Pengamat Nilai Gerindra Butuh Penyegaran Kepemimpinan

Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto (kanan) didampingi Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon saat menggunakan hak pilihnya pada Pemilu Presiden 2019 di TPS 041, Kampung Curug, Desa Bojong Koneng, Kecamatan Babakan Madang Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu, (17/4/2019). - Bisnis/Nurul Hidayat
02 Juli 2019 06:57 WIB Aziz Rahardyan News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA — Partai Gerindra sebagai salah satu partai politik besar Tanah Air dinilai butuh 'penyegaran' setelah lebih dari 10 tahun di bawah pimpinan Prabowo Subianto.

Peneliti Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Aisah Putri Budiarti menilai Gerindra butuh penyegaran dalam melakukan manuver politik, untuk meningkat dukungan konstituennya ke depan.

Menurutnya, Gerindra kini butuh sosok-sosok cerdas di sisi depan, yang bisa membawa kesan ke publik sebagai partai berkualitas, walaupun dalam posisi oposisi.

"Para politisi Gerindra harus memperlihatkan kualitasnya dengan tidak sembarangan memberikan komentar dan kritik pedas kepada pemerintah, namun juga didasari dengan argumentasi yang kuat dan mendasar, serta dengan penyampaian yang santun dan beretika," ungkapnya kepada JIBI/Bisnis, Senin (1/7/2019).

"Hal ini penting, karena masyarakat kita saat ini sangat melek dengan berita politik dan informasi, sehingga berbagai pendapat politisi dapat di-crosscheck oleh mereka kebenarannya. Apabila, politisi sekedar mengkritisi tanpa argumen kuat, maka mereka akan dinilai buruk oleh publik," tambahnya.

Sedikit berbeda dengan Putri, Direktur Lingkar Madani (LIMA) Indonesia Ray Rangkuti justru menyoroti adanya penyegaran kepemimpinan.

Menurutnya, melewati tiga periode di luar pemerintahan bukanlah sesuatu yang singkat. Terlebih, tanpa adanya regenerasi sosok pemimpin. Oleh sebab itu, menurut Ray, inilah pekerjaan rumah tersendiri bagi partai berlambang garuda emas ini.

"Faktor alam tak bisa dipungkiri pak Prabowo makin menua, kemampuan mengelola politik pun akan berkurang, dan figurnya tidak akan terlalu laku lagi di 2024,” ujar Ray.

"Saya rasa pak Prabowo juga sadar. Karena kalau lima tahun lagi pak Prabowo masih mengelola Gerindra, regenerasi bisa terlambat dan pertaruhannya Gerindra sendiri," ungkapnya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia