SOSOK: Trisye, Dekati Petani, Teliti Bahaya Toksin dalam Bahan Pangan

Endang Sutriswati Rahayu - Harian Jogja/Salsabila Annisa Azmi
28 Oktober 2018 09:35 WIB Salsabila Annisa Azmi News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Endang Sutriswati Rahayu atau biasa disapa Trisye, 65, terjun langsung ke lapangan untuk memeriksa kandungan toksin di dalam bahan pangan jenis kacang-kacangan dan jagung. Ia kemudian memberi arahan produksi pada para petani.

Sebagai dosen Fakultas Teknologi Pertanian, Trisye banyak mengamati pola pikir petani dan pelaku usaha pangan. Mereka sudah paham tentang infeksi patogen yang menyebabkan diare dan tifus apabila makanan yang mereka sajikan tidak steril.

Namun di bagian hulu, tepatnya petani, belum paham terkait kandungan toksin dalam kacang-kacangan dan jagung. "Itu sekitar 2000, peraturan tentang batas toksin dalam kacang-kacangan kan belum ada, saya juga ikut merancang peraturannya. Setelah peraturannya keluar, saya langsung jalankan program ke lapangan," kata Trisye kepada Harian Jogja, belum lama ini.

Langkah Trisye dimulai dengan survei apakah kacang dan jagung yang ada di Indonesia dicemari aflatoxin (toksin yang diproduksi oleh jamur dan dikenal sebagai penyebab kanker hati).

Proyek itu juga didanai oleh pemerintah Australia. Sebelum proyek berjalan, Trisye mendapat pelatihan laboratorium untuk mendeteksi kandungan aflatoxin. Setelah itu dia mengembangkan ilmu itu dan bekerja sama dengan Badan Ketahanan Pangan Jawa Timur untuk mendanai survei di lima tempat produksi, salah satunya Kediri.

Di lima tempat produksi itu, sekitar 2008, banyak petani jagung menganggap bahwa jagung yang mereka olah masih sehat. "Mereka para petani mikirnya kan dengan cara produksi kayak gitu enggak akan sakit juga. Nyatanya baik-baik aja padahal makan dari hasil itu terus. Padahal itu efek jangka panjang, kandungan toksin akan menumpuk di liver dan jadi kanker," kata Trisye.

Trisye mengumpulkan sampel jagung dari ke lima tempat produksi yang dituju. Menurut Trisye, apabila jagung diolah menjadi berbagai jenis panganan, misalnya emping, akan berkurang kadar aflatoxinnya. Namun proses pengolahan yang kurang baik akan menyebabkan proses pengurangan aflatoxin menjadi tidak maksimal.

Trisye mengawal SOP proses pengolahan tanah sampai produksi yang baik dr kacang maupun Jagung di lima lokasi produksi tersebut. Bahkan di Jepara, dia bersama timnya diberi lahan untuk menanam kacang yang baik dan benar. "Kami pantau terus dari hulu ke hilirnya, setelah itu ilmunya kami sosialisasikan ke petani lainnya dan ke pengepul," kata Trisye.

Menurutnya, salah satu isu yang harus segera ditangani adalah untuk menekan cemaran  bakteri maupun toksin dalam produk pangan di UMKM.

Pasalnya, selama ini tidak sedikit produk pangan yang dihasilkan oleh UMKM yang masih tercemar karena tidak melakukan penanganan produk pangan dengan baik dan benar terutama pada tahap pascapanen dan distribusi.

Hal itu dikarenakan dalam penanganan produk pangan belum memanfaatkan teknologi dan juga sumber daya manusia yang terdidik. Cemaran toksin tersebut berpotensi merangsang munculnya kanker di masa mendatang dan menjadikan produk-produk pertanian lokal tidak memiliki daya saing di pasar global.

Wilayah Penghasil Jagung

Pada 2013 Trisye meneliti aflatoxin di DIY khususnya Gunungkidul yang merupakan penghasil jagung. Hasilnya masih ditemukan kandungan aflatoksin yang tinggi pada hilir proses produksi jagung.

"Mereka waktu itu ada program Silo [alat pengeringan dan penyimpanan jagung dengan kapasitas lima ton], kami masuk di situ, kami pantau prosesnya dan kami terus sosialisasikan. Ketika kandungan aflatoksin sudah oke, kami kembalikan ke Pemda untuk lanjut diarahkan," kata dia.

Berkat usahanya tersebut, Trisye meraih penghargaan Adhikarya Pangan Nusantara 2015 pada kategori peneliti dalam bidang pelayanan ketahanan pangan. Penghargaan diberikan secara langsung oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara, 21 Desember 2015. Tak berhenti di situ saja, Trisye saat ini juga aktif dalam Jejaring kemanan Pangan Nasional dan menjadi anggota Panel Pakar untuk Mikotoksin Indonesian Risk Assasement Center (INARAC).