Advertisement
Pindahkan Ibu Kota Negara, Ini Alasan Logis dan Tujuannya
ilustrasi - Bisnis/Felix Jody Kinarwan
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA -- Sejumlah alasan memlatarbelakangi rencana pembangunan Ibu Kota negara oleh pemerintah akan segera dimulai pada beberapa tahun mendatang.
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional atau kepala Bappenas Bambang P.S. Brodjonegoro mengatakan dalam pemaparannya bahwa pemerintah memiliki berbagai alasan logis atas tujuan pemindahan Ibu Kota.
Advertisement
Salah satunya yakni agar kegiatan perekonomian Indonesia dapat menyebar lebih baik dan tidak hanya terkonsentrasi di pulau Jawa. HIngga kini, kerugian ekonomi akibat kemacetan mencapai Rp56 triliun pertahunnya. (Pustral UGM, 2013)
Berdasarkan survei badan Pusat Statistika (2018), Pertumbuhan ekonomi di pulau Jawa mencapai 5,61 persen lebih tinggi dibandingkan dengan pulau-pulau di luar Pulau Jawa yakni rata-rata sebesar 4,7 persen.
BACA JUGA
Selain faktor pertumbuhan ekonomi yang kurang merata, menurut Bambang, sebagian besar wilayah pulau Jawa sudah mengalami kiris ketersediaan air bersih terutama untuk DKI Jakarta dan provinsi Jawa Timur.
Berdasarkan survei KLHS RP JMN, 2019, proyeksi ketersediaan air di wilayah pulau Jawa telah mengalami kelangkaan. Saat ini ketersediaan air di Jawa hanya 630.26 meter kubik perkapita pertahunnya. ukuran tersebut lebih sedikit dibandingkan ketersediaan air di daerah Bali yakni sebanyak 1920.31 m3, Kalimantan sebanyak 46412.35.
Pada 2040, diproyeksikan ketersediaan air di pulau jawa akan memasuki kategori merah atau kelangkaan mutlak dengan penurunan ketersediaan air hingga menyusut mencapai 476.62 meter kubik perkapita pertahun.
Sedangkan di berbagai kota lainnya, kebutuhan air masih berada di kategori hijau atau kelayakan air tinggi atau diatas 1700 meterkubik perkapita pertahun.
Selain itu, sepanjang periode 2000-2030 konsumsi lahan terbangun terbesar terdapat di pulau jawa dengan tren cenderung menurun dan pulau Sumatera yang cenderung statis. Hal ini mengindikasikan terjadi penurunan daya dukung dan daya tampung lahan terbangun, khususnya di Jawa.
Berdasarkan data tersebut, Bambang menuturkan bahwa beban Jakarta telah meningkat, sehingga penurunan daya dukung lingkungan dan kerugian ekonomi semakin tinggi.
Hal ini akan memicu banjir, tanah turun dan muka air laut naik, serta kualitas air sungai 96% tercemar berat. Selain itu, kemacetan tinggi dan sistem pengelolaan transportasi sangat buruk.
Berbagai strategi dilakukan beberapa hal diantaranya yakni pemerintah melakukan pengembangan ibu kota negara dalam sistem perkotaan dan konstelasi wilayah dengan mengembangkan 6 wilayah.
Seperti pengembangan 6 wilayah Metropolitan di Luar Jawa, pengembangan kawasan Ekonomi Khusus dan Kawasan Industri sebagai pusat pertumbuhan wilayah, pengembangan sistem perkotaan nasional serta memindahkan Ibu Kota Negara.
"Strateginya yakni dengan mendorong peran kawasan strategis nasional (KSN) perkotaan dan metropolitan dalam mendukung pertumbuhan wilayah atau pulau, serta pengembangan rencana investasi sektor strategis bagi metropolitan baru," tuturnya dikutip Bisnis Minggu (16/6/2019).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
HUT ke-22 Tagana Sleman: Danang Maharsa Puji Dedikasi Relawan
Advertisement
Musim Semi Tiba, Keindahan Bunga Sakura di Taman Yuyuantan Beijing
Advertisement
Berita Populer
- PM Thailand Tinggalkan Rolls-Royce, Pilih Mobil Listrik China
- Cedera Mengintai, Jorge Martin Waspadai MotoGP Amerika
- 6.308 WNI Terjerat Scam di Kamboja, Ribuan Dipulangkan
- Bos Rokok HS Umrahkan 150 Karyawan, Siapkan Mess Khusus Difabel
- Pemkab Sleman Perkuat Tata Kelola Data, Gandeng Kemendagri
- Babak Pertama: Indonesia 2-0 atas Saint Kitts, Beckham Putra Menggila
- Al-Aqsa Ditutup 4 Pekan, Muslim Dilarang Salat Jumat
Advertisement
Advertisement







