FOTO PERAJIN : Kendang Mbah Mo Bertahan Melawan Zaman

04 Februari 2014 04:00 WIB News Share :

Mungkin laki-laki yang usianya sudah menginjak kepala enam ini layak dinobatkan sebagai tukang reparasi dan pembuat alat musik kendang tertua di Kulonprogo. Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Switzy Sabandar.

Di usianya yang beranjak senja, Mbah Mo, demikian Parmo akrab disapa, mempertahankan pekerjaannya yang digelutinya sejak belia, sekalipun terlihat menantang arus.

Dibilang melawan zaman, karena kian lama semakin minim orang yang memanfaatkan jasa Mbah Mo. Pelanggan tetap yang diandalkan mayoritas berasal dari kelompok kesenian. Jumlahnya mungkin banyak, tetapi mereka hanya datang ketika peralatan musik tabuhnya rusak. Dalam satu bulan terdapat tujuh kendang rusak yang membutuhkan perbaikan di bengkel reparasi yang berlokasi di Dusun Graulan, Kelurahan Giripeni, Kecamatan Wates, Kulonprogo.

Namun, hal itu tidak menyurutkan niat laki-laki yang sudah purna tugas dari pekerjaannya sebagai PNS di RRI Jogja untuk mempertahankan usaha warisan almarhum bapaknya. “Memperbaiki kendang menjadi satu-satunya kesibukan saya di masa pensiun ketimbang nglangut menunggu uang pensiunan,” ungkapnya beberapa waktu lalu.

Selain warisan berupa usaha reparasi kendang, keahlian Mbah Mo juga diturunkan dari bapaknya yang kala itu kondang dengan sebutan Sastro Ripiblik, sebagai pembuat kendang dan perangkat gamelan di Kota Binangun.

Parmo muda kerap membantu ayahnya membuat kendang. Memang, tidak langsung berwujud kendang utuh seperti sekarang, melainkan dimulai dari memasang tali janget atau pengatur nada kendang, membuat tebokan atau kulit tabuh, selongsong tubuh kendang, dan sebagainya. Ketrampilannya terasah sehingga ia mulai dapat menyetem atau mengatur nada kendang serta menghasilkan seperangkat alat gamelan.
Selain alasan menunggu waktu, laki-laki yang hidup sendirian sejak istrinya meninggal empat tahun silam ini merasa pekerjaannya bagian dari mempertahankan kebudayaan bangsa. Ia bercerita semasa usahanya masih dipegang oleh bapaknya, terdapat beberapa perajin kendang di Kecamatan Lendah dan Pengasih. Seiring berjalannya waktu, usaha-usaha tersebut gulung tikar karena tidak ada penerusnya.

Ia tidak menampik, saat ini terdapat banyak bengkel reparasi untuk partai besar. Maksudnya, tidak dikerjakan secara manual seperti yang ia lakukan. Tetapi, ia berkukuh untuk mempertahankan keberadaan usahanya, walaupun ia bekerja seorang diri tanpa dibantu siapapun.
Untuk reparasi kendang, bapak dari dua anak ini mematok biaya Rp180.000 hingga Rp450.000. Rata-rata persoalan kendang adalah pecah kulit, Kulit yang terkena air mengakibatkan rentan pecah saat dikencangkan. Sesekali ia juga melayani pembuatan kendang dengan pasaran di DIY sekitar Rp450.000 hingga Rp2 juta per unit. Hanya saja, pembuatan sebuah kendang memakan waktu hingga tiga bulan, sehingga tak banyak yang bisa ia produksi dalam satu tahun.

Kalau ditanya harapan, Mbah Mo masih menyimpan keinginan membuat pendapa yang dapat digunakan anak-anak berlatih gamelan. “Tapi yang terutama saya ingin ada salah satu dari anak saya meneruskan usaha ini,” tutupnya penuh harap.

