Gara-gara Sampah, DIY Tak Punya Peredam Tsunami

Ilustrasi tsunami - Reuters/Kim Kyung/Hoon

Harianjogja.com, JOGJA—Sedikitnya 45 desa di Kulonprogo, Bantul, dan Gunungkidul, berisiko dihantam tsunami. Sayangnya, mangrove yang menjadi peredam tsunami paling ampuh malah kesulitan tumbuh di pesisir gara-gara sampah.

Hutan mangrove atau bakau di DIY berada di dua kabupaten, Gunungkidul dan Kulonprogo. Semuanya dalam kondisi buruk.

Ribuan bibit bakau yang telah ditanam di Desa Jangkaran, Kecamatan Temon, dan Pantai Trisik, Desa Banaran, Kecamatan Galur, mati karena polusi. Septian Wijayanto, pengelola Hutan Mangrove Pantai Pasir Kadilangu, Jangkaran, mengatakan dari dua bibit yang ditanam, hanya satu yang akan tumbuh menjadi pohon.

“Dari 1.000 bibit, mungkin hanya sekitar 50% sampai 70% yang tetap bertahan hidup,” kata dia kepada harianjogja.com, Rabu (4/4/2018).

Bibit bakau mudah mati dan kesulitan tumbuh gara-gara serbuan sampah dan limbah rumah tangga kiriman dari Sungai Bogowonto. Akibatnya, di area sepanjang 1,5 kilometer, ketebalan hutan bakau yang bentuknya laksana sabuk hanya 15 meter sampai 30 meter.

“Sekarang sudah lebih baik setelah warga berinisiatif melindungi bibit bakau dengan pagar bambu, sudah lebih terlindungi,” ujar Septian.

Padahal, jembar area mangrove sangat penting sebagai bagian dari mitigasi bencana. Uji coba yang dilakukan Tetsuya Hiraishi dan Kenji Harada, peneliti tsunami dari Kyoto University, Jepang, menunjukkan sabuk bakau setebal 100 meter mampu meredam energi destruktif tsunami hingga 90%.

Menurut Septian, hutan bakau dengan luas total sekitar 40.000 meter persegi di Jangkaran masih memerlukan perhatian dari peneliti dan instansi yang mempunyai pengetahuan mendalam.

“Kami kemarin ditinjau oleh Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak, dan mungkin ada tindak lanjut, tetapi kami masih membutuhkan bantuan dari yang berpengalaman untuk bisa merawat mangrove,” ujar dia.

Mangrove di Pantai Trisik juga berantakan. Sekretaris Paguyuban Laguna Pantai Trisik Edy Wiyanto mengungkapkan laguna yang sedang dikembangkan sebagai ekowisata mangrove tak berkembang sesuai rencana karena bibit bakau mati akibat limbah industri, sampah, dan dimamah hewan ternak warga. “Harapan hidup masih kecil, kami butuh bantuan,” tutur dia.

Bakau di Bantul dibebat persoalan lain. Setelah disapu banjir besar akibat Siklon Tropis Cempaka pada akhir November 2017, lima hektare lahan yang ditanami bibit mangrove di Pantai Baros, Desa Tirtoharjo, Kretek, belum pulih seperti sedia kala.

Area konservasi sekarang malih menjadi aliran sungai. Dwi Ratmanto, Ketua Divisi Konservasi Keluarga Pemuda-Pemudi Baros, mengatakan pemulihan pascabencana Badai Cempaka belum berjalan maksimal. Aktivis konservasi baru bisa membersihkan bekas lahan konservasi dari sampah.

“Penanaman kembali bibir mangrove masih dalam skala kecil. Kami baru menanam ratusan bibit di lahan lima hektare yang rusak,” kata dia kepada Harian Jogja, Rabu.

Pemulihan area konservasi bakau di Pantai Baros sukar lantaran tanaman pelindung seperti cemara belum ditanam ulang.

“Semua hanyut karena banjir. Kami akan terus berusaha agar area konservasi bisa berfungsi maksimal. Namun semua itu juga butuh bantuan dan partisipasi dari pihak lain karena pemulihan perlu teknologi dan dana yang tidak sedikit,” kata dia.


