FEATURE: Kegelisahan Pemain Boneka Magis Nini Thowong dari Bantul

Nini Thowong - Youtube/Pernik Unik Budaya
23 Oktober 2018 10:25 WIB Rahmat Jiwandono News Share :

Harianjogja.com, JOGJANini Thowong, kesenian tradisional dari Bantul, butuh penerus agar tak punah. Pelestariannya sangat sulit karena melibatkan aspek mistis. Berikut laporan wartawan Harianjogja.com Rahmat Jiwandono.

Pairan membukakan pintu rumahnya ketika azan Magrib berkumandang di Dusun Grudo, Panjangrejo, Pundong, Bantul, Minggu (21/10). Dia mempersilakan Harian Jogja duduk dan bertanya ada keperluan apa.

Digelarnya tikar di lantai ruang tamu yang sekaligus menjadi kamar tidur. TV tabung warna hitam yang mereknya sudah tak terlihat menyiarkan berita petang.

Di ruangan empat kali tiga meter itu, Pairan biasa mengaso setelah memberi makan kambing. Pairan punya empat kambing sebagai tabungan. Rumahnya sederhana. Alasnya disemen, temboknya dari batu bata yang belum diplester.

Sehari-hari dia menjadi buruh di sawah orang. Penghasilannya bertambah tatkala ada yang memintanya mementaskan Nini Thowong, terakhir kali pada 6 Agustus lalu di stasiun televisi nasional

“Baru sepi, belum ada yang nanggap,” kata dia.

Nini Thowong lahir di Grudo. Nini artinya wanita dan thowong adalah akronim ethok-ethok uwong (seakan-akan manusia), jadi Nini Thowong berarti menyerupai seorang wanita.

Nini Thowong berbentuk golek dari tempurung kelapa dan rangka bambu yang didandani dengan jarit, kutang, pakaian, kalung dari kembang telon, dan bengkung. Permainan ini diiringi gejog lesung dan gamelan mega mendung. Pada zaman dahulu, Nini Thowong dimainkan pada saat musim kemarau di bawah Purnama.

Saat pentas, biasanya ada empat perempuan yang memegang Nini Thowong. Gamelan mega mendung dibawakan satu penabuh kendang, satu penabuh gong, tiga pemukul saron, dan seorang sinden.

Nini Thowong punya lapisan-lapisan makna bagi orang Jawa. Mereka yang memainkannya yakin boneka dirasuki roh sehingga Nini Thowong bisa menari.

Konon, Nini Thowong yang sudah kemasukan makhluk halus bisa menunjukkan obat bagi yang sakit.

Magis

Nini Thowong diwariskan turun menurun sejak 1938 di keluarga Pairan dari kakek, nenek, hingga kakak, dan adiknya. Awalnya dimainkan leluhur Pairan: Udisedo, Marto Jumar, dan Paerah. Sejak pendudukan Jepang pada 1942, permainan ini terhenti.

Keempat orang tersebut memainkannya lagi selepas Indonesia merdeka pada 1960. Namun, lantaran ekonomi sangat sulit, Nini Thowong kembali mandek. Kemudian pada 1980, pemerintah menggali kesenian rakyat dan menginventarisasinya. Nini Thowong hidup lagi.

“Disesuaikan dengan zaman, bentuknya seperti yang ada sekarang ini. Instrumen gending-gendingnya diselaraskan dengan keadaan,” tutur Pairan.

Pairan sudah memainkan kesenian ini selama 45 tahun sejak 1973 dan sekarang dia adalah generasi terakhir.

Tak seperti pentas drama yang bisa dipelajari langsung, Nini Thowong butuh medium di luar nalar empiris.  Proses ini mirip-mirip bonding dalam film box office rekaan James Cameron, Avatar. Na’vi, spesies berwarna biru menyerupai manusia, harus menyambungkan rambutnya dengan buntut leonopteryx, kuda terbang di Planet Pandora. Setiap na’vi harus berjodoh dengan leoonopteryx agar bisa menungganginya.

Pairan menjelaskan prosesnya dengan istilah tayuhTayuh, menurut dia, adalah roh pengisi boneka Nini Thowong. Tayuh harus benar-benar merasa cocok dengan orang baru yang akan memainkannya.

