ANGKRINGAN PAKDHE HARJO : Aja Nabrak Paugeran

Koordinator Masyarakat Peduli Pelayanan Publik Solo (MP3S), Alex Taufik (lima dari kanan), menyerahkan vandel kepada Redaktur Pelaksana, Anton Wahyu P (kanan), pada acara Kunjungan di Griya Solopos, Solo, Senin (16/2) Kunjungan tersebut dalam rangka menjalin kerja sama serta untuk mempererat silaturahmi. (JIBI/Solopos - Ivanovich Aldino).
18 Mei 2015 00:20 WIB Anton Wahyu Prihartono News Share :

Angkringan Pakdhe Harjo ditulis wartawan Harian Jogja, Anton Wahyu Prihartono

Harianjogja.com, JOGJA-Malam belum begitu larut, namun angkringan milik Lik Jon sudah sepi. Sang owner angkringan hanya duduk menunduk sambil mengusap layar sentuh HP androidnya. Sarjono, demikian nama lengkap laki-laki "blasteran" Bayat, Klaten dan Gunungkidul itu tampak serius membaca berita yang terjadi di Ibukota dan belahan penjuru Nusantara.

Konsentrasi Lik Jon langsung buyar manakala sahabatnya tiba-tiba memangilnya.

"Jon...edyan tenan iki. Masak telung jam tarifnya Rp80 juta," ujar laki-laki bernama Karyo menghampiri Lik Jon.

Lik Jon pun dibuat gagal paham oleh sahabatnya yang sehari-hari bekerja sebagai mandor proyek pembangunan sebuah gedung di Jogja. Apanya yang edan, apanya yang telung jam dan apa pula yang Rp80 juta. Semua pertanyaan remeh temeh tersebut membuat Lik Jon penasaran. "Maksudnya apa ta Mas. Aku ora mudheng," tanya Lik Jon.

Laki-laki bertubuh gempal dan sedikit pendek itu malah memperlihatkan telepon genggamnya kepada Lik Jon. Di layar telepon terdapat inisial-inisial yang diikuti angka dalam jumlah jutaan rupiah. "Ini malah ada yang sampai Rp200 juta segala Jon. Inisialnya TB. Bayangkan Jon, rong atus yuto mung telung jam," ungkap Karyo menggebu-gebu.

Lawan bicaranya semakin tidak dong alias ora mudheng. "Mbuh Mas! Ra mudheng aku," jawab Karyo singkat.

Karyo pun dibuat geregetan dengan sikap Lik Jon yang tak segera konek tersebut. "Ssst....itu tarif artis yang bisa diajak kencan. Tiga jam Rp200 juta...dan yang paling murah Rp30 juta. Edan po ra," jelas Karyo sambil menunjukkan lagi "daftar tarif" artis yang sumbernya tidak jelas tersebut.
Mata Lik Jon langsung terbelalak. Dia tak percaya dengan tarif yang menghebohkan tersebut.
"Haaaaa...rong atus yuto! Kuwi yo dhuwit kabeh?" tanya Lik Jon setengah tak percaya.
Mulut Karyo terkekeh-kekeh. "Ya jelas uang semua Jon! Dan harus cash. Tidak boleh kredit mas bro," jawab bujang lapuk tersebut.

Lik Jon terdiam sejenak. Dia langsung menyambar kalkulator yang ada di laci angkringan. Dia kemudian membagi angka Rp200 juta dengan pendapatan berjualan di angkringan per bulan yang hanya Rp1,5 juta. "Edaan...itu sama dengan penghasilanku jualan angkringam selama 11 tahun. Artinya tiap menit artis itu dibayar Rp1,1 juta...," ujar Lik Jon sembari menggeleng-gelengkan kepala.
Belum sempat Karyo memberi komentar lebih jauh, seorang laki-laki tua yang rambutnya sudah memutih masuk tenda angkringan. "Ana apa ta, kok sajak gayeng?" tanya Pak Dhe Harjo, sesepuh di kampung.

Wajah Karyo sedikit menjadi merah. Dia menatap Lik Jon sambil mengerdipkan mata kanannya ke arah Lik Jon. Jelas, Karyo tak menghendaki pembicaraan soal artis yang nyambi sebagai penjual jasa esek-esek tersebut diketahui oleh sesepuh kampung yang terkenal alim.

Namum kerdipan mata kanan Karyo tak nyambung karena mulut Lik Kon keburu membuka. "Itu Pak Dhe....Mas Karyo dapat daftar nama-nama artis yang bisa 'dipakai'. Katanya sampai Rp200 juta harganya. Bayangkan Pak Dhe...itu pun cuma tiga jam," beber Lik Jon.

Muka Karyo semakin merah padam. Wajahnya sedikit tertunduk dan sama selali tidak berami menatap wajah pensiunan guru tersebut. "Ooo itu ta. Tak kira ngrembuk babagan sabda raja utawa dawuh raja. Jebul masalah esek-esek ta?" jawab Pak Dhe sambil mesem.

