Advertisement

SOSOK: Ndaru Patma Putri, Menjadi Atlet Profesional dari Kursi Roda

Lajeng Padmaratri
Rabu, 03 Oktober 2018 - 16:35 WIB
Maya Herawati
SOSOK: Ndaru Patma Putri, Menjadi Atlet Profesional dari Kursi Roda Ndaru Patma Putri saat latihan - Harian Jogja/Lajeng Padmaratri

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Tak pernah ada bayangan dalam benak Ndaru Patma Putri untuk menjadi atlet. Kegemarannya dalam bidang olahraga hanya hobi semata. Namun, bencana gempa bumi yang melanda DIY pada 2006 dalam sekejap mengubah pandangan hidupnya.

Gadis asli Bantul ini sejak kecil cenderung tomboi. Ia tak keberatan untuk “cari keringat” melalui permainan luar ruang seperti kasti, sepak bola, basket, hingga bulutangkis. Ketika duduk di bangku madrasah tsanawiyah, ia bahkan bergabung dalam olahraga dayung.

Advertisement

Tak pernah ada dalam pikirannya untuk bermain tenis seperti yang sedang dijalaninya saat ini. “Menurut saya tenis itu olahraga mahal,” kata Ndaru diiringi senyum jenaka ketika ditemui Harian Jogja di sela-sela pemusatan latihan nasional (pelatnas) untuk Asian Para Games 2018, belum lama ini.

Ndaru bahkan tidak berani bercita-cita tinggi. Himpitan ekonomi membuatnya berpikir untuk bekerja keluar negeri saja selepas lulus sekolah menengah pertama.

“Cita-citaku dulu jadi TKI. Diajak kakak ke sana. Nggak jadi pembantu, tapi di pabrik. Saya lihat kakak saya pulang bisa beli motor, bangun rumah sedikit-sedikit. Sing penting halal,” ujar anak keempat dari lima bersaudara ini.

Keempat saudaranya perempuan, tiga kakaknya sudah menikah, sedangkan saat itu adiknya masih sekolah. Ia merasa punya kewajiban untuk menghidupi keluarga, pilihannya dengan menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) ke Malaysia.

Belum sampai semua itu terwujud, kota asalnya dilanda gempa bumi berkekuatan 5,9 SR pada 27 Mei 2006. Pagi itu, sekitar pukul 5.53 WIB ia sudah menyelamatkan diri keluar rumah. Sayangnya, tembok rumah tetangga ambruk ke arahnya, membuat tulang belakangnya patah.

Ndaru yang saat itu masih kelas II di Madrasah Ibtidaiyah kemudian menjadi penyandang disabilitas. Proses pemulihan fisik serta psikis Ndaru memakan waktu bertahun-tahun.

Memasuki tahun 2010, ia mulai dikenalkan dengan dunia olahraga tenis. Adalah Niken, seorang bendahara dari National Paralympic Committee (NPC) Kabupaten Bantul yang menemukannya. “NPC tahu kalau ada penyandang disabilitas baru yang masih muda, perempuan lagi. Saya tiap minggu ‘diculik’ ke lapangan dekat pabrik rokok Bantul, padahal saya nggak mau,” ujarnya.

Ia menambahkan, sekali-dua kali ia “diculik” untuk melihat proses latihan dan mengobrol tentang tenis. “Dari situ saya mulai lihat, ‘Oh, kursi rodanya seperti itu. Oh, raketnya seperti itu.’ Beberapa kali ‘diculik, tapi saya tetap nggak mau. Saat itu saya masih malu kalau keluar-keluar,” ujarnya.

Ibunya adalah sosok yang kukuh memaksanya untuk tidak malu keluar rumah meski memiliki kondisi disabilitas. Setelah berkali-kali “diculik”, Ndaru akhirnya tertarik menjajal olahraga tenis. “Awalnya mencoba duduk di kursi rodanya, terus nyoba pegang raket. Lama-kelamaan ternyata saya bisa.” Meski begitu, ia mengaku saat awal-awal latihan sangat berjuang dengan segala kesulitan yang ada.

Beruntung, ia akhirnya mendapatkan beasiswa dari Yayasan Pemberdayaan Umat untuk melanjutkan sekolah. “Event pertama saya itu pada 2012. Saya dipilih tim nasional Jogja untuk mengikuti pelatnas. Saya dilema, gimana dengan sekolah saya waktu itu,” katanya.

Ia akhirnya bernegosiasi ke sekolah untuk dapat pulang lebih awal dari sekolah untuk latihan seminggu tiga kali di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). “Akhirnya saya ikut Peparnas [Pekan Paralympic Nasional] di Riau selama sepuluh hari.” Selain Peparnas, single event yang pernah diikutinya ialah Pusrehab Cup.

Merintis Poin Internasional

Di usianya yang baru menginjak 26 tahun, Ndaru tergolong atlet tenis termuda di pelatnas. Sejak Januari 2018, ia menghuni camp di Kota Surakarta demi mempersiapkan diri untuk Asian Para Games 2018 yang berlangsung 6-13 Oktober di Jakarta.

Di ajang internasional, Ndaru baru menjajal turnamennya kali pertama pada 2018. Mei lalu ia baru pulang setelah bertanding di ajang Kemer Turkuaz Open 2018 dan Kemer Daima Open 2018 di Turki. Meski belum berhasil memperoleh medali, ia patut berbangga sebab dirinya merupakan satu-satunya perwakilan perempuan dari Indonesia.

Selepas dari Turki, pada Agustus 2018 ia mengikuti turnamen di Kuala Lumpur Open dan Labuan Open di Malaysia. Ia berhasil memperoleh dua medali perak untuk masing-masing sektor tunggal dan ganda. “Malaysia ini negara impian,” celetuknya.

Ia menambahkan, “Tadinya pengen jadi TKI di sana, lha ini malah tanding,” ujarnya disusul tawa. Berkat perolehannya itu, saat ini Ndaru berada di ranking 115 internasional untuk sektor tunggal dan 128 untuk sektor ganda perempuan.

Selain mengagumi permainan lawan-lawannya di ajang internasional, Ndaru juga mengaku takjub dengan cara bersikap atlet internasional. “Mereka sangat mandiri. Ada yang dari Inggris ke Turki datang sendiri, padahal dia harus bawa kursi roda, tas, dan kursi roda tenisnya. Itu yang saya yakini bahwa kalau mereka bisa, saya pasti juga bisa. Kursi roda mereka juga nggak pernah didorongin, lha di sini masih didorongin,” jelas gadis yang gemar menonton film di sela-sela rehat latihannya ini.

Target ke depannya, Ndaru berharap mendapatkan will card pada ajang Olimpiade 2020 di Tokyo, Jepang. “Dulu terakhir Indonesia ikut tahun 2014. Belum ada lagi yang perempuan,” tuturnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

alt

Jadwal KRL Solo Jogja Hari Ini, Sabtu 22 Maret 2025, Berangkat dari Stasiun Palur hingga Tugu Jogja

Jogja
| Sabtu, 22 Maret 2025, 00:47 WIB

Advertisement

alt

Menikmati Keindahan Danau Baikal di Siberia Tenggara, Tertua di Bumi Berusia 25 Juta Tahun

Wisata
| Rabu, 19 Maret 2025, 21:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement