Kemenhub Kaji Perpaduan Bus dan Kereta Ringan

Warga bersiap mencoba kereta Lintas Rel Terpadu (LRT) saat uji publik di Stasiun Boulevard Utara, Kelapa Gading, Jakarta, Selasa (11/6/2019). - ANTARA/Dhemas Reviyanto
24 Juni 2019 03:47 WIB Rinaldi Mohammad Azka News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Kementerian Perhubungan mengkaji angkutan massal yang merupakan gabungan antara Bus Rapid Transit (BRT) dan Light Rapid Transit (LRT) bernama “O-Bhan Busway”, sebagai alternatif pilihan angkutan massal perkotaan di Indonesia.

Dirjen Perhubungan Darat Kemenhub, Budi Setiyadi, mengatakan dengan baiknya infrastruktur jalan bus jenis terbaru ini dapat dimanfaatkan untuk mengurangi 'jatah' kendaraan pribadi di lalu lintas jalan.

“Dengan semakin terbangunnya infrastruktur jalan, tentunya perlu dilakukan antisipasi agar masyarakat tidak memenuhinya dengan kendaraan pribadi. Caranya yaitu dengan mengoptimalisasikan angkutan masalnya,” jelasnya, Minggu (23/6/2019).

O-Bahn Busway adalah busway berpemandu yang merupakan bagian dari sistem transit BUS cepat. O-Bahn Busway ini memadukan konsep BRT dan LRT dalam satu jalur yang sama. Sistem ini pertama kali diterapkan di Kota Essen, Jerman dan saat ini sudah digunakan di berbagai negara seperti Australia dan Jepang.

Bus ini memiliki roda pandu yang berada di samping ban depan bus yang menyatu dengan batang kemudi roda depan, sehingga ketika bus memasuki jalur O-Bahn, supir tak perlu lagi mengendalikan arah bus karena roda pandu akan mengarahkan bus sesuai dengan arah rel pandu serta mencegah bus terperosok ke celah yang ada di jalur.

Kemenhub tengah berupaya mengoptimalkan prasarana dan sarana Transportasi Massal Perkotaan di Indonesia, dalam rangka mengurangi penggunaan kendaraan pribadi yang berdampak terjadinya kemacetan yang menjadi permasalahan serius di daerah perkotaan di Indonesia.

Berbagai macam angkutan massal perkotaan telah dibangun seperti Bus Rapid Transit (BRT), Light Rapid Transit (LRT) dan Mass Rapid Transit (MRT).

“Tahun 2019 ini adalah era Kementerian Perhubungan untuk memperbaiki semua sarana dan fasilitas menyangkut angkutan umum. Kita juga harus cepat merespons karena beberapa kota besar di Indonesia sudah mulai mengalami kemacetan,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Perkeretaapian, Zulfikri menyampaikan seiring dengan perkembangan teknologi, saat ini banyak dikembangkan moda angkutan massal seperti O-Bhan, yang dapat dibangun dengan biaya lebih murah dibandingkan dengan LRT, dengan sedikit lebih mahal dibandingkan dengan BRT biasa.

“Kapasitasnya lebih besar dari pada busway, tapi lebih kecil dari LRT, anggarannya memang lebih besar dari pada busway karena kita harus membangun beberapa ruas jalur. Tempatnya mungkin di luar dari Jakarta, karena itu kita perlu lihat lagi bagaimana masterplan kotanya,” terangnya.

Dia menjelaskan Kemenhub akan melakukan kajian lebih lanjut dengan duduk bersama dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan terkait.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia