Korban Kebakaran TKP Senopati Bongkar Tabungan untuk Bangkit

Pedagang TKP Senopati mulai menata kembali kios yang rusak akibat kebakaran, Jumat (11/1/2019). - Harian Jogja/Abdul Hamid Razak
12 Januari 2019 12:25 WIB Budi Cahyana News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Pedagang di Tempat Parkir Khusus (TKP) Senopati tak ingin larut dalam kesedihan setelah kios mereka musnah dilalap si jago merah. Mereka mulai berbenah. Harapan terus dirawat. Berikut laporan wartawan Harian Jogja Abdul Hamid Razak.

Koko Prasetyo, mengorek kerak yang menempel di teralis yang mengitari kios seluas 2,5x3 meter itu. Di tempat ini, Koko mengais rezeki selama bertahun-tahun. Nahas, Minggu (6/1) malam, api membakar tempatnya mencari nafkah.

“Saya rugi sekitar Rp45 juta. Semua kaus distro saya habis terbakar,” kata dia, Jumat (11/1/2019).

Pekerjaan itu dia lakukan sejak pagi. Menjelang siang, sebagian teralis yang sudah bersih dari kerak kemudian dipoles dengan cat hijau. Satu per satu, kisi-kisi yang gosong berubah warna menjadi cerah.

“Daripada menunggu rencana rehab dari pemerintah. Katanya sih ada [bantuan], tapi tidak tahu kapan, nominalnya berapa. Paling cepat [uang bantuan] turun sekitar April, padahal kami harus segera berjualan,” kata Koko sambil mengetuk-ngetuk besi di depannya.

Koko bersikeras untuk segera berjualan. Ia harus membayar cicilan karena modal berjualannya sudah ludes, meski belum lunas. Penduduk Notoprajan, Ngampilan, ini masih punya kios di TKP Abubakar Ali. Untuk sementara stok dagangannya di TKP Senopati disuplai dari kios di Abubakar Ali.

“Tanggungan saya Rp7 juta sampai Rp8 juta per bulan. Kalau tidak segera gelar dagangan bisa berat hanya mengandalkan satu kios,” kata Koko.

Tak jauh dari teralis besi yang sudah dipulas itu, duduk Eko Sandal, perempuan paruh baya asal Sentolo, Kulonprogo. Nama itu diambil dari nama suaminya, tetapi sudah akrab dikenal semua pedagang. Nyonya Eko mengaku kehabisan semua barang dagangannya, mulai sandal unik hingga pakaian. “Total kalau dihitung-hitung Rp35 juta. Barang baru stok semua setelah musim liburan,” katanya.

Kedua tangan Nyonya Eko tak henti memasukkan sandal-sandal yang baru dibelinya di Pasar Beringharjo. Akibat bencana kebakaran itu, dia harus merogoh tabungannya sebagai modal awal.

“Ini mulai dari nol lagi. Saya kulakan sandal Rp1 juta dari tabungan. Sambil lalu jualan minuman, pokoknya harus bangkit,” kata dia.

Suaminya sibuk membersihkan kiosnya yang kotor. Sambil memasukkan sandal, Nyonya Eko berharap agar pemerintah mengupayakan pinjaman lunak bagi para pedagang yang tertimpa musibah itu.

“Kalau ada pinjaman modal, syukur. Setidaknya bisa mengembalikan stok dagangan yang sudah habis.”

Para pedagang yang sibuk mengais sisa-sisa kebakaran tidak sediri. Mereka ditemani Tembong Budiyanto. Tembong adalah Kepala Paguyuban Pedagang sekaligus pengelola parkir di lokasi tersebut. Sama halnya dengan pedagang lainnya, Tembong juga mengaku mengalami kerugian cukup besar. Kios yang dijaga oleh istrinya, sehari-hari menjual makanan dan minuman, ludes.

Bahkan akibat peristiwa itu, istrinya diopname di rumah sakit karena syok. “Hitungan saya kerugian sekitar Rp35 juta. Soalnya semua peralatan dapur, kulkas, televisi hancur tidak tersisa,”  kata Tembong.

Dia bersyukur, para pedagang masih bersemangat meski ratusan juta barang dagangan mereka amblas dijilat api. Dia mengajak rekan-rekannya bergotong royong dan sebagian besar pedagang datang. Satu sama lain  saling membantu untuk memindahkan sisa-sisa barang yang terbakar. “Biar  kami bisa segera berjualan lagi,” katanya.

Menurut Tembong, ada pedagang yang masih trauma dan jeri datang ke TKP Senopati.

“Namanya mbah Sirep. Punya enam kios oleh-oleh dan pakaian. Semua barangnya habis, termasuk satu motor yang ikut terbakar,” kata Tembong.

Rencananya, para pedagang kembali berjualan paling cepat akhir bulan ini. Tetapi tidak semua bisa menempati kios. Gendeng-gendeng yang terbuat dari galvalum rusak, dan banyak yang bengkok karena panas api. Jika hujan turun, air akan mengalir deras ke kios-kios semi permanen itu.

“Solusi sementara sebagian pakai gerobak dulu. Ada sebagian pedagang yang menggunakan gerobak, seperti itu, dagangan sudah siap,” kata Tembong sambil menunjuk ke sebuah mobil yang penuh dengan barang.

Tembong berharap agar kios-kios tersebut segera direnovasi oleh pemerintah. Selain itu, menurut dia, pedagang juga berharap adanya pinjaman lunak yang bisa ditawarkan oleh pemerintah. Pinjaman tersebut dibutuhkan setidaknya sebagai modal awal agar gairah pedagang untuk berjualan kembali bisa terwujud. “Saat ini parkir bus sudah normal meski sempat dialihkan ke TKP Ngabean. Ini agar kami bisa segera bangkit,” kata dia.

Kepala Bidang Perparkiran Dishub Jogja Imanudin Aziz mengatakan berdasarkan hasil penyelidikan, kebakaran 35 kios pedagang tersebut murni akibat adanya korsleting. “Kerugian sekitar Rp900 juta.”

Fungsi TKP Senopati dikembalikan sampai sepekan ke depan. Rehabilitasi kios-kios masih perlu dibahas karena melibatkan banyak jawatan di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot).

“Renovasi kios-kios membutuhkan dana yang tidak sedikit. Apalagi kami hanya menganggarkan dana pemeliharaan.”

Kebakaran itu memberi pelajaran penting. Di sekitar TKP Senopati tidak ada hiran maupun alat pemadam api ringan berupa tabung merah. “Ini salah satu hikmahnya, karena apar bagian dari fasilitas umum,” ujat Imanudin Aziz.