Bersih Sungai Berkelanjutan Masih Jadi PR

Merti Kali Code. - Antara/Hendra Nurdiyansyah
26 Maret 2019 08:07 WIB Salsabila Annisa Azmi News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Momen Hari Air Sedunia pada 22 Maret menjadi pengingat masih panjangnya pekerjaan rumah (PR) yang harus dikerjakan masyarakat dan Pemerintah DIY untuk menjaga sungai tetap bersih dan layak, sebagai sumber kehidupan.

Di DIY, sejumlah komunitas muncul dari tengah masyarakat merangkul lebih banyak warga untuk tetap menjaga kebersihan sungai. Gerakan bersih sungai menjadi hal penting bagian dari kehidupan sehari-hari. Salah satunya Asosiasi Komunitas Sungai Yogyakarta (AKSY) yang dalam beberapa tahun terakhir gigih tak henti menjadi penyemangat dan motor gerakan bersih sungai.

Mulanya, AKSY yang diketuai oleh Endang Rohjiani ini menyasar siswa untuk diberi edukasi mengenai kebersihan lingkungan. Sayangnya, Endang merasa hal tersebut kurang efektif untuk menjangkau per wilayah, sehingga kegiatan berikutnya lebih fokus ke kalangan karang taruna.

Kegiatan utama AKSY ialah melaksanakan Jambore Sungai sejak 2016 untuk mengajak masyarakat memiliki kesadaran mengenai kebersihan sungainya, terutama mendorong pembentukan kelompok peduli sungai di masing-masing wilayah. "Pasca-jambore kami tindak lanjuti dengan kegiatan karang taruna, salah satunya melalui tilik kali, tilik embung," kata Endang kepada Harian Jogja belum lama ini.

Gerakan bersih sungai bagi Endang dirasa menjadi awal untuk memengaruhi masyarakat di sekitar bantaran kali untuk lebih memperhatikan kebersihan sungainya. Diakuinya, mitigasi bencana menjadi pendekatan yang digunakannya selama ini untuk menarik minat masyarakat lebih peduli sungai. "Karena memang daya rusak air itu masif, apalagi sekarang air hujan masuk ke drainase. Kita tidak bisa lagi bicara bahwa sungai punya musimnya sendiri, misal lima tahun sekali. Dulu kami bicara itu, sekarang enggak. Karena curah hujan tinggi, air masuk ke drainase, langsung ke sungai, ya mesti mbludak karena daya tampung sungai tidak muat," jelasnya. Terlebih, jika kondisi sungai yang meluap itu kotor dengan sampah. Banjir bisa jadi tak terhindarkan.

Endang setuju jika disebutkan bahwa gerakan bersih sungai bisa menjadi awal memunculkan kesadaran masyarakat menjaga sungai. Namun, jika dikaitkan dengan restorasi sungai, ia kurang setuju, sebab istilah restorasi yang berarti mengembalikan itu sering menjadi perdebatan. "Kalau secara semangat, enggak masalah. Tapi jika itu mau dilaksanakan secara teknis, tidak mungkin," kata dia.

Endang menekankan mengembalikan fungsi alam tidak bisa serta-merta dilaksanakan, melainkan tetap menyesuaikan kondisi saat ini. Ia menambahkan, "Sebenarnya yang perlu direstorasi bukan fisiknya, tapi masyarakatnya. Diajak mikir balik meneh ning [kembali lagi ke] alam."

Hal serupa dikerjakan Forum Komunitas Sungai Sleman (FKSS). "Kami mengampanyekan bersih sungai pada masyarakat dengan pendekatan beragam cara, disesuaikan dengan kondisi wilayah setempat," kata Ketua FKSS, AG Irawan belum lama ini.

Gerakan bersih sungai oleh komunitas dimulai dari mengajak masyarakat terlibat langsung dalam perencanaan. Yaitu pemetaan wilayah atau panjang sungai yang akan dibersihkan dan sumber daya manusia yang tersedia untuk memulai gerakan bersih sungai. Setelah itu masyarakat diajak mengidentifikasi dan mengenal lokasi sungai yang akan dibersihkan, mulai dari bentang sungai, debit aliran, jenis biota dan vegetasi hingga titik sumber pencemar sungai. Lalu menentukan titik awal memulai bersih sungai hingga lokasi pengumpulan sampah.

