HARI TARI SEDUNIA: Jalan Panjang Membangunkan Kesenian yang Tertidur Pulas

Foto ilustrasi. Anak-anak menari Joko Tarub di Dusun Trengguno Lor, Desa Sidorejo, Kecamatan Ponjong, Senin (11/3/2019) malam. - Harian Jogja/Rahmat Jiwandono
28 April 2019 07:07 WIB Salsabila Annisa Azmi & Lajeng Padmaratri News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Minim penerus menjadi penyebab punahnya beberapa tarian tradisional Indonesia. menyambut Hari Tari Sedunia pada 29 April besok, Harian Jogja menyoroti revitalisasi tari sebagai upaya pemerintah dalam melestarikan kesenian daerah. Berikut laporan wartawan Harian Jogja Salsabila Annisa Azmi & Lajeng Padmaratri.

DIY memiliki banyak kekayaan tari istana dan tari tradisional kerakyatan baik. Sebagian masih sering ditampilkan, tetapi tak sedikit yang perlahan punah. Melalui program revitalisasi tari oleh Taman Budaya Yogyakarta (TBY) sejak 2014, kesenian yang nyaris punah didokumentasikan untuk kepentingan penelitian dan pentas seni.

Kepala Seksi Penyajian dan Pengembangan Kebudayaan TBY, Suraya, mengatakan revitalisasi seni tari di DIY menghabiskan waktu lima bulan untuk satu tarian. Mulanya, tim lapangan TBY akan merekap daftar tarian di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan di Pura Pakualaman, kemudian menelusuri lokasi tarian itu berkembang.

“Kami cari pendukung seninya mulai dari narasumber, koreografer, penata musik, penata tari sampai pelaku tarinya. Mereka masih ada tidak? Masih sering dipentaskan tidak? Jika sebagian besar pendukung tarinya tidak ada dan jarang sekali dipentaskan berarti itu sudah tanda-tanda kepunahan,” kata Raya beberapa hari lalu.

Setelah suatu tarian dinyatakan nyaris punah, tim akan mewawancarai pendukung seni tari yang tersisa. Misalnya yang tersisa hanyalah pelaku tari, kemudian tim akan mewawancarai soal bentuk tari (tunggal, kelompok atau pasangan) dan kajian historisnya. Setelah itu tim akan mencari koreografer, penata musik, dan penata tari yang masih tersisa untuk bekerja sama mewujudkan revitalisasi tari.

“Setelah terkumpul, kami buat perencanaan kegiatan latihannya dengan para pendukung seni. Kemudian kami menggelar 10 kali latihan.  Delapan kali latihan efektif, latihan kesembilan adalah geladi bersihnya, hari ke-10 penari sanggar yang membawakan revitalisasi tari direkam oleh videografer. Output-nya nanti berupa kepingan CD dan naskah deskripsi transkrip musik serta gerakannya,” kata Raya.

Naskah itu tersimpan rapi di TBY. Raya mengatakan kelak output revitalisasi tari akan digunakan untuk sumber informasi, misalnya untuk riset seni peneliti dan akademisi S2. Melalui naskah tersebut, para penari muda juga dapat mementaskan tarian-tarian itu. Misalnya tari kerakyatan Jabur dari Kulonprogo yang sudah direvitalisasi pada 2017 dipentaskan kembali dalam momentum Pentas Sepanjang Tahun 2018.

“Dipentaskan lagi supaya tidak punah, biasanya dalam setahun, minimal ada satu tarian dari Kraton atau Pura Pakualaman yang kami revitalisasi. Sebab kalau terlalu banyak nanti malah tidak maksimal. Kalau sudah saatnya revitalisasi kesenian rakyat, kami menuju ke dinas kebudayaan masing-masing kabupaten, tergantung jadwalnya,” kata Raya.

