PDIP: Momen Pas untuk Pertemuan Jokowi-Prabowo di Bulan Ramadan

DEBAT KEEMPAT CALON PRESIDEN 2019 Capres nomor urut 01 Joko Widodo (kiri) dan Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto (kanan) disaksikan Ketua KPU Arief Budiman (tengah) bersiap mengikuti debat capres 2019 putaran keempat d Jakarta, Sabtu (30/3). Keduanya akan beradu gagasan dan program dalam tema debat ke-4 Pilpres 2019, yaitu ideologi, pemerintahan, keamanan, serta hubungan internasional/JIBI - Bisnis/Nurul Hidayat
26 April 2019 10:57 WIB Aziz Rahardyan News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA — Wacana pertemuan dua calon presiden dan calon wakil presiden terus mendapatkan tanggapan. PDI Perjuangan mendukung apabila pertemuan langsung antara kedua capres Joko Widodo dan Prabowo Subianto akan terjadi selepas pengumuman resmi pemenang Pilpres oleh KPU pada 22 Mei 2019.

Sebelumnya, Wakil Presiden Jusuf Kalla menyarankan adanya pertemuan langsung yang dianggap sebagai puncak rekonsiliasi tersebut. Sedangkan BPN Prabowo-Sandiaga, menghendaki adanya pertemuan tanpa perwakilan, tetapi setelah 22 Mei 2019, atau setelah momen lebaran.

"Apapun pak Prabowo sosok pemimpin, beliau ketua umum partai politik Gerindra yang juga punya pengalaman panjang yang bersama pak Jokowi bisa bertemu dan berdialog," ungkap Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto, Kamis (25/4/2019).

"Jadi kami sepakat bahwa pertemuan secara langsung antara pak Jokowi dan pak Prabowo itu merupakan hal yang positif dan menunjukkan tingkat kedewasaan poltik kita sesuai dengan demokrasi Pancasila, musyawarah mufakat, itu merupakan sesuatu hal yang baik, kami mendukung balasan itu," tambahnya.

Menurut Hasto, momen setelah 22 Mei 2019 yang kebetulan memasuki bulan Ramadan 1440 Hijriah, merupakan momentum yang pas untuk bersilaturahmi, sehingga PDI Perjuangan mendukung ide dari BPN Prabowo-Sandiaga.

"Saya yakin bulan suci tersebut akan kita gunakan dengan sebaik-baiknya untuk membangun tidak hanya silaturahmi. Tapi semangat berdedikasi dengan seluruh keimanan kita untuk bangsa dan negara, dan semangat untuk membangun persaudaraan, semangat untuk membersihkan diri. Itu kan hal yang baik," jelas Hasto.

"Sehingga puncaknya nanti berhalal-bihalal. Oleh karena itu momentum bulan Ramadan itu kami meyakini juga mampu menyejukkan berbagai ketegangan itu bagaikan siraman air dingin dalam suhu politik yang sempat memanas dalam kampanye yang begitu panjang," tutupnya.

Sumber : Bisnis.com