UN SMP 2015 : Tak Ada Soal Khusus, Siswa Low Vision Kesulitan Garap Soal

Murid Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Sentolo, Ganis Widiatmono, berbincang dengan Bupati Kulonprogo, Hasto Wardoyo, di sela-sela pelaksanaan ujian nasional di SMPN 3 Sentolo, Selasa (5/5/2015). Ganis, murid penderita low vision, mengaku huruf soal terlalu kecil untuk dibaca meski sudah memakai sejumlah alat bantu. (JIBI/Harian Jogja - Rima Sekarani I.N)
06 Mei 2015 14:40 WIB Rima Sekarani News Share :

UN SMP 2015 di Kulonprogo terkendala ketidaan soal khusus bagi peserta low vision.

Harianjogja.com, KULONPROGO—Memakai ukuran huruf 12, soal-soal dalam ujian nasional tingkat sekolah menengah pertama masih terlalu kecil untuk kalangan murid dengan low vision. Alat bantu yang mereka gunakan juga tidak terlalu banyak membantu karena soal masih sulit terlihat jelas.

Kondisi itu diungkapkan murid dengan low vision di SMP Negeri 3 Sentolo, Rahmadi Ikhrom Iszudim. Menurut dia, ukuran huruf yang standar dengan murid non-berkebutuhan khusus cukup menyulitkan dirinya menggarap soal.

“Saat melingkari jawaban, saya takut keluar dari lingkaran,” paparnya, Selasa (5/5/2015).

Pernyataan serupa juga disampaikan murid SMPN 3 Sentolo lainnya, yang juga low vision, Ganis Widiatmono. Dia kesulitan membaca soal karena merasa pusing dan pandangannya kabur. Namun, dia tetap bisa menyelesaikan semua soal dan berharap bisa lulus.

Kepala SMPN 3 Sentolo Praptinah mengungkapkan dari 185 peserta UN yang ada, empat di antaranya adalah siswa berkebutuhan khusus. Tiga siswa dalam kondisi low vision sedangkan satu siswa lainnya mengalami bibir sumbing.

“Ada dua siswa yang tetap menjalani UN secara reguler karena berdasarkan hasil assessment, dinyatakan cukup mampu,” paparnya.

Praptinah memaparkan, selain ruang ujian khusus, sekolah juga menyediakan alat bantu berupa lampu penerangan tambahan. Lampu tersebut diletakkan di atas meja masing-masing siswa.

“Kondisi soalnya saya kurang tahu apakah berbeda dengan siswa lain atau tidak karena saya tidak melihatnya langsung,” kata Praptinah.

Guru pendamping khusus di SMPN 3 Sentolo, Legima, mengatakan secara umum sebenarnya tidak ada masalah yang sangat mengkhawatirkan. Dia juga tidak menyangka ukuran huruf pada soal tidak diperbesar.

“Sejak Oktober sudah saya laporkan agar ukuran hurufnya 18 tetapi ternyata tetap 12. Jadi, dengan kaca mata juga sulit,” ungkapnya.

Kepala Dinas Pendidikan Kulonprogo Sumarsana justru mengaku tidak menerima permohonan pengadaan soal khusus dari SMPN 3 Sentolo, “Kalau tidak ada permohonan juga tidak bisa mengajukan ke provinsi,” ucapnya.

Sumarsana menambahkan pengadaan soal khusus untuk ujian hari berikutnya juga tidak memungkinkan. Dia berharap sekolah bisa menemukan solusi yang bisa memenuhi kebutuhan siswa bersangkutan.

“Ini akan jadi bahan instropeksi internal,” paparnya.