“Tetapi sampai sekarang pengisi ini belum menemukan orang yang pas,” kata dia.

Warisan

Nini Thowong masuk dalam kategori warisan budaya tak benda DIY 2018. Warisan budaya tak benda didefinisikan sebagai bermacam praktik, ekspresi, pengetahuan, keterampilan maupun artefak yang berkaitan dengan budaya masyarakat, kelompok, maupun perorangan.

Warisan ini diturunkan dari generasi ke generasi, secara terus menerus. Konvensi UNESCO pada 2003 mengategorikan warisan budaya tak benda dalam lima jenis: tradisi lisan dan ekspresi, seni pertunjukan, adat istiadat masyarakat, ritus, pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam semesta, serta keterampilan dan kemahiran kerajinan tradisional.

Pada 2018, ada 27 peninggalan masa lalu yang ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda di DIY, meliputi dolanan benthik dan macapatan; wayang beber kyai remeng, wayang wong mataraman, wayang kancil;  tarian beksan jabeng, beksan floret, bedhaya tejanata, bedhaya kuwung-kuwung, beksan guntur segara, beksan angron sekar, beksan bugis; kesenian kethek ogleng, gejog lesung, peksi moi, tayub Jogja, gojek lambangsari, gojek pucung ketoprak; makanan geplak, geblek, brongkos; batik nithik; upacara rabu pungkasan, saparan wonolelo, saparan wonolelo, dandan kali; dan pertunjukan Nini Thowong.

Banyak dari warisan itu yang tumbuh di Bantul, sebagian sudah ditetapkan, sebagian belum. Selain Nini Thowong yang magis, warisan budaya tak benda di kabupaten ini adalah drama srandul, sebuah pertunjukan religius yang disisipi unsur dakwah Islam, serta selawat montro dari Pleret. Ada pula batik nithik, gerabah kasongan, upacara adat rabu pungkasan, dan kudapan geplak.

Hanya Nini Thowong yang pelestariannya sangat muskil.

“Nini Thowong sifatnya gaib, jadi orang bisa datang ke Pundong untuk mempelajarinya, tetapi belum tentu bisa meneruskan,” kata Kepala Dinas Kebudayaan Bantul Sunarto.

Serba Sulit

Pairan sudah tahu kesenian peninggalan keluarganya diakui sebagai warisan budaya tak benda. Saya tidak pernah meminta diakui sebagai warisan budaya tak benda, tetapi ada perhatian dari pemerintah.”

Dia pernah mendapat bantuan untuk terus melestarikan Nini Thowong.

“Tahun lalu seharusnya Rp10 juta, tetapi saya hanya menerima Rp8juta,” kata dia.

Pairan tidak mempersoalkan jumlah bantuan. Dia mengaku lebih memikirkan nasib teman-temannya yang menemaninya ketika pentas.

“Apa nanti semua kebutuhan kami tercukupi?”

Pairan pernah tekor ketika diundang ke Jakarta pada 1980-an. Dia harus menjual sapinya untuk modal berangkat tetapi honor yang ia terima tidak sepadan.

“Saya malah tombok, tetapi semuanya harus disyukuri. Sampai di Jogja uangnya saya belikan anak sapi lagi,” kata dia.

Pairan mematok harga Rp2,5 juta untuk sekali pentas dalam waktu satu jam, paling lama satu setengah jam. Di usianya yang sudah sepuh, Pairan yang tidak tahu pasti pada tahun berapa dia lahir ini, tak mungkin bermain Nini Thowong selama berjam-jam. Apalagi, tulang kaki kirinya patah saat gempa 2006 sehingga dia sulit bepergian jauh.

“Saya sejujurnya sudah bosan dan sudah tua, cuma tidak enak saja kalau ada seseorang mengundang saya untuk tampil.”

Sekarang Pairan tak terlalu menghiraukan siapa kelak yang bakal meneruskan Nini Thowong.

“Kalau perlu orang tidak tahu siapa yang memainkan Nini Thowong, yang penting mereka terhibur,” ucap si pemain boneka ini sambil memasukkan cincin batu akik ke dalam segelas air bening yang tiba-tiba menyala merah.