Perjuangan Mencari Titik Glamping, Terperosok hingga Masuk Sawah

Tim Survei Lokasi Glamorous Camping (Glamping) yang terdiri dari staf Badan Otorita Borobudur (BOB), staf Perhutani dan investor sedang membuat sketsa glamping di Kawasan Sub Petak 99P, Desa Sedayu Kecamatan Loano, Purworejo, Jawa Tengah, Rabu (2/1). - Ist/BOB
02 Maret 2019 12:15 WIB Kusnul Isti Qomah News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Penentuan titik Glamorous Camping De'Loano di Loano, Purworejo tidaklah mudah. Para penggawa Badan Otorita Borobudur harus melakoni survei yang penuh petualangan dan seru. 

Dalam mencari titik pas Glamping De'Loano, Direktur Pemasaran Pariwisata BOB Agus Rochiyardi kembali mengingat petualangan serunya menjelajahi petak hutan milik Perhutani. Ia dan tim harus menempuh perjalanan jauh dan medan yang tidak mudah.

Terperosok, terjerembab, menembus hujan, bertemu ular menjadi bumbu petualangan dalam mencari lokasi yang tepat. Penentuan itu tidak cukup dilakukan dal satu kali survei saja. Total, mereka harus menjalani tiga kali survei. Pertimbangan-pertimbangan tertentu diterapkan.

"Saat mencari titik, karena ini masih pertama, kita cari yang aksesnya ada. Kedua, kami enggak mau menebang pohon ketika membangun glamping karena harus menjaga kelestarian dan fungsi hutan," ujar dia beberapa waktu lalu.

Oleh karena itu, ia dan timnya mencari petak hutan yang dekat dengan jalan, rentang antarpohon sekitar empat meter, dan aman. Rentang antarpohon menjadi penting karena di antara pepohonan itu, berdirilah tenda-tenda mewah yang akan ditinggali para tamu. Untuk area yang aman, BOB mencari daerah yang tidak rawan longsor.

"Kalaupun harus masuk ke dalam hutan, jangan terlalu jauh dari jalan. Lokasi saat ini hanya 300 meter dari Nglinggo," terang dia.

Dari Nglinggo, para tamu dihadapkan pada dua pilihan jalan yakni off road menggunakan jip dan jalan setapak dari susunan papan kayu.

Setelah ditemukan lokasi yang cocok, kemudian harus dipikirkan koneksi antartenda. Semak belukar pun dipangkas sehingga tampak kontur lokasi seperti apa sehingga pembangunan bisa menyesuaikan.

Ada tiga kali survei yang harus mereka lakoni. Pertama sekitar 2,5 atau dua bulan lalu di petak 99O. Namun, lokasi ini kurang cocok karena terlalu jauh dari akses jalan. Adapun lokasi yang saat ini digunakan berada di petak 99P.

Survei kedua dilakukan di lokasi dekar air terjun. Meskipun tempatnya bagus, tetapi akses jalannya susah. Sempat terpikirkan menggunakan jip offroad, tetapi kembali pada semangat awal untuk membuat percontohan dan baru pertama kali dilakukan sehingga akses jalan jadi pertimbangan utama.

"Saat survei kerja sama dengan Perhutani. Diantar oleh mereka, ditunjukkan tempat mata air, yang pemandangan bagus. Survei tiga kali. Survei pertama 2,5-2 bulan yang lalu. Survei berikutnya seminggu kemudian dan berikutnya seminggu kemudian."

Dokumentasi lokasi diambil dengan saksama tidak hanya dari darat tetapi juga udara menggunakan drone. BMKG juga digandeng untuk memetakan potensi bencana yang ada sehingga langkah antisipasi bisa diambil.

Memang, karena lokasi di tengah hutan, tidak menutup kemungkinan ada binatang liar seperti ular. Selain itu ada juga serangga dan kondisi tanah yang licin jika basah. Namun, hal itu semua bisa diatasi.

Agus mengungkapkan BOB dibentuk untuk membuat kawasan wisata baru di daerah perbukitan menoreh. Tujuannya pun mulia yakni agar masyarakat lokal dapat meningkat perekonomiannya. Sebagai badan otorita yang tidak diperkenankan mencari untung, BOB dituntut mampu membangkitkan perekonomian masyarakat.

"Makanya itu kita mendorong dua hal yakni pasar digital yang berjarak sembilan km dari lokasi glamping dan glamping. Pasar digital didorong untuk jadi kegiatan tamu di Glamping," jelas dia.

Alasannya,  karena selain memberdayakan masyarakat lokal, BOB juga ingin melihat kekuatan kaarifan lokal itu seperti apa. "Contohnya ada yang jualan batik, jamu, gula merah.  Kita bantu dalam konteks kerja sama antara kita dan masyarakat. Kegiatan kita sinkronkan antara kepentingan kita dan masyarakat."

Rencananya akan dibangun 12 tenda yang terdiri dari dining hall, multipurpose hall, musala, dan sembilan tenda untuk menginap.

Keseruan itu juga diamini Direktur Destinasi Pariwisata BOB Agustin Peranginangin. "Survei itu sangat seru. Bahkan untuk survei terakhir itu kami dua hari berturut-turut. Hujan juga. Ada yang terperosok, tapi saya malah mandi di sungai. Kemudian, mobil yang saya naikin itu masuk ke sawah."

Agustin mengaku sangat menikmatik proses survei itu. Ia bisa menjadi lebih dekat dengan masyarakat dan ikut menginap di rumah warga dan tidur menghampar menjadi satu.