Sosok Kiai Munawwir di Mata Para Tokoh

Pemakaman Kiai Munawwir Abdul Fatah di Kompleks Pondok Pesantren Krapyak, Panggungharjo, Sewon, Bantul, Jumat (28/12/2018). - Harian Jogja/Desi Suryanto
29 Desember 2018 10:25 WIB Ujang Hasanudin News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Ribuan pelayat mengantarkan jenazah Kiai Munawwir Abdul Fatah ke tempat peristirahatan terakhir. Kiai Munawwir adalah salah satu ulama besar Nahdlatul Ulama (NU) di DIY yang melahirkan banyak santri.

Kesedihan mendalam tidak hanya dirasakan oleh keluarga dan kerabat, tetapi juga santri dan sejumlah tokoh. Kiai Munawwir wafat pada Kamis (27/12/2018) malam, sekitar pukul 19.20 WIB di Rumah Sakit Jogja atau biasa disebut Rumah Sakit Wirosaban. Almarhum sempat dirawat selama enam hari dan dua kali menjalani cuci darah.

Jauh sebelumnya, Kiai Munawwir sudah jatuh sakit pada 2010  dan berobat rutin. Selepas pensiun dari guru, ia justru lebih sibuk di kegiatan sosial. Ia aktif di Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Bantul, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bantul, ceramah tiap Rabu malam di RRI, dan mengisi pengajian di kampung.

“Bapak jarang mengeluh. Keluarga hanya tahu sakit dari nafsu makannya berkurang dan badannya susut,” ucap Faishol Muslim, salah satu menantu Kiai Munawwir Abdul Fatah.

Pada Sabtu pekan lalu, sebenarnya Kiai Munawwir berencana kontrol saja ke rumah sakit, tetapi dokter langsung merekomendasikan untuk rawat inap.

Kiai Munawwir  tidak memiliki pertalian darah dengan keluarga pendiri Pesantren Krapyak, Kiai Muhammad Munawwir bin Abdullah Rosyad. Ia anak ketiga dari empat bersaudara, lahir di Jepara 73 tahun lalu.

Munawwir sudah masuk Pesantren Krapyak sejak usia sekolah dasar. Selama di pesantren, ia dekat dengan sesepuh pesantren Krapyak termasuk almarhum Kiai Zaenal Abidin dan keluarga besar Kiai Ali Maksum.

Dari menjadi santri hingga mengajar, bahkan hingga akhir hayatnya, Kiai Munawwir tetap di Krapyak. Saking dekatnya dengan keluarga Yayasan Pesantren Krapyak, dan kontribusinya yang banyak untuk masyarakat, Kiai Munawwir di makamkan di Permakaman Sorowajan, Panggungharjo, Bantul, satu kompleks dengan makam almarhum Kiai Zainal Abidin atau Mbah Zainal.

Selain mengajar santri dan mengisi pengajian di masyarakat, Kiai Munawir juga rajin menulis buku. “Ada puluhan judul buku karya bapak, tentang fikih sehari-hari yang dibutuhkan masyarakat. Ada juga kamus Al-Bisri,” ujar Faishol.

Kamus Al-Bisri merupakan salah satu dari empat kamus yang lahir dari Pesantren Krapyak. Kamus Bahasa Indonesia-Arab dan Arab-Indonesia itu disusun Kiai Munawir Abdul Fatah bersama Adib Bisry, putra Kiai Bisry Mustofa atau adik dari Kiai Mustofa Bisri. Kiai Munawwir juga teman seangkatan Mustofa Bisri atau biasa disapa Gus Mus.

“Beliau adalah teman sekaligus sahabat saya,” kata Gus Mus sebelum mendoakan keberangkatan jenazah Kiai Munawwir dari rumah ke masjid di Kompleks Pesantren Krapyak.

Pemakaman ulama besar di DIY itu dihadiri sejumlah tokoh penting, seperti  Wakil Bupati Bantul Abdul Halim Muslih, Ketua MUI DIY Toha Abdurahman, dan jajaran pengurus Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DIY hingga tingkat ranting.

Rais Syuriah PWNU DIY Mas'ud Masduqi mengatakan secara pribadi maupun lembaga PWNU, ia merasa kehilangan. Mas'ud Masduqi termasuk salah satu santri Kiai Munawsir.

Mas’ud menilai almarhum termasuk kiai yang sederhana dan humoris. Dekat dengan siapa saja. Tidak membeda-bedakan orang. Bahkan tidak merasa sebagai kiai ketika berbicara dengan santri. Kiai Munawwir juga terkadang enggan dicium tangannya, padahal mencium tangan kiai adalah tradisi kuat di kalangan santri.

“Saya termasuk santri beliau. Kadang saya cium tangan enggak mau. Kadang sama saya juga cenderung memakai bahasa halus,” kata Mas'ud.

Di PWNU, Kiai Munawwir menjabat Muhtasyar atau Penasihat. Almarhum masih mengisi pengajian di PWNU setiap Minggu Wage, terakhir bulan lalu dengan materi Syair Adiba yang menjelaskan soal kemuliaan Nabi Muhammad.

“Syair yang dibaca adalah syair terakhir, setelah itu tinggal doa. Setelah itu beliau tidak mengajar lagi,” ujar Mas'ud.