Manfaat Bakau
Mangrove punya kemaslahatan yang tak sedikit. Indonesia, termasuk DIY, sebenarnya dilimpahi sumber daya yang memadai. Luas total hutan bakau di Nusantara mencapai hampir tiga juta hektare di garis pantai sepanjang 95.000 kilometer. Jika dikumpulkan jadi satu, jembar hutan mangrove itu setara dengan luas negara Belgia.

Pusat-pusat bakau berada di Sumatra, Kalimantan, dan Papua. Menurut Badan Pangan dan Agrikultur PBB atau Food and Agriculture Organization (FAO), mangrove bisa tumbuh menjulang hingga 50 meter. Ketinggian ini cukup untuk menangkal tsunami 57 meter yang menurut Widjo Kongko, peneliti tsunami dari Balai Pengkajian Dinamika Pantai Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), kemungkinan besar menerjang Pandeglang, Banten, apabila gempa megathrust terjadi di lautan dangkal.

Ketangguhan mangrove menyetop laju tsunami sangat tergantung topografi garis pantai, kecepatan dan ketinggian gelombang, ketebalan sabuk bakau, ketinggian pohon mangrove, dan komposisi hutan.

FAO sudah menjabarkan banyak contoh faedah tsunami bagi keselamatan umat manusia. Jangkauan luas hutan bakau akan mampu mengurangi angka kematian akibat tsunami. Ini terlihat di Sri Lanka, India, dan Thailand Selatan (lihat grafis).
 
Mangrove yang lebat dan membubung tinggi tak cuma digdaya menghalau tsunami, tetapi juga menjadi bumper bagi area sekitarnya dari amukan badai dan topan di India pada 1999, di Bangladesh pada 1991, serta di Vietnam pada 2000.

Deforestasi
Sayangnya, mangrove makin hari makin menyusut. Hilangnya bakau di Indonesia tak sedikit, sekitar 6% dari total deforestasi seluruh hutan Indonesia atau setara 0,05 juta hektare.

Di beberapa tempat, seperti pesisir Sumatra, Sulawesi, dan Jawa Timur, tambak udang dan ladang garam yang menghasilkan keuntungan ekonomis secara instan merupakan penyebab utama menciutnya hutan mangrove.

Pundi-pundi rupiah ini tergolong memabukkan karena jumlahnya cukup gede. Pada 2013, keuntungan ekspor udang Indonesia mencapai US$1,5% (setara Rp20,6 triliun).
Namun, taruhannya besar.

Kerusakan yang ditimbulkan deforestasi bakau sangat mematikan. FAO menyebut pada 1998, pesisir di Papua Nugini rusak parah akibat gelombang pasang setelah berhektare-hektare bakau dicabut.

Kemudaratan ini juga terlihat di Aceh. Banyak hutan bakau yang dibabat untuk pembuatan tambak udang di pantai Aceh. Akibatnya, kawasan itu tak punya pelindung. Ketika tsunami setinggi 20 meter membidas daratan pada Desember 2004, 167.000 orang tewas, ribuan bangunan luluh lantak.

Rawan Tsunami
Mangrove yang kesulitan tumbuh akibat sampah di Kulonprogo dan tak dipulihkan secara cepat setelah bibitnya diterjang banjir di Bantul, menyebabkan DIY tak punya tameng alami dari tsunami. Satu-satunya pelindung adalah sikap masyarakat menghadapi ancaman, yang sebenarnya juga belum dikaji secara menyeluruh.

Sekitar 45 desa di wilayah selatan provinsi ini bisa porak poranda apabila tsunami muncul. Berdasarkan hasil analisis bencana tsunami yang disusun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY pada 2016 lalu, lima kecamatan di Kulonprogo; yakni Temon, Wates, Panjatan, Galur dan Lendah, masuk kategori risiko tinggi. Di lima kecamatan itu, terdapat 31 desa yang dihuni ribuan jiwa.

Di Bantul, kecamatan yang masuk daerah bahaya adalah Sanden dan Kretek. Ada empat desa yang rawan dihantam tsunami. Adapun di Gunungkidul, kecamatan yang masuk wilayah rawan meliputi Panggang, Saptosari, Tanjungsari, dan Girisubo, dengan 10 desa di dalamnya.