Pelibatan masyarakat sekitar sungai penting karena mereka yang palung mengerti keadaan sungai di wilayah mereka. Dengan itu restorasi sungai akan terwujud. "Secara garis besar tingkat kesadaran masyarakat akan sungai bersih sudah cukup baik. Apalagi sejak sejumlah rumah dibangun menghadap ke sungai dan tidak lagi membelakangi sungai. Itu membuat orang mau buang sampah atau limbah domestik bahkan buang hajat juga jadi malu," kata Irawan.

Namun dalam mewujudkan restorasi sungai, komunitas masih menemui kendala. Irawan mengatakan, ketika kesadaran masyarakat pinggir sungai mulai tumbuh baik dengan menjaga sungainya dari sampah dan limbah rumah tangga, justru masyarakat lain dari luar sungai membuang sampah dan limbah di sungai. Ada yang dilempar melalui jembatan, ada pula saluran limbah yang langsung dibuang ke sungai.

Pelibatan pemerintah daerah (DLH DIY) juga Balai Besar Wilayah Sungai serta institusi akademik (sekolah atau perguruan tinggi) lalu didukung dunia industri (perusahaan) juga harus dilakukan. "Sinergi ini akan kian mempercepat terwujudnya sungai dengan aliran air yang bersih, sehat, lestari juga produktif," kata Irawan.

Merti Kali Tak Berhenti

Titik-titik sungai yang melintasi pemukiman padat penduduk di wilayah Kota Jogja masih menjadi prioritas Dinas Lingkungan Hidup DIY dalam menjalankan program Merti Kali. Pasalnya, permukiman padat penduduk lebih banyak menghasilkan sampah dan limbah rumah tangga yang menyebabkan adanya pencemaran bakteri E.coli.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DIY, Sutarto, mengatakan peningkatan mutu air sungai salah satunya diukur dari kadar pencemaran bakteri E.coli yang kecil. Hal itu lah yang ingin dicapai dalam program Merti Kali. "Merti Kali prioritas di pemukiman padat perkotaan. Di mana sampah-sampah dan limbah rumah tangga menyebabkan kadar E.coli yang masih relatif tinggi. Akan tetapi, jika dibandingkan dengan kadar E.Coli tahun-tahun sebelumnya, saat ini sudah menunjukkan penurunan. Dulu bisa jutaan Mpm, sekarang sudah 130 an Mpm," kata Sutarto saat ditemui Harian Jogja di kantornya belum lama ini.

Sutarto mengatakan sungai di Gunungkidul, Bantul dan Kulonprogo juga menjadi perhatian gerakan bersih sungai namun tidak seketat Sleman dan Kota Jogja yang banyak pemukiman padat. Akan tetapi, dibanding Sleman, bersih sungai di wilayah Kota Jogja dinilai lebih berat dijalankan. Kedua wilayah ini memang sama-sama padat penduduk. Akan tetapi Sleman yang didominasi oleh hotel, mal dan apartemen lebih mudah untuk mengondisikan limbah mereka. Sebab mereka memiliki standar instalasi limbah yang harus dipatuhi. Sedangkan masyarakat perorangan yang tinggal di dekat bantaran sungai, menurut Sutarto, harus didekati terlebih dahulu untuk bekerjasama dengan kegiatan bersih sungai di wilayah mereka.

Sutarto menjelaskan kegiatan Merti Kali diawali dengan perencanaan oleh tim teknis bersih sungai (lihat grafis). Mereka adalah tim yang direkrut Dinas Lingkungan Hidup DIY untuk merencanakan titik-titik sungai yang akan dijadikan tempat gerakan bersih sungai beraksi. Setelah titik-titik ditentukan, tim teknis kemudian mengajak masyarakat di titik-titik sungai yang telah ditentukan dan komunitas bersih sungai di wilayah itu untuk melancarkan gerakan bersih sungai.

"Kendalanya masih di pencocokan jadwal dengan masyarakat. Mereka waktu luangnya berbeda-beda. Akan tetapi sesulit apapun mencocokkan jadwalnya, kami tetap ikuti kesepakatan mereka mau kapan melaksanakan gerakan bersih sungai," kata Sutarto.

Sutarto mengatakan selama ini kerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup per kabupaten untuk merangkul masyarakat di berbagai wilayah sudah berjalan dengan baik. Masing-masing dinas sudah melakukan koordinasi dengan komunitas bersih sungai di wilayahnya agar tidak tumpang tindih dalam bekerja. Artinya, DLH DIY berusaha membersihkan titik sungai yang memang belum tersentuh oleh komunitas bersih sungai.

 

 

Sumber : Lajeng Padmaratri