Seniwati muda yang turut terlibat dalam revitalisasi Bedhaya Mukti Panukmaningsih pada 2018, Anita Listyo, 29, mengatakan revitalisasi tari sangat penting untuk mewadahi penari generasi muda untuk mengenal kekayaan tari DIY. Anita menjadi koordinator penari dalam tarian Bedhaya Mukti Panukmaningsih. Anita mengatakan banyak penari muda dari sanggar-sanggar yang turut diundang TBY untuk merevitalisasi tari-tari istana atau tari tradisional kerakyatan.

Meski demikian, Anita mengharapkan pemerintah lebih memperhatikan jangka waktu latihan bagi para pendukung seni tari yang terlibat. “Dalam waktu tiga bulan, mempraktikkan tari yang sudah lama tidak ditampilkan menjadi tantangan besar buat kami, karena gerakannya samar-samar, yang ditampilkan itu harus semirip mungkin sama aslinya. Kalau waktu latihannya lebih banyak kan bisa lebih maksimal,” kata Anita.

Jalan Panjang

Sejak 2013, ketika masih bernama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sleman, Dinas Kebudayaan Sleman sudah memiliki program revitalisasi kesenian tradisional. Beberapa kesenian yang direvitalisasi ialah Sruntul, Srandul, Wayang Klithik, dan Wayang Sembung.

Eko Ferianto, Kepala Perlindungan dan Pelestarian Kesenian Bidang Kesenian Dinas Kebudayaan Sleman mengatakan hingga 2019, terhitung sudah 13 kesenian tradisional yang direvitalisasi, antara lain tari Antup, Peksi Moi, dan Wayang Thengul.

“Revitalisasi yang kami programkan adalah kegiatan yang menggali kembali kesenian-kesenian yang dianggap tidur, enggak mati, tetapi tidur. Kami bangunkan lagi dengan beberapa strategi. Kami menggali dulu, me-list beberapa kesenian yang dianggap tidur itu. Ada sekitar 20-an, yang sudah berhasil kita revitalisasi sekitar 15 sejak tahun 2013,” ujar Feri.

Jalan panjang ditempuh Dinas Kebudayaan Sleman dalam proses revitalisasi ini. Pertama adalah meriset sebanyak-banyaknya mengenai kesenian tersebut. Kesenian yang direvitalisasi terbilang sudah berumur sangat tua sehingga narasumber yang mereka temui juga didominasi orang-orang tua yang mengetahui keadaan pada zaman kesenian tersebut berjaya.

“Setelah kami ketemu narasumbernya, kami tanyakan, masih ada enggak yang bisa menghidupkan itu? Karena yang namanya revitalisasi harus ada narasumbernya. Tidak mungkin yang memainkan orang zaman sekarang, nanti revitalisasinya kurang masuk.”

Jika ada yang bisa memeragakan, proses pendokumentasian dilakukan.

“Sementara kalau misalnya pemainnya seharusnya ada 15 orang tetapi baru bisa terlacak tujuh misalnya, yang lain ini bisa enggak diajarin kayak gitu. Itu jadi kendala juga, yang membuat proses jadi agak lama.”

Sekitar empat bulan lamanya Dinas Kebudayaan Sleman biasanya merevitalisasi kesenian tradisional. Feri menyebutkan kendala utama program ini adalah riset. Melacak narasumber yang betul-betul mengetahui kesenian ini tak mudah.

Setelah semua unsur lengkap, kesenian tersebut didokumentasikan dan disosialisasikan kembali ke masyarakat. Kini, dokumentasi tersebut disimpan di Dinas Kebudayaan Sleman dan warga tempat kesenian itu berasal. Dalam prosesnya, Dinas Kebudayaan Sleman melibatkan akademisi dari Institut Seni Indonesia dan Universitas Negeri Yogyakarta.

“Setelah kami dokumentasikan, kami sosialisasikan lagi. Minimal kesenian itu dikenal dulu di daerah. Kemudian naik sampai dengan kecamatan, kabupaten,” kata Feri.

Saat ini, Dinas Kebudayaan Sleman sedang berupaya merevitalisasi kesenian Asmoro Supi yang berasal dari Tempel, Sleman.Namun, Feri masih kesulitan mencari narasumber yang tepat.