Gunung Semeru Bakal Ditutup untuk Pendakian Mulai 3 Januari 2019

Ilustrasi jalur pendakian Gunung Semeru, Jawa Timur. (Antara/Zumrotun S.)
27 Desember 2018 00:17 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, MALANG --  Gunung Semeru di Jawa Timur bakal ditutup secara total untuk pendakian mulai 3 Januari 2019, hingga waktu yang belum ditentukan atau sampai ada pemberitahuan lebih lanjut.

Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB-TNBTS), John Kenedie, mengatakan penutupan kegiatan pendakian tersebut diambil setelah memperhatikan kondisi cuaca yagn cenderung semakin memburuk, dan disertai dengan hujan lebat dan potensi adanya pohon tumbang yang dapat mengancam keselamatan pendaki dan pengunjung Gunung Semeru.

"Untuk sementara, pendakian ke Gunung Semeru ditutup secara total mulai 3 Januari 2019, sampai dengan pemberitahuan selanjutnya," kata John Kenedie, di Kota Malang, Rabu (26/12/2018).

Dia menambahkan penutupan jalur pendakian di Gunung Semeru tersebut setelah mempertimbangkan kondisi cuaca yang akhir-akhir ini semakin memburuk.

Diperkirakan, ungkap dia, pada periode Januari hingga April 2019, intensitas curah hujan yang cukup tinggi disertai angin kencang akan terjadi di kawasan Gunung Semeru.

Meskipun hingga saat ini belum ada laporan adanya pohon yang tumbang pada jalur-jalur pendakian di Gunung Semeru, langkah yang diambil Balai Besar TNBTS tersebut merupakan upaya antisipatif untuk menghindari kejadian pohon tumbang dan tanah longsor.

"Jadi penutupan pendakian ini lebih kepada upaya antisipatif, dari kejadian seperti pohon tumbang dan longsoran. Langkah ini kita ambil sebelum hal itu terjadi dan menimbulkan korban," ujar John Kenedie.

John Kenedie menambahkan penutupan pendakian Gunung Semeru tersebut juga bertujuan untuk memulihkan dan merevitalisasi ekosistem di sepanjang jalur pendakian, dalam upaya untuk menjaga dan memelihara keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, termasuk ekosistem di Gunung Semeru.

Pemulihan ekosistem di Gunung Semeru, jelas dia, bersifat alamiah, setelah kurang lebih selama 8-9 bulan terdapat aktivitas pengunjung di dalam kawasan. Diharapkan, dalam proses pemulihan ekosistem tersebut bisa berjalan dengan baik, dengan adanya curah hujan yang tinggi.

 

Sumber : Antara