Harian Jogja/Switzy Sabandar


Mbah Mo membuat kendang di rumah yang sekaligus berfungsi sebagai bengkel reparasi, beberapa waktu lalu.



Kendang Mbah Mo Bertahan Melawan Zaman



Mungkin laki-laki yang usianya sudah menginjak kepala enam ini layak dinobatkan sebagai tukang reparasi dan pembuat alat musik kendang tertua di Kulonprogo. Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Switzy Sabandar.



Di usianya yang beranjak senja, Mbah Mo, demikian Parmo akrab disapa, mempertahankan pekerjaannya yang digelutinya sejak belia, sekalipun terlihat menantang arus.


Dibilang melawan zaman, karena kian lama semakin minim orang yang memanfaatkan jasa Mbah Mo. Pelanggan tetap yang diandalkan mayoritas berasal dari kelompok kesenian. Jumlahnya mungkin banyak, tetapi mereka hanya datang ketika peralatan musik tabuhnya rusak. Dalam satu bulan terdapat tujuh kendang rusak yang membutuhkan perbaikan di bengkel reparasi yang berlokasi di Dusun Graulan, Kelurahan Giripeni, Kecamatan Wates, Kulonprogo.


Namun, hal itu tidak menyurutkan niat laki-laki yang sudah purna tugas dari pekerjaannya sebagai PNS di RRI Jogja untuk mempertahankan usaha warisan almarhum bapaknya. “Memperbaiki kendang menjadi satu-satunya kesibukan saya di masa pensiun ketimbang nglangut menunggu uang pensiunan,” ungkapnya beberapa waktu lalu.


Selain warisan berupa usaha reparasi kendang, keahlian Mbah Mo juga diturunkan dari bapaknya yang kala itu kondang dengan sebutan Sastro Ripiblik, sebagai pembuat kendang dan perangkat gamelan di Kota Binangun.


Parmo muda kerap membantu ayahnya membuat kendang. Memang, tidak langsung berwujud kendang utuh seperti sekarang, melainkan dimulai dari memasang tali janget atau pengatur nada kendang, membuat tebokan atau kulit tabuh, selongsong tubuh kendang, dan sebagainya. Ketrampilannya terasah sehingga ia mulai dapat menyetem atau mengatur nada kendang serta menghasilkan seperangkat alat gamelan.


Selain alasan menunggu waktu, laki-laki yang hidup sendirian sejak istrinya meninggal empat tahun silam ini merasa pekerjaannya bagian dari mempertahankan kebudayaan bangsa. Ia bercerita semasa usahanya masih dipegang oleh bapaknya, terdapat beberapa perajin kendang di Kecamatan Lendah dan Pengasih. Seiring berjalannya waktu, usaha-usaha tersebut gulung tikar karena tidak ada penerusnya.


Ia tidak menampik, saat ini terdapat banyak bengkel reparasi untuk partai besar. Maksudnya, tidak dikerjakan secara manual seperti yang ia lakukan. Tetapi, ia berkukuh untuk mempertahankan keberadaan usahanya, walaupun ia bekerja seorang diri tanpa dibantu siapapun.


Untuk reparasi kendang, bapak dari dua anak ini mematok biaya Rp180.000 hingga Rp450.000. Rata-rata persoalan kendang adalah pecah kulit, Kulit yang terkena air mengakibatkan rentan pecah saat dikencangkan. Sesekali ia juga melayani pembuatan kendang dengan pasaran di DIY sekitar Rp450.000 hingga Rp2 juta per unit. Hanya saja, pembuatan sebuah kendang memakan waktu hingga tiga bulan, sehingga tak banyak yang bisa ia produksi dalam satu tahun.


Kalau ditanya harapan, Mbah Mo masih menyimpan keinginan membuat pendapa yang dapat digunakan anak-anak berlatih gamelan. “Tapi yang terutama saya ingin ada salah satu dari anak saya meneruskan usaha ini,” tutupnya penuh harap.