Advertisement
Merekatkan Persatuan Seusai Pemilu Menjadi Pekerjaan Terpenting
Petugas memanggul kotak suara melewati sungai menuju tempat pemungutan suara (TPS) terpencil di Dusun Nampu, Desa Pojok Klitih, Kecamatan Plandaan, Jombang, Jawa Timur, Selasa (16/4/2019). - Antara/Syaiful Arif
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA — Pemerintah dan aparat keamanan mengklaim Pemilu 2019 berlangsung aman dan damai tanpa konflik horizontal yang berarti.
Namun, salah satu hajat demokrasi terbesar di dunia itu masih menyisakan pekerjaan rumah yang tidak sederhana, yakni merekatkan kembali masyarakat yang terpolarisasi.
Advertisement
Selain masalah logistik yang terlambat tiba di sejumlah daerah dan diikuti dengan pemilihan susulan, persoalan merekatkan kembali persatuan seusai pesta demokrasi, tidak kalah serius.
Titi Anggraini, Direktur Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) mengatakan polarisasi pada Pemilu kali ini lebih kuat dari yang terjadi paaa hajatan demokrasi 2014 silam.
"Kalau 2014 posisinya sama-sama bukan petahana, sekarang keterbelahannya petana versus non petahana," kata Titi.
Selain itu, hal tersebut didukung oleh isu-isu yang berkembang, menjadi diskursus di masyarakat dan menjadi pembeda dengan Pemilu 2014, salah satunya adalah maraknya kabar bohong atau hoaks seputar masing-masing pasangan calon.
Hendardi, Ketua Setara Institute menambahkan polarisasi yang masih kentara terlihat adalah yang bersifat kedaerahan. Di antaranya sejumlah daerah yang identik dengan calon atau partai politik tertentu. Polrisasi yang sifatnya ideologis, misalnya antara kelompok nasionalis dan religius menurut Hendardi tidak banyak bergeser dari Pemilu yang lalu.
Namun dia menggarisbawahi, polarisasi pemilih merupakan hal biasa terjadi di negara demokrasi sebesar Indonesia. Hal selanjutnya yang tidak boleh absen dari upaya pemerintah adalah mendamaikan kembali dua kelompok pemilih yang sebelumnya ikut berseteru dalam Pemilu Serentak ini.
Merujuk pada sikap saling klaim kemenangan masing-masing pasangan calon, Hendardi mengimbau agar semua pihak menghormati proses demokrasi resmi yang dijalankan penyelenggara Pemilu.
"Quick count tidak bisa dipakai sebagai hasil resmi, kita masih menunggu KPU. Kita semua agar menahan diri saja dan menanti hasil KPU. Ketika KPU sudah mengumumkan, agar dihormati, itulah cara berdemokrasi," kata Hendardi.
Selain itu, ancaman retaknya persatuan pascapemilu juga ditimbulkan oleh pernyataan sejumlah pihak yang mengancam akan menurunkan "people power" jika terjadi kecurangan pada proses demokrasi ini. Hendardi menegaskan bahwa, dalam berdemokrasi ada koridor-koridor yang harus dipatuhi semua pihak. Sikap mengancam sejumlah pihak tersebut tidak bisa dibenarkan dan justru merugikan demokrasi itu sendiri dan tidak mendidik masyarakat.
Dia menyebut, pernyataan-pernyataan semacam itu termasuk salah satu yang memicu polarisasi lebih dalam di tingkat masyarakat bawah. "Kalau kita sudah menerima demokrasi, tentu saja kita mesti terima hasil-hasil dari proses demokratik. Kalau ada persengketaan, yang itu biasa terjadi, ada mekanisme demokratik," ujarnya.
Diharapkan sesudah proses pemilu selesai seluruhya, para elite politik bisa memberi pernyataan menyejukkan dan menunjukkan sikap negarawan. Sebab bangsa ini masih memiliki banyak pekerjaan rumah untuk diselesaikan begitu pesta demokrasi selesai diselenggarakan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- BPBD Bantul Pastikan Tak Ada Pengungsi Dampak Cuaca Ekstrem
- Cucu Soeharto, Darma Mangkuluhur Resmi Menikah
- DAS Garoga di Sumatera Utara Penuh Kayu Pascabanjir hingga 1.300 Meter
- Trump Pertimbangkan Serangan ke Iran di Tengah Aksi Protes
- Trump Diduga Siapkan Rencana Invasi ke Greenland, Denmark Geram
Advertisement
DLH Gunungkidul Anggarkan Rp160 Juta untuk Pakan Monyet
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Persib Kecam Ancaman Pembunuhan terhadap Keluarga Thom Haye
- DPRD DIY Siapkan Rp1 Miliar untuk Kajian Renovasi Mandala Krida
- Salmon dan Ayam, Pilihan Protein Sehat untuk Jantung dan Otot
- LBSO PWA DIY Raih Juara Umum FESIBA 2025 dan Perkuat Dakwah Kultural
- Surplus Beras Kulonprogo 2025, Produksi Padi Tembus 60.895 Ton
- Marc Marquez Waspadai Kebangkitan Rival di MotoGP 2026
- Produksi Ikan Sleman 2025 Tembus 55.650 Ton
Advertisement
Advertisement





