KISAH UNIK : Alami Pre-eklamsia, Gorila Ini Jalani Operasi Caesar

Bayi gorila betina yang belum diberi nama ini lahir dengan operasi sesar (Bristol Zoo).
24 Februari 2016 03:20 WIB Mediani Dyah Natalia News Share :

Kisah unik ini datang dari seorang bayi gorila yang lahir dengan jalan operasi caesar di Kebun Binatang, Inggris.

Harianjogja.com, INGGRIS-Gorila seberat 1,1 kg dibungkus dengan selimut hangat ini mungkin terlihat biasa. Adapun kelahirannya berliku-liku, bak drama di televisi.

Dilansir dari Dailymail, Rabu (23/2/2016), ibu gorila terpaksa harus menjalani operasi caesar lantaran didiagnosa mengalami pre-eklamsia yang dapat mengancam nyawa. Profesor Ginekologi, David Cahill dari rumah sakit bersalin NHS lokal harus diundang untuk membantu proses operasi di klinik hewan Kebun Binatang Bristol.

Dokter hewan juga harus secepatnya bertindak agar bayi gorila sadar sebelum menghirup nafas untuk pertamakali. Untungnya semua berjalan lancar, bayi itu dapar diselamatkan.

[caption id="attachment_694381" align="alignleft" width="370"]http://images.harianjogja.com/2016/02/gorila-bernama-kera.jpg">http://images.harianjogja.com/2016/02/gorila-bernama-kera-370x298.jpg" alt="Kera bersama penjaga Kebun Binatang Bistrol pada 2008 (Bristol Zoo)" width="370" height="298" /> Kera bersama penjaga Kebun Binatang Bistrol pada 2008 (Bristol Zoo)[/caption]

Bayi ini merupakan gorila pertama yang lahir sukses melalui bedah sesar darurat. Angka kejadiannya mencapai satu dibanding 10 di dunia.

Hingga saat ini bayi tersebut belum dinamai dan masih mendapatkan perawatan intensif dari ahli di kebun binatang itu. Sementara ibunya, yang bernama Kera kini dalam masa pemulihan.

Kemarin, Profesor Cahill, dokter spesialis reproduksi di Universitas Bristol dan ginekologi di Rumah Sakit St. Michael, Bristol mengatakan," Selain memiliki anakku, pengalaman ini merupakan pencapaian terbesar dalam hidupku dan tidak akan pernah saya lupakan. Saya baru saja kembali mengunjungi Kera dan bayinya. Sangat menyenangkan melihat mereka baik-baik saja," terangnya.

Kera merupakan gorila dari dataran rendah daerah Barat, subspesial asal Kamerun Barat, Afrika Tengah yang hampir punah.

Gorila ini melahirkan setelah menjalani usia kehamilan delapan setengah bulan. Selisih beberapa minggu dengan manusia. Berat gorila dewasa dapat mencapai 117 kg, sedang bayi gorila hanya 2 kg. Kera, 11, hamil sejak tahun lalu. Gorila ini dikawinkan dengan salah satu dari enam gorila di tempat tersebut, Komale, 9.

Kera diketahui mengalami pre-eklamsia dengan tanda-tanda mengalami tekanan darah tinggi dan retentensi cairan yang dapat membahayakan bayi itu.

Profesor Cahill diundang setelah kondisi gorila ini menurun. Saat diperiksa, bayi juga terlihat tak responsif. Pada hari yang sama, Kera kemudian diberi obat penenang di kandang gorila seharga £1 juta. Dia dibawa menggunakan tempat tidur gantung karena klinik tak memiliki tempat tidur yang selebar dirinya.

Saat diletakan di atas meja operasi, tempat tidur gantung itu masih terlihat di sekelilingnya. Ketika dia dibius, Profesor Cahill dan rekannya dari Rumah Sakit St. Michael, Dr Aamna Ali melakukan operasi caesar.

Mereka dibantu staf dokter hewan,  Kebun Binatang Bristol, Rowena Killick. Saat berhasil dilahirkan, bayi itu mendapat bantuan pernafasan dengan selang.

Tim lalu mengusap dada bayi, membersihkan mulut dan semua orang baru dapat bernafas lega ketika mengetahui bayi tersebut dapat bernafas. Adapun Profesor Cahill telah melakukan operasi sesar pada
ratusan orang

"Kami diundang ke kebun binatang untuk merawat Kera karena dia sudah hamil tua dan menunjukkan gejala tak sehat."

"Kami menyadari Kera mungkin mengalami hal yang dialami manusia, pre-eklamsia, dan cara untuk mengatasi adalah dengan melahirkan. Kami juga berpikir, bayi di janinnya melihatkan gejala tak sehat
sehingga harus dilahirkan."

John Partridge, kurator senior di Kebun Binatang Bristol mengatakan,"Kelahiran gorila adalah langka dan dinanti, tetapi melahirkan bayi gorila dengan operasi sesar lebih tak biasa. Keputusan ini bukanlah hal mudah. Kondisi Kera terus menurun dan kami membutuhkan tindakan cepat untuk menyelamatkan ibu dan anak dan menghindari risiko kehilangan bayi."

Kera ditolak oleh ibunya di Kebun Binatang Barcelona, 2004. Akhirnya dia dirawat bersama gorila muda lainnya di Stuttgart, Jerman, Dia tinggal di Kebun Binatang Bristol sejak 2008.

Menurut informasi yang berkembang, kelahiran operasi sesar untuk bayi gorila dilakukan kali kedua atau ketiga. Hanya, pada kasus pertama, bayi tak dapat diselamatkan.