Klaim Polisi, Teroris Bekasi Ingin Tunggangi People Power Usulan Amien Rais

Ilustrasi terorisme - JIBI
06 Mei 2019 17:27 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA- Polisi mengklaim terduga teroris di Bekasi, Jawa Barat ingin menunggangi gerakan people power yang dihembuskan untuk mendelegitimasi pemilu.

Terduga teroris dari kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang ditangkap di Bekasi, akhir pekan lalu, terafiliasi dengan jaringan ISIS.

Karopenmas Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan, teroris JAD di Bekasi merupakan kelompok terstruktur dengan tujuan menyerang aparat kepolisian yang sedang bertugas mengamankan Pemilu dan Pilpres 2019.

Dedi mengatakan, kelompok teroris itu juga berencana menunggangi gerakan massa terkait Pemilu 2019 semisal people power untuk melancarkan serangan.

People power sebelumnya diwacanakan politikus senior PAN Amien Rais sebagai bentuk protes atas pelaksanaan pemilu yang dianggap sarat kecurangan.

Bahkan, lanjut Dedi, tidak menutup kemungkinan aksi teror juga dilakukan saat KPU mengumumkan hasil akhir rekapitulasi suara tanggal 22 Mei 2019.

"Apabila ada kejadian semacam people power, dijadikan sarana bagi kelompok itu untuk langsung melaksanakan aksi terorismenya, aksi serangannya dan ini berbahaya," kata Dedi di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (6/5/2019).

Selain itu, para teroris juga menunggu momentum adanya unjuk rasa di ibu kota yang berpotensi ricuh, guna melaksanakan aksi teror hingga meledakan bom bunuh diri.

Serangan tersebut, menurut Dedi, sengaja dilakukan untuk memicu kelompok lainnya melancarkan serangan serupa.

"Ketika di Jakarta ada unjuk rasa mengarah pada tindakan anarkistis, ini merupakan momentum bagi yang bersangkutan untuk melakukan serangan aksi bom bunuh diri atau melakukan aksi terorisme," kata Dedi.

Adapun target kelompok teroris saat melancarkan aksi kejinya pada situasi tersebut bukan lagi hanya aparat kepolisian, tapi juga masyarakat.

"Dia [teroris] memanfaatkan momentum itu untuk membuat suatu kegaduhan yang lebih luas secara massif. Memancing dan memantik. Dengan adanya serangan itu, maka emosi masyarakat akan menjadi terpengaruh dan ini berbahaya.”

Sumber : Suara.com