UN SMP 2015 : Mundur, Siswa Bisa Ikut Ujian Kesetaraan

ilustrasi Ujian Nasional SMP (Burhan Aris Nugraha/JIBI - Solopos)
05 Mei 2015 16:23 WIB News Share :

UN SMP 2015, sebanyak 14 siswa di Sleman tidak mengikuti ujian nasional.

Harianjogja.com, SLEMAN—Ujian Nasional (UN) untuk tingkat SMP/MTs dimulai Senin (4/5/2015).
Berdasarkan data posko UN Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Sleman, ada 14 siswa tidak bisa mengikuti UN, dengan rincian 10 siswa mengundurkan diri, tiga sakit, dan satu meninggal dunia.

Siswa yang mengundurkan diri berasal dari SMP Muhammadiyah 2 Godean, SMP Muhammadiyah 1 Godean, SMPN 2 Sleman, SMPN 3 Sleman, SMPN 3 Tempel, SMPN 4 Tempel, SMPN 2 Depok, SMPN 4 Kalasan serta dua siswa dari SMP Muhammadiyah 2 Mlati. Tiga siswa sakit berasal dari SMP Insan Cendikia Turi, SMPN 1 Pakem dan SMPN 3 Godean. Sedangkan siswa meninggal berasal dari SMP Diponegoro Depok.

Salah satu siswa yang mengundurkan diri berasal dari SMPN 4 Kalasan. Siswa tersebut telah tercantum sebagai daftar nominasi tetap (DNT) UN SMP 2015 sejak Februari 2015, namun akhirnya mengundurkan diri sekitar dua bulan sebelum UN berlangsung.

“Menurut informasi dari sekolah, siswa sudah tidak memiliki motivasi untuk belajar. Sudah ditangani pihak sekolahan, tapi tetap mengundurkan diri,” kata Ketua Kelompok Kerja (pokja) 15 Kalasan yang membawahi SMPN 4 Kalasan, Muji Rahayu, Senin (4/5/2015).

Secara nasional, nama siswa yang bersangkutan yang telah terdaftar dan tidak dapat dicoret. Pokja hanya dapat melaporkan kepada Disdikpora Sleman, Provinsi DIY, yang kemudian dilanjutkan ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Dengan berkurangnya satu peserta ujian, jumlah peserta keseluruhan di pokja 15 berjumlah 877, terdiri dari SMPN 1 Kalasan, SMPN 2 Kalasan, SMPN 3 Kalasan, SMPN 4 Kalasan, SMP Muhammadiyah 1 Kalasan, SMP Muhammadiyah 2 Kalasan, dan SMP Kanisius Kalasan. Tidak ada sekolah yang menggabung karena jumlah peserta ujian masing-masing lebih dari 20 peserta.

Menanggapi adanya siswa yang mengundurkan diri, Kepala Disdikpora Sleman, Arif Haryono menjelaskan, sebelum siswa memutuskan untuk keluar, sekolah sudah lebih dulu mengupayakan agar siswa tetap melanjutkan pendidikannya. Terlebih, proses pendidikan tinggal menyelesaikan UN. Namun karena siswa teguh untuk mengundurkan diri, sekolah juga tidak dapat berbuat apa-apa lagi.

“Sekolah sudah mengupayakan. Misalnya dengan bimbingan konseling. Tapi kalau memang anaknya dalam mengikuti kegiatan belajar sudah tidak mungkin bisa lagi ya sudah. Nanti bisa diarahkan ke program kesetaraan [paket B],” tutur Arif.

UN hari pertama di Sleman terbilang sukses. Sejak peserta ujian memasuki ruangan pada pukul 07.00 WIB hingga batas akhir pengerjaan soal pukul 09.30 WIB, tidak ada laporan yang masuk tentang naskah soal rusak maupun tidak terbaca. Para pengawas sudah meminta kepada peserta ujian terlebih dulu untuk memeriksa naskah soal sebelum mengerjakan.