SOSOK: Rizki Edi Juwanto, Peduli Teknologi untuk Bidang Kesehatan

Kegiatan Rizki di workshop PCB Expres Jogja - ist
24 Januari 2019 10:35 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Rizki Edi Juwanto, 29, seorang praktisi elektronika setelah mengamati beragam permasalahan di sekitarnya. Ia kemudian mengembangkan semi printer braille untuk para difabel dan nurse call untuk membantu warga lansia.

Ketertarikan Rizki Edi Juwanto dalam bidang teknologi sudah muncul sejak kecil. Berkat ayahnya yang hobi mereparasi berbagai barang elektronik, ia kemudian sering turut mengamati berbagai komponen elektronika.

Ayahnya yang seorang pedagang, tanpa pendidikan khusus, mampu memperbaiki beberapa barang elektronik di rumah mulai dari televisi hingga kipas angin rusak. “Ayah saya nggak bisa baca komponen, tapi bisa niteni [mengingat] bagian barang yang rusak,” cerita Rizki saat ditemui Harian Jogja di workshop-nya di PCB Expres, Perum Banteng 3 Jalan Merapi No. 49, Condongcatur, Depok, Sleman, belum lama ini.

Sejak itulah ia mulai tertarik dalam dunia elektronika dan mulai menekuninya saat mengambil program studi D3 Teknik Elektronika pada 2009. Pada tahun terakhirnya kuliah, bersama beberapa kawan ia mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa Kemendikbud pada 2012. Dalam ajang tersebut, ia mengembangkan mesin ketik braille bagi kalangan difabel.

“Waktu itu masih sedikit printer braille dan harganya mahal, bisa puluhan juta. Lalu saya berpikir bagaimana cara membantu mereka [kalangan difabel]? Akhirnya kerja sama dengan Yaketunis [Yayasan Kesejahteraan Tunanetra Islam], lalu kami modifikasi printer bekas menjadi mesin ketik sebenarnya, bukan printer,” jelas laki-laki asal Purbalingga ini.

Cara kerja mesin ketik tersebut agak berbeda dengan mesin ketik pada umumnya. Jika biasanya mesin ketik akan mencetak per huruf, maka mesin ketik braille ini baru mencetak setelah satu kata diketik dan diberi spasi.

Rizki kemudian melakukan pengembangan dengan memperhalus alat ini menjadi portable braille conversion typewriter dan mengikutsertakannya dalam lomba Inovasi Iptek Pemuda Nasional dari Kementerian Pemuda dan Olah Raga (Kemenpora) pada 2014.

Meski sudah memperoleh hak paten untuk karyanya tersebut, tetapi ia mengaku kesulitan memproduksi massal printer braille kreasinya. Sebab, bahan baku yang digunakan untuk membuatnya sulit dicari. “Kan pakai printer bekas, nah nyari printer bekasnya itu susah banget,” ujarnya.

Selain printer braille ia juga membuat produk untuk membantu warga lansia. Produk teknologinya ini diberi nama Rumah Cerdas. “Kalau tadi untuk tunanetra, ini untuk lansia. Jadi, semacam proteksi untuk kaum lansia. Seperti pengatur jadwal gitu,” tutur ayah dua anak ini.

Rumah Cerdas yang dikembangkannya berupa pengatur jadwal yang dapat memberikan sinyal bunyi bertepatan dengan jadwal yang sudah diatur. Dengan ini, para lansia dapat diingatkan untuk bangun pagi, minum obat, waktu senam, dan sebagainya. “Termasuk di rumahnya lampunya kami buat otomatis, bisa nyala sendiri dan mati sendiri,” ujarnya.

Karyanya ini akhirnya bisa masuk dalam lima karya terbaik Lomba Inovasi Iptek Pemuda Nasional pada tahun 2015. Bahkan, karyanya ini berkembang tak hanya untuk instalasi rumah, namun menjangkau sekolah, pabrik, dan rumah sakit. “Malah sekarang aplikasinya enggak hanya untuk itu, tapi dipakai di sekolah juga untuk bel sekolah. Meluas, di sekolah, di klinik, kemudian pabrik memakai untuk kepentingan itu,” jelas dia.

Nurse Call

Kini, bersama dengan PCB Expres Jogja, ia sedang mengembangkan alat pemanggil suster. “Masalah rumah sakit sekarang itu belum ada nurse call-nya. Kalaupun sudah ada yang pasang, rata-rata produk impor. Perlu waktu lama dan instalasinya harus pakai kabel,” kata Rizki. Melihat peluang itu, dirinya kemudian mengembangkan wireless nurse call yang dapat dipasang dalam waktu yang relatif lebih cepat.

Alat pemanggil suster yang dikembangkannya terdiri dari alat utama yang diletakkan di nurse station serta alat pemanggil suster yang diletakkan perkamar. Kedua komponen tersebut dihubungkan dengan Wifi.

Pasien yang memerlukan perawat dengan segera dapat menyentuh salah satu bagian di alat itu, kemudian sinyalnya akan muncul di nurse station. Kemudahan pengiriman sinyal ini dirasanya lebih efektif ketimbang rumah sakit harus membobol tembok untuk instalasi nurse call impor. Kini, alat tersebut sudah digunakan di 15 rumah sakit di Indonesia, salah satunya di RS PKU Muhammadiyah Bantul.

“Memang mau memfokuskan ke pos kesehatan, karena di pos itu peralatannya masih impor. Sedih ya, di Indonesia kan rumah sakit dan klinik banyak, tapi kebanyakan peralatannya impor,” jelas Rizki. Hal itulah yang membuatnya terus mencoba mengembangkan berbagai peralatan elektronika untuk mempermudah kehidupan manusia, terutama dalam bidang kesehatan.

Sumber : Lajeng Padmaratri