Kepala Karyo perlahan terangkat. Diliriknya laki-laki tua yang ada di depannya. Plong. "Iya...saya juga baca di koran," ujar Pak Dhe.

Mata mas Karyo semakin berbinar karena laki-laki di depannya juga mengikuti perkembangan berita yang menghebohkan itu. Lik Jon tetap menyimak penuh antusias. Dia penasaran dengan nama artis yang dibanderol mahal tersebut. "Terus siapa artis yang berinisial AA itu Mas? Siapa sih artis yang sekali kencan bayarnya sampe mencekil leher. Rp200 juta kan banyak banget," tanya Lik Jon sedikit penasaran.

Karyo pun menggelengkan kepalanya. "Emboh Jon. Yang jelas dudu Ahmad Albar," jawab Karyo sekenanya sambil tertawa lebar.

Pak Dhe hanya tersenyum tipis. Dia kemudian melepas pecinya yang sudah miring ke kanan dan meletakkannya di meja angkringan. Dia menarik napas dalam-dalam. "Dunia esek-esek memang susah diberantas. Mulai jaman jahiliyah hingga jamam milenium seperti sekarang ini, praktik prostitusi memang selalu ada," ujar Pak Dhe.

Dua manusia di depan laki-laki tua itu hanya terdiam. Biasanya kalau Pak Dhe sudah melepas peci dan meletakkannya di meja angkringan, berarti ada sesuatu yang penting alias serius yang bakal disampaikannya. Keduanya pun tak berani menyela, apalagi memotong pembicaraan. Seperti sabda raja yang perkataannya harus didengarkan.

"Kalau mau cari siapa yang salah, tentu saja ini salah semuanya. Aparat salah, yang makai salah, yang menjual salah, pemerintah juga salah," jelas Pak Dhe singkat.

"Kok salah semuanya gimana to Pak Dhe?" tanya Karyo memberanikan diri bertanya.

Pak Dhe kembali menghela napas dalam-dalam lagi. "Begini, kalau masalah ini diselesaikan kepada aparat penegak hukum saja, niscaya persoalan ini tidak akan pernah tuntas, tidak akan pernah selesai. Begitu mereka terjaring razia, mereka kembali lagi hidup di jalan dan mencari hidung belang," jelas Pak Dhe.

Jadi, sambung Pak Dhe, yang dihukum jangan PSK nya saja, tapi para penggunanya sekalian dihukum biar ada efek jera. Dalam kasus prostitusi yang melibatkan artis, polisi harus berani membongkar nama-nama yang pernah menggunakan jasa artis itu. Dengan demikian, PSK nya kena, penggunanya juga kena. "Cukup gampang sebenarnya jika melacak pejabat yang memakai jasa artis tersebut. Seperti mengusut aliran dana korupsi itu lho. Umumkan dan sampaikan ke publik nama-nama pejabat yang telah mendapat 'servis' para artis itu," beber Pak Dhe.
"Setuju Pak Dhe. Siapa tahu malah banyak anggota DPR yang sok alim malah menjadi langganan para artis itu," sahut Karyo sambil tertawa lebar.

Pak Dhe pun tersenyum tipis. Dia kemudian melanjutkan kotbahnya di depan dua "murid" di forum angkringan tersebut. Kunci menghilangkan prostitusi terletak pada pribadi masing-masing. Artinya, suburnya praktik prostitusi tak lepas dengan banyaknya permintaan dari kaum hidung belang. Kalau tidak ada permintaan, otomatis juga tidak akan ada wanita yang menjajakan diri, mulai dari pinggir rel kereta maupun di hotel bintang lima.

Peran pemuka agama juga menjadi hal yang sangat penting. Mereka harus ikut andil dalam membentengi iman dan taqwa pengikutnya sehingga bisnis prostitusi tak makin menggila. "Kalau penanganannya cuma dengan garukan, itu tidak efektif. Sebab, ini butuh kesadaran di sini," ujar Pak Dhe sambil menunjuk dadanya.

Kalau semua sudah sadar, yang menjual diri sadar, yang membeli juga sadar, maka bisnis prostitusi ini tak akan lancar.

Semua pada mengangguk pertanda setuju. Pak Dhe pun kembali memakai peci hitamnya tanda-tanda hendak bergegas pulang.

"Kesimpulannya, orang hidup di bumi itu jangan sampai nabrak paugeran. Iya ta Mas Karyo," ujar Lik Jon.
"Huss...aja nyebut-nyebut istilah paugeran. Sensitif Jon," sahut Karyo.
Pak Dhe hanya tersenyum tipis dan langsung beranjak hendak pulang. "Wis bengi, mangga dilanjutke ngobrole," pamit Pak Dhe.