Kepala Pelaksana BPBD DIY Biwara Yuswantana mengatakan jawatan yang ia pimpin belum mengkaji mitigasi bencana untuk daerah-daerah yang rawan terdampak tsunami itu. Kajian untuk menyusun rencana komprehensif sepanjang pantai selatan baru akan diusulkan pada APBD 2019.  Kajian itu akan menghasilkan langkah-langkah yang harus dilakukan untuk meminimalkan risiko tsunami.

“Entah dari sisi infrastruktur, kesiapsiagaan masyarakat, serta alur dan titik evakuasi,” ujar Biwara ketika ditemui di ruang kerjanya, Rabu.

Telaah mengenai mitigasi tsunami, menurut Biwara, sangat mendesak. Musababnya, Gubernur DIY Sri Sultan HB X punya keinginan menjadikan wilayah selatan sebagai pintu gerbang baru Bumi Mataram sehingga aspek keselamatan juga mesti diperkuat.

Selagi menunggu hasil studi kelar disusun, BPBD DIY memanfaatkan keberadaan desa tangguh bencana (destana) dan sekolah siaga bencana. Hingga kini di Kulonprogo sudah terbentuk lima destana, sementara di Bantul sudah terbentuk enam destana dan Gunungkidul delapan destana.

Cara kerja destana kurang lebih mempraktikkan rencana yang telah disusun BPBD DIY, yakni memuluskan pelatihan bagi berbagai komponen di desa, seperti TNI, sukarelawan, PMI dan puskesmas untuk menghadapi bencana dengan terencana.

“Misalnya di Desa Sindutan ada gempa, skenarionya muncul tsunami. Warga dikasih tahu punya waktu 30 menit untuk pergi ke daerah aman. Mereka mengerti ke mana harus lari dan berkumpul,” ucap dia.

BPBD DIY tahun ini juga berencana mengganti sinyal peringatan dini atau early warning system (EWS) tsunami dengan teknologi lebih canggih. EWS yang selama ini dipakai masih bersifat mekanik. Ke depan BPBD DIY akan menggunakan tipe sensor.

“Dulu dipasangi tali. Kalau ada pergerakan tanah, tali akan menarik dan memicu tombol sirene. Tetapi ada jeda waktu antara pergerakan tanah dan bunyi sirene. Kalau sensor bisa mengirim data yang bisa dijadikan rujukan satu daerah yang lebih luas,” kata Biwara.

Sementara, mangrove belum masuk dalam rencana mitigasi.

Harus Diantisipasi
Kemungkinan tsunami di pesisir DIY cukup terbuka, setidaknya berdasarkan tasyrih ilmiah.

Widjo Kongko, peneliti tsunami dari Balai Pengkajian Dinamika Pantai Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), memprediksi tsunami 57 meter bisa menerjang Pandeglang, Banten. Tsunami besar akan muncul dengan satu syarat, yakni terjadinya gempa megathrust di kedalaman laut yang dangkal.
 
Megathrust adalah sebutan aktivitas di zona subduksi. Megathrust terjadi ketika lempeng satu mendorong lempeng sehingga mengakibatkan gempa besar. Zona megathrust yang melewati Selat Sunda dan selatan Jawa adalah pertemuan Lempeng Indo-Australia dan Eurasia yang saling menghunjam ke dalam Bumi dengan laju 60-70 milimeter per tahun.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho dalam akun Twitter-nya menulis, “Memang benar ada potensi gempa megathrust di selatan Jawa dan Selat Sunda.”

Perkiraan tsunami 57 meter di Pandeglang diperoleh dari simulasi teoritis menggunakan skenario terburuk.

Namun, dia meminta masyarakat tidak lebay menanggapi hasil analisis peneliti BPPT. Sutopo mengimbau publik tidak panik karena lokasi, magnitudo, maupun waktu spesifik gempa tidak mungkin diprediksi. Sementara, tanpa gempa tidak mungkin bakal terjadi tsunami.

“Yang penting kita perlu meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana. Sosialisasi, penataan ruang, mitigasi, pendidikan kebencanaan perlu ditingkatkan. Jika tidak terjadi tsunami tidak masalah tetapi semuanya siap mengantisipasi.”