Israel Ubah Nama Dataran Tinggi Golan Menjadi Dataran Tinggi Trump

Presiden AS Donald Trump berada di sebelah Perdana Menteri Israel Benjamin dalam upacara penandatanganan proklamasi yang mengakui kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan di Ruang Penerimaan Diplomatik di Gedung Putih di Washington, AS, 25 Maret 2019. - Reuters
17 Juni 2019 23:27 WIB John Andhi Oktaveri News Share :

Harianjogja.com, JOGJA – Perdana Menteri (PM)  Israel Benjamin Netanyahu meresmikan permukiman baru dengan nama Trump Heights atau Dataran Tinggi Trump sebagai pengganti Dataran Tinggi Golan. Hal itu memicu kontroversi karena wilayah tersebut diakui PBB sebagai wilayah Suriah.

Saat peresmian nama itu, Netanyahu mengatakan Trump Heights merupakan bentuk penghargaan pada Presiden AS, Donald Trump yang telah memutuskan mengakui kedauatan Israel di wilayah itu. Para pengeritik menyebut langkah itu merupakan bentuk nyata dari pelanggaran kedaulatan wilayah seperti dikutip BBC.com, Senin (17/6/2019).

“Terima kasih PM @netanyahu dan Israel atas kehormatan ini,” kata Trump melalui akun Twitter tak lama setelah prosesi tersebut.

Netanyahu sudah mengumumkan rencana mengabadikan nama Trump di salah satu daerah di Dataran Tinggi Golan sejak Mei lalu.

Dengan keputusan yang diambil pada 25 Maret itu, Trump menghancurkan konsensus internasional karena sebelumnya, Dataran Tinggi Golan merupakan daerah sengketa antara Israel dan Suriah.

Israel merebut dataran di perbatasan kedua negara itu dari Suriah saat Perang Enam Hari yang pecah pada 1967 silam. Mereka kemudian mencaplok Dataran Tinggi Golan dari Suriah pada 1991.

“Dataran Tinggi Golan adalah bagian dari Israel dan akan selalu seperti itu. Trump merupakan teman baik Israel yang sudah mengambil keputusan yang tak pernah diambil sebelumnya,” kata Netanyahu.

Hadir dalam upacara peresmian tersebut, Duta Besar AS untuk Israel, David Friedman yang mengatakan penamaan kawasan itu “merupakan gestur yang luar biasa.”

Netanyahu kemudian membeberkan sejumlah janji bagi Dataran Tinggi Trump, termasuk pembangunan jalan dan rumah, juga fasilitas edukasi dan pariwisata.

Seorang penduduk setempat, Vladimir Pelopzerkovski, berharap janji itu benar-benar dipenuhi. Namun, setelah berbicara dengan Netanyahu, dia ragu janji itu akan membawa perubahan besar.

“Saya tidak yakin janji-janji ini akan membawa perubahan yang sesungguhnya,” ujar Pelopzerkovski.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia