Pegiat Medsos Dilatih Tangkal Hoax

Ilustrasi hoaks. - JIBI
07 April 2019 10:57 WIB Abdul Hamied Razak News Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Puluhan penggiat media sosial (medsos) dari berbagai komunitas di Jogja mengikuti pelatihan jurnalistik anti hoaks. Mereka diharapkan bisa pawai menangkal setiap ada berita hoaks yang muncul.

Kegiatan tersebut digelar Katamata Community Jogja menghadirkan sejumlah wartawan dan praktisi media massa sebagai narasumber. Acara digelar sebagai respon atas maraknya peredaran berita hoaks yang memicu konflik sosial jelang Pemilu 2019.

"Fenomena saat ini masyarakat lebih mempercayai informasi di media sosial dari sumber yang tidak jelas," kata panitia penyelenggara, Ja’faruddin di Hotel Ruba Graha Jogja, Sabtu (6/4/2019).

Tidak sedikit orang mendadak menjadi wartawan dengan menyebarkan informasi baik berupa tulisan, foto maupun video dalam sosial media. Padahal informasi yang disebar tidak sesuai dengan kaidah jurnalistik. Di era media sosial, katanya, banyak netizen yang belum memahami beda sosial media dengan official web dan media massa online.

"Akibatnya masyarakat termakan informasi hoaks. Kalau semua orang bisa jadi wartawan otomatis tidak berlaku UU Pers. Di sini kami mengajak para komunitas medsos untuk bisa terlibat aktif mengcounter setiap berita hoax muncul,” ungkapnya.

Beberapa narasumber yang dihadirkan seperti Ketua AJI DIY Anang Zakaria; Wakil Ketua Bidang Hukum PWI DIY, Hudono; Jurnalis CNN Indonesia Teguh Supriyadi, dan Dekan Media Rekam ISI Jogja W Pamungkas.

Pamungkas sendiri merupakan mantan Ketua PFI Jogja. Dia mengatakan ada beberapa langkah bagaimana bisa mengidentifikasi foto hooks yang bertebaran di medsos. Foto hoax disebar untuk tujuan tertentu dan dilakukan secara massif. "Untuk mengecek kebenarannya, bisa ditelusuri lewat mesin pencarian foto apakah termasuk foto hoaks atau tidak. Percaya saja tapi tidak punya Informasi untuk menelusuri kebenarannya bisa termakan," katanya.

Dia berharap agar para netizen mampu membedakan antara foto hoaks dengan yang sesuai fakta. Menurutnya, hoaks tidak terletak pada foto yang diubah tetapi juga caption yang berbeda. "Caption bisa dipelintir. Foto ada tapi caption berbeda itu termasuk hoaks. Melawan hoaks, foto lebih dulu harus dilacak informasinya. Jangan hanya share," katanya.

Sementara Anang Zakaria menceritakan bagaimana sebuah negara seperti Irak hancur. Irak tumbang bermula dari informasi hoaks yang dihembuskan pihak tertentu. Hoaks menjadi hal menakutkan yang harus berusaha dicegah bersama.

"Penyebab invasi Amerika ke Irak karena informasi hoaks adanya senjata pemusnah massal, padahal ternyata tidak ada. Saat ini di Indonesia kondisinya, ada informasi salah tapi orang tak tahu informasi itu salah. Jangan sampai gara-gara berita hoax kita hancur ya,” katanya.