Advertisement
Perbandingan Jumlah Seismograf: Indonesia Punya 175, Jepang Sudah 1.200
Petugas memeriksa data rekam seismograf pemantau aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) di Pos Pengamatan GAK Pasauran, Serang, Banten, Selasa (25/12/2018). - ANTARA/Akbar Nugroho Gumay
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA- Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menargetkan Indonesia memiliki 200 seismograf untuk meningkatkan kewaspadaan akan bencana alam seperti gempa dan tsunami hingga akhir 2019.
Muhammad Sadli, Deputi Bidang Geofisika BMKG menuturkan saat ini Indonesia baru memiliki 175 alat pencatan gempa. Jumlah ini masih kalah jauh dibandingkan Jepang yang wilayahnya lima kali lebih kecil dibandingkan Indonesia.
"Jepang ada 1.200 [seismograf]. Indonesia yang 5 kali lebih luas baru 175. Pada 2019 akan kami tingkatkan jadi 200. Dalam 5 tahun ke depan kami targetkan jadi 1.000," kata Sadli di Jakarta, Kamis (3/1/2019).
Menurut dia, saat ini BMKG telah memiliki kemampuan yang diakui dunia internasional untuk memantau kebencanaan. Penambahan alat ini guna meningkatkan akurasi dan mitigasi.
Selain menambah alat deteksi, Fadli menambahkan saat ini Indonesia tengah memulai membangun modeling kebencanaan peringatan tsunami yang disebabkan selain gempa tektonik.
Dia menyebutkan, selama ini alat deteksi tsunami fokus ke modeling tsunami akibat gempa karena 90% peristiwa tsunami disebabkan oleh peristiwa alam ini.
"Saat ini BPPT, ahli dari Jepang, dan berbagai instansi terkait tengah membangun model prediksi di luar tektonik. Selama ini belum ada teknologinya," katanya lebih lanjut.
Patuh Amdal
Menurut Sadli, Indonesia sangat rawan bencana. Meski begitu banyak pembangunan yang tidak memperhatikan keselamatan.
Saat ini masih ditemui banyak pabrik dan bangunan sangat dekat pantai. Padahal jika peta kebencanaan diperhatikan maka bangunan ini harus dengan tegas dilarang.
"Penegakan aturan sangat penting [untuk menghindari dampak ikutan bencana lebih luas]," ujarnya.
Surono, Mantan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, atau akrab disapa Mbah Rono menyebutkan kejadian letusan dan longsor di Gunung Anak Krakatau bukan sesuatu peristiwa yang aneh. Letusan dan longsor dibutuhkan oleh Anak Krakatau untuk membangun tubuhnya.
Dia mengingatkan penelitian dan pengamatan akan potensi bencana dari gunung api merupakan sebuah keharusan. Apalagi saat ini Indonesia memiliki 13% gunung api aktif dari yang terdata di dunia.
"Mitigasi tanpa penelitian adalah kebetulan," katanya.
Surono menyebutkan saat ini baru 69 gunung api yang diamati oleh pemerintah. Artinya masih ada ratusan lainnya yang terabaikan dan tiba-tiba menimbulkan bencana.
"Hadapi dengan kejujuran, tentukan daerah yang vital dan strategis [yang paling utama menimbulkan kerusakan secara masif jika meletus]," katanya.
Advertisement
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Listrik Kuba Kembali Padam Saat Tekanan Krisis Energi Meningkat
- Ledakan Petasan di Pamekasan Bongkar Produksi Berdaya Ledak Tinggi
- China Desak Penghentian Konflik Timur Tengah Saat Idulfitri
- Konflik Gas Iran-Qatar Picu Lonjakan Harga, Trump Berubah Arah
- Di Momen Lebaran Vladimir Putin Soroti Peran Muslim Rusia
Advertisement
Advertisement
Sukolilo Pati Sempat Viral, Ternyata Simpan Banyak Tempat Wisata
Advertisement
Berita Populer
- Jadwal KA Prameks Jogja-Kutoarjo Terbaru Senin 23 Maret 2026
- Prakiraan Cuaca DIY Hari Ini Senin 23 Maret 2026: Waspada Hujan Ringan
- Jadwal KA Prameks Kutoarjo-Jogja Terbaru Senin 23 Maret 2026
- SIM Mati Pas Libur Lebaran 2026, Cek Jadwal Perpanjangan
- Prediksi Lonjakan Parkir Wisata Lebaran Jogja 2026: Cek Tarif Resmi
- Timbangan Naik Saat Diet Sehat Ini Penjelasan Dokter
- MBG Tetap Jadi Prioritas, Prabowo: Saya Yakin di Jalan yang Benar
Advertisement
Advertisement








