Kutuk Keserakahan, Apakah Khotbah Misa Malam Natal Paus Fransiskus Relevan untuk Indonesia?

Paus Fransiskus - Reuters
26 Desember 2018 06:25 WIB Budi Cahyana News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Paus Fransiskus mengutuk keserakahan dan kesenjangan orang kaya dan miskin saat berkotbah dalam Misa Malam Natal di Vatikan, Senin (24/12/2018).

“Saat ini, bagi banyak orang, makna kehidupan diartikan dengan memiliki kelebihan materi. Keserakahan yang tak terpuaskan itu menandai semua sejarah manusia, bahkan hari ini, ketika, secara paradoksal, beberapa di antara mereka makan dengan mewah, sementara banyak orang sulit untuk makan roti untuk bertahan hidup,” kata Paus Fransiskus sebaimana dikutip Reuters, Selasa (25/12/2018).

Fransiskus menyerukan kepada masyarakat di negara maju untuk hidup sederhana dan tidak materialistik. Paus Fransiskus mengatakan kelahiran Yesus yang berbalut kemiskinan di sebuah kandang seharusnya dapat menjadi bahan perenungan bagi orang-orang tamak dan rakus di dunia.

“Mari kita bertanya kepada diri sendiri. Apakah kita benar-benar membutuhkan semua benda dan resep rumit ini untuk hidup? Bisakah kita hidup tanpa semua tambahan yang tidak perlu ini dan menjalani kehidupan yang lebih sederhana?” ujar Paus Fransiskus.

Kemiskinan adalah persoalan global yang tak kunjung tuntas dan khotbah Paus relevan dengan situasi sekarang.

Gap kekayaan penduduk dunia sangat jomplang. Awal tahun ini, Oxfam, lembaga nirlaba asal Inggris yang fokus mengatasi kemiskinan, merilis kajian berjudul Reward Work, Not Wealth.

Laporan itu dimulai dengan komparasi bos perusahaan fesyen asal Spanyol, Zara, dengan tukang jahit di sebuah pabrik baju di Banglades. “Sepanjang 2016, pendapatan Amancio Ortega dari Zara sekitar 1,3 miliar Euro [setara Rp21,3 triliun].”

Amancio Ortega ada di urutan keempat orang terkaya di dunia 2017 versi Forbes, di bawah Bill Gates, Warren Buffet, dan Jeff Bezos. Ketika Ortega, pebisnis yang mengumpulkan kain dan memolesnya menjadi pakaian, bergelimang uang, ada buruh penenun di ujung dunia lain yang ngos-ngosan mengumpulkan duit sepanjang hidup.

“Anju menjahit pakaian di Banglades untuk diekspor. Dia acap bekerja selama 12 jam sehari, kadang sampai larut malam. Tak terhitung berapa kali Anju tidak makan karena dia kesusahan mengumpulkan uang. Bayarannya hanya US$900 [setara Rp1 juta saban bulan] tahun lalu.”

Sangat Timpang

Oxfam kemudian menguraikan betapa timpangnya persebaran kemakmuran sesama manusia. Sekitar 82% uang yang dihasilkan seluruh penghuni Bumi hanya dinikmati 1% orang-orang paling sugih.

Harta orang-orang kaya beranak pinak secara cepat. Pada 2017, Oxfam mencatat 2.043 miliarder di seluruh dunia. Tambahan kekayaan mereka sepanjang warsa adalah US$762 miliar atau Rp10.144 triliun. Fulus sebesar itu akan mendatangkan banyak kemaslahatan apabila digunakan secara tepat.

Jika dikumpulkan, suntikan harta orang-orang tajir sepanjang 2017 bisa menghapus kemiskinan di seluruh dunia selama tujuh tahun. Kemiskinan adalah biang banyak persoalan. Menurut PBB, gara-gara miskin orang lebih rentan terhadap penyakit, gampang bertindak kejahatan, dan lebih cepat mati.

Aglomerasi pendapatan juga kian timpang. Sebanyak 42 orang termakmur di dunia punya kekayaan setara dengan harta 3,7 miliar orang alias separuh penduduk Bumi. Delapan individu terkaya di dunia memiliki kekayaan sebanyak setengah dari populasi termiskin di jagat.

Ketimpangan itu bukan tanpa sebab. Analisis Oxfam menunjukkan penggelapan pajak, siasat perusahaan dalam mengakali kebijakan publik, pemangkasan hak buruh, dan pemotongan ongkos produksi mengakibatkan kesenjangan pendapatan tambah jembar.

Oxfam menganjurkan solusi progresif untuk mengatasi ketimpangan, yakni meminta pemerintah di seluruh dunia menerapkan struktur pengupahan yang lebih setara dan restrukturisasi kepemilikan perusahaan.

Mandragon Corporation, perusahaan multinasional yang dimiliki serikat pekerja di Basque, Spanyol, bisa menjadi teladan. Mandragon punya keuntungan US$31 miliar (Rp41,2 triliun) dalam satu tahun yang dibagi proporsional untuk 74.000 pekerjanya.

“Perbandingan gaji pegawai tertinggi tidak lebih dari sembilan kali lipat buruh yang dibayar paling rendah,” demikian sampel yang dicontohkan Oxfam.

Isu di Indonesia

Kesenjangan juga menjadi isu utama di Indonesia. Dengan ukuran Rasio Gini, tingkat ketimpangan di Indonesia sebesar 0,391 per September 2017. Angka itu tergolong moderat karena Rasio Gini mengukur ketimpangan dari 0-1, semakin indikator mendekati 1, artinya kian lebar jurang kesejahteraan di masyarakat. Ketimpangan di Indonesia paling tinggi di DIY, yakni 0,440.

Ketimpangan berisiko makin lebar menyusul gelombang digitalisasi.

Ketua Koalisi Masyarakat Sipil untuk Ketenagakerjaan Indonesia, Abdul Waidl mengemukakan dalam beberapa dekade ke depan, negeri ini berisiko kehilangan 40,8% dari tenaga kerjanya akibat digitalisasi dan automasi di berbagai industri.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan jumlah pengangguran di Indonesia hingga Agustus 2017 tercatat sebesar 7,04 juta orang, naik dari periode sebelumnya Agustus 2016 sebesar 7,03 juta orang, dengan tingkat pengangguran tertinggi ada pada lulusan SMK. Tingginya tingkat pengangguran tersebut ditengarai karena terdapat sekitar 51% suplai tenaga kerja yang tidak sesuai dengan kebutuhan industri.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro dalam jumpa pers di sela-sela seminar intenasional Inequality & The Role of Technology in Shaping the Future of Work di Ballroom Hotel Tentrem Jogja, 23 Januari 2018 lalu, mengatakan ekonomi digital bisa membantu mengurangi ketimpangan, tetapi juga bisa memperlebar gap ekonomi.

“Pemerintah tengah berusaha mengantipasi kemungkinan meningkatnya jumlah pengangguran karena akan ada banyak pekerjaan yang bisa hilang lantaran digitalisasi,” ujar Bambang.

Rasa waswas itu wajar karena salah satu orang terkaya di dunia, Jeff Bezos, menimbun harta dari bisnis toko daring, Amazon, ketika banyak gerai-gerai penjualan tutup dan tak sedikit buruh yang kehilangan pekerjaan.