FEATURE: Klinik Hewan 24 Jam, Melayani Kucing hingga Sapi

Dokter dan petugas sedang menangani hewan di Klinik Hewan Jogja beberapa waktu lalu. - Harian Jogja/Ist.
07 Januari 2019 10:25 WIB Yogi Anugrah News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Klinik hewan di Sinduharjo, Ngaglik, Sleman, memiliki unit gawat darurat dan buka 24 jam saban hari. Anjing, kucing, ular, kelinci, landak, sampai sapi, menjadi pasiennya. Berikut laporan wartawan Harianjogja.com Yogi Anugrah.

Sesekali lelaki muda itu melihat arloji hitam di pergelangan tangan kirinya. Sudah lima menit ia duduk di kursi panjang ruang tunggu, dengan raut muka yang tampak cemas. Di sebelahnya, keranjang biru berisi kucing yang sedang tertidur. Lelaki itu terus melihat ke depan, menunggu namanya dipanggil.

“Sudah sejak kemarin, Filo tidak mau makan, saya khawatir seperti kucing saya sebelumnya,” kata Nizam Aditya, mahasiswa asal Purworejo yang kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di DIY, Rabu (2/1).

Filo adalah kucing keduanya. Kucing pertamanya, Tobi, mati sekitar lima bulan lalu setelah beberapa hari lemas dan enggan makan.

“Waktu saya pulang kuliah, Tobi sudah tergeletak, saya juga tidak tahu kenapa. Namun, beberapa hari sebelumnya Tobi muntah-muntah,” kata dia.

Memelihara Tobi merupakan pengalaman pertama lelaki berusia 22 tahun itu. Ia memiara kucing untuk menemaninya indekos. Dengan adanya kucing, ia tidak akan keluyuran hingga larut malam, sebab harus pulang dan memberi makan kucingnya.

Karena baru sekali punya hewan piaraan, ia mengaku tidak tahu jika gejala muntah-muntah seperti itu bisa berujung kematian pada kucingnya.

“Saya ke klinik hewan ini karena direkomendasikan oleh teman dan juga dekat dengan kos saya di daerah Condongcatur,” ujar dia.

Klinik hewan tersebut terletak di Jl. Pamularsih, Sinduharjo, Ngagglik, Sleman. Di depan bangunan bertingkat yang tampak rapi itu, terpampang tulisan “Klinik Hewan Jogja” dengan lambang berbentuk hati berisi kucing dan anjing.

“Awal mendirikan pada 23 Juni 2013, karena banyaknya permintaan masyarakat,” kata Ida Tjahajati, pemilik Klinik Hewan Jogja, Jumat (4/1/2019).

Perempuan berumur 54 tahun ini awalnya merupakan Direktur di Rumah Sakit Hewan Prof. Soeparwi, Sleman. Ketika ia sudah tidak menjabat lagi, ternyata masih banyak orang yang menghubunginya sembari menanyakan di mana ia membuka praktik.

“Karena dedikasi saya sebagai dokter hewan dalam melayani masyarakat, dan banyaknya permintaan masyarakat, akhirnya saya mendirikan klinik hewan ini,” ujarnya.

Sesuai dengan semboyannya, melayani dengan cinta dan profesional, Unit Gawat Darurat (UGD) di klinik ini buka 24 jam setiap hari, dengan dokter yang selalu siap berjaga ketika ada hewan yang membutuhkan pertolongan.

“Kami mempunyai 10 dokter yang bergantian berjaga untuk UGD, sebab jika ada UGD, tetapi tidak ada dokternya, percuma saja,” ujar dia.

Beragam Pasien

Hewan masuk UGD kebanyakan pada malam hari, ketika kucing atau anjing hendak melahirkan, juga ketika ada hewan peliharaan yang tertabrak oleh pemiliknya saat memundurkan mobil atau motor.

Bahkan, pernah ada kejadian, pemilik anjing membawa piaraannya di dalam mobil untuk pergi. Namun, ketika pemilik keluar dari mobil dan lupa menghidupkan AC, anjing peliharaannya megap-megap di dalam.

“Sesuai namanya, gawat darurat. Berarti harus segera ditolong, atas dasar itu, kami berkomitmen untuk buka 24 jam, seperti manusia, jangan sampai ada nyawa hewan yang terlewat,” kata dia.

Selama ini, kucing dan anjing merupakan hewan yang paling sering ditangani klinik hewan satu-satunya di DIY yang buka 24 jam ini. Beberapa pasien lain  adalah hewan-hewan kecil seperti ular, kelinci, dan landak.

“Pernah ada seseorang yang meminta sapinya untuk dicek karena sakit, karena tidak mungkin sapinya dibawa ke klinik, kami yang datang kesana,” ucap Ida.

Dengan jam operasional poliklinik yang buka sejak pukul 08.00 WIB hingga pukul 20.00 WIB, dan UGD yang buka  24 jam nonstop, klinik ini mampu melayani 30-40 hewan yang dirawat jalan setiap harinya. Bahkan ketika musim liburan, bisa 60 hewan yang dirawat.

“Yang paling sering kami tangani adalah muntaber pada kucing yang disebabkan oleh virus atau keracunan,” kata Ida.

Sejak buka lima tahun lalu, klinik ini minim keluhan dari para pelanggannya. Menurut Ida, pelayanan yang mereka berikan sebanding dengan tarif yang ditetapkan.

“Jadi pelanggan juga puas. Kalau orang Jawa bilang, ana rupa ana rega.”

Klinik ini membuka pelayanan kesehatan pada hewan meliputi vaksinasi, rontgen, USG, UGD, grooming, rawat inap, bedah, petshop dan apotek. Fasilitas yang disediakan adalah laboratorium khusus hewan untuk pemeriksaan darah, pemeriksaan feses, pemeriksaan penyakit berisiko, hingga pemeriksaan urine.

“Penting untuk memberikan edukasi kepada masyarakat untuk benar-benar menjaga dan merawat hewan peliharaan. Sebab ada penyakit yang bisa menular dari hewan kepada manusia.”