Soal Aspal Karet, Ekonom: Kalau Biayanya Masa Bodo yang Penting Karet, ya Repot

Pengamat Ekonomi Faisal Basri. - JIBI/Abdullah Azzam
12 Maret 2019 23:47 WIB Krizia Putri Kinanti News Share :

Harianjogja.com,JAKARTA--Pemerintah dikabarkan sedang gencar-gencarnya menggenjot pembuatan aspal dengan campuran karet. Ekonom pun menilai rencana itu sebagai upaya menguntungkan pengusaha karet.

Ekonom Universitas Indonesia (UI) Faisal Basri mengatakan bahwa aspal karet adalah proyek yang dibuat oleh pemerintah, padahal kebutuhannya belum banyak. "Jadi dicreate itu [aspal karet] ada kebutuhan padahal kita tidak butuh sebanyak itu, tujuan bangun jalan itu supaya karetnya tertampung. Wah repot," ujarnya usai diskusi publik BPKP di Jakarta, Selasa (11/3/2019).

Faisal tidak bisa membayangkan jalan yang dibangun menjadi mahal dengan bahan dasar karet karena untuk harga karet sendiri sudah mahal. "Kan karet itu netes, relatif mahal per kilometernya. Jadi kalau tujuannya masa bodo amat biayanya yang penting karet, ya repot," ujarnya.

Dia mencontohkan, bahwa Indonesia belum memiliki laboratorium jalan secanggih Singapura. Terlebih karena canggihnya laboratorium tersebut sudah memungkinkan penggunaan aspal baru.

Berbeda dengan Indonesia yang masih belum terlalu memikirkan kondisi jalan, karena untuk perbaikan jalan saja dilapis ulang, sehingga akan lebih tinggi. "Teknologi ini tidak memungkinkan pembangunan jalan lama diolah, yang bisa pakai aspal lebih ini adalah buat jalan baru," paparnya.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono sebelumnya mengatakan pihaknya bakal menggenjot penggunaan karet alam untuk bahan perkerasan jalan nasional guna menahan laju penurunan harga karet. Penggunaan karet bahan diutamakan di Sumatra dan Kalimantan sebagai daerah penghasil karet.

"Ini nantinya akan menjadi klaster. Karet untuk Sumatra dan Kalimantan. Plastik di Jawa dan Bali sedangkan di [Indonesia] Timur kita gunakan aspal buton," jelas Basuki.

Menurut Basuki, penggunaan sumber daya lokal untuk campuran perkerasan jalan bakal membuat biaya lebih efisien. Dia menggambarkan, biaya perkerasan jalan di Sumatra akan mahal bila menggunakan aspal yang dikirim dari Pulau Buton.

Secara khusus, pada 2019, Kementerian PUPR menargetkan penggunaan karet alam untuk campuran aspal jalan nasional sepanjang 93,66 kilometer. Jumlah karet yang bakal terserap untuk campuran perkerasan jalan sepanjang itu mencapao 177,95 ton.

Sumber : bisnis.com