beliau mau mampir," kata dia.

Ia mengaku senang banyak jemaah yang beribadah di masjid Al Mahdi. Ia mengakui keunikan arsitekturnya menjadi daya tarik warga sekitar ataupun luar kota. "Bangunannya unik. Mulai dari pintu hingga lampion. Lampionnya itu ada tulisan asmaul husna. Jadi tambah unik saja," ungkap dia.

Ia mengatakan pesan yang ingin disampaikan melalui bentuk masjid yang unik tersebut yakni Islam ada di mana-mana.

Salah satu pengunjung masjid Al Mahdi, Fabryan mengaku cukup sering salat di masjid tersebut meskipun rumahnya cukup jauh dari masjid tersebut. Ia mengaku nyaman beribadah di masjid tersebut karena terjaga kebersihannya, terawat.

"Selain itu, arsitekturnya unik sekali bagus. Ada perpaduan dengan budaya Tiongkok. Lokasinya juga strategis, bersih, terawat, dan enggak bakal kapok salat di situ," terang dia.

Ketua I Jogja Chinese Art and Culture Center (JCACC) Jimmy Sutanto mengungkapkan sangat menghargai adanya masjid yang menyerap arsitektur khas Tiongkok. Hal ini menandakan hubungan yang baik antara Tiongkok dan Islam. Keberagaman budaya tidak menjadi persoalan dan justru bisa mempererat hubungan antarsesama manusia.

Menurutnya, Islam; Tiongkok, dan Indonesia memiliki hubungan yang erat sejak zaman dahulu. "Orang yang memperkelankan Islam pertama kali ke Indonesia itu sebenarnya Laksamana Cheng Ho. Beliau itu pemeluk Islam," kata dia.