Astagfirullah! Dua Pria di Mekah Gelap Mata Bakar Mobil hanya karena Dikemudikan Wanita

Mobil milik Salma Al-Sharif dibakar dua pria karena tak setuju wanita dibolehkan menyetir di jalan raya. - Gulf Business/Social media
07 Juli 2018 19:25 WIB Nugroho Nurcahyo News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Larangan wanita mengemudi di Arab Saudi memang telah dicabut. Namun beberapa pria di negeri itu masih menentang keputusan Kerajaan yang membolehkan wanita berdaulat di jalan raya.

Dua orang di Kota Mekah salah satu dari wujud tindakan nyata ketidaksukaan para pria dengan kebijakan baru itu. Keduanya bersekongkol untuk membakar mobil yang dikemudikan wanita pada Rabu (4/7/2018) lalu. Kini keduanya telah ditangkap dan menghadapi dakwaan Mahkamah di Mekah.

Dua pria itu meneror Salma Al-Sharif saat wanita 31 tahun itu mengemudikan mobilnya. Mereka menyebut wanita mengemudi di jalan raya sebagai perbuatan “menentang kehendak Tuhan.”

Kantor Berita Pemerintah Arab Saudi, Saudi Press Agency (SPA) melaporkan duo pria yang dimabuk keyakinan diri mereka sendiri itu ditangkap polisi Kerajaan Saudi. Keduanya dikenakan pidana pembakaran mobil milik Al-Sharif. Tidak ada sangkaan kasus lain dikenakan kepada kedua pria itu.

Berdasarkan laporan di Kepolisian Mekah, satu pria mengambil bensin di garasi dan meminta pria lain membantunya menyalakan api.

Al-Sharif yang bekerja sebagai kasir mengatakan kobaran api di mobilnya dilakukan para pria-pria itu karena mereka menentang wanita mengemudi di jalan raya. Dia juga mengatakan bahwa sebelum kejadian itu, dia sering dipersekusi oleh pria di lingkungannya setelah mereka tahu ia mulai mengemudi.

Majdooleen, satu dari sekian wanita Saudi yang masuk dalam daftar pertama diizinkan mengemudi di Arab Saudi, mengemudikan mobilnya di dekat rumahnya di Riyadh, Arab Saudi, 24 Juni 2018. (REUTERS-Faisal Al Nasser)

Insiden itu terungkap setelah seorang tetangga memberi tahu ayah Al-Sharif. Kasus itu disebut saat ini tengah dipersiapan untuk diproses ke pengadilan oleh penuntut umum.

Kepada SPA, Al-Sharif mengatakan sebelum larangan mengemudi dicabut, dia harus menghabiskan separuh dari gaji bulanannya yang senilai US$ 1,067 untuk membayar sopir.

"Tapi dari hari pertama saya secara sah diperbolehkan mengemudi, saya menjadi sasaran hinaan dari laki-laki," katanya.

Warga di seluruh negeri, termasuk anggota Dewan Syariah Konsultatif Kerajaan, telah mengutuk insiden itu dan secara terbuka memberikan dukungan kepada Al-Sharif.

Negara timur tengah itu telah mencabut larangan wanita mengemudi pada 24 Juni 2018 dan menjadi sebuah langkah bersejarah. Kebijakan itu diharapkan bisa menghidupkan kembali ekonomi Saudi yang sedang melemah.

Reformasi Saudi

Putra Mahkota Mohammed Bin Salman adalah tokoh yang memprakarsai beberapa reformasi untuk perubahan besar yang bakal mengubah wajah Arab Saudi. Dia mulai menerapkan ekonomi terbuka dan mengurangi ketergantungan pada minyak.

Bloomberg Economics melaporkan hak wanita untuk mengemudi diharapkan dapat membuka peluang kerja baru bagi perempuan dan dapat menambahkan sekitar US$90 miliar untuk output ekonomi negara Timur Tengah itu pada 2030. Namun, perempuan di Saudi masih harus menghadapi tantangan yang berat.

Ada banyak sekali wanita melamar di sekolah-sekolah mengemudi sehingga mereka harus antre untuk bisa kursus menyetir. Di Saudi, sembilan daerah kekurangan sekolah menyetir. Tantangan ini akan membuat pemandangan wanita lazim menyetir di jalan raya akan semakin lama terlihat di jalan-jalan di Arab Saudi.

Sumber